AHOK FENOMENA INDONESIA

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

5-tokohJakarta,FN – Ahok menjadi trending topic di tengah pembicaraan masyarakat, baik di media cetak, elektronik dan dunia maya, berawal dari penolakan Ahok sebagai Cawagub DKI Jakarta oleh kaum islam sampai berujung penistaan agama.Bermula dari penistaan agama inilah masyarakat diseret dalam permasalahan Ahok, sehingga Ahok saat ini namanya semakin dikenal masyarakat dari tingkat golongan bawah sampai tingkat golongan atas masyarakat Indonesia, tak sedikit yang menyatakan dukungan, tak sedikit juga yang setuju agar Ahok diproses secara hukum.

Demo yang diadakan oleh umat islam 4 November yang lalu menuntut Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) diproses secara hukum dengan tuduhan penistaan agama begitu  menyita perhatian publik, tak terkecuali kaum selebriti tanah air dan bermunculan tanggapan tokoh tokoh islam, baik di tingkat daerah dan ditingkat nasional.Komentar pro dan kontra terkait aksi demo hingga pemeriksaan Ahok oleh Bareskrim Mabes Polri bertebaran di media sosial.

Opini Publik semakin marak, satu sama lain mempertahankan argumennya, dan hanya satu dua yang memilih jalan tengah untuk mendinginkan suasana, mereka  terus  mengemukan argumentasinya, baik di media cetak maupun di dunia maya.Msalnya seperti yang disampaikan oleh ulama sesepuh KH.Maimun Zubair dalam wawancara dengan awak media beberapa waktu lalu.

“Dia (Ahok) itu kan telah mohon maaf, jadi janganlah dibesar-besarkan. Hingga apabila amarah bisa diredam jadi persatuan dapat juga dijaga.Terlebih Ahok telah mohon maaf dengan cara terbuka di muka umum. Pihaknya juga memohon supaya umat Islam tidak lagi terpecah iris serta membesar-besarkan permasalahan ini.”tuturnya.

Menurutnya, “Di Sarang masjid saya itu hanya satu masjid yang berkhaskan Belitung. Oleh karenanya, ketidaksamaan itu janganlah dibesar-besarkan. Hingga kita dapat hidup rukun. Yang utama kita umat Islam itu hablum minallah mesti dikuatkan, serta hablumminannas mesti senantiasa dijaga dengan baik, ” harapnya.

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Syafi’i Ma’arif atau biasa disapa Buya Syafi’i juga menjelaskan, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok tidak melakukan penghinaan terhadap Al-Qur’an saat kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.”Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu,” kata Buya Syafi’i dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (7/11/2016).

DARWIS MASZAR Politisi Madura dan mantan anggota DPRD Jawa Timur dari Fraksi PKB ini memberikan komentarnya “Opini Ahok banyak pihak yang bermain, meliputi 3 sekelompok besar, yakni Ummat Islam/Ulama karenanya keterpanggilannya demi membela kesucian alqur’an dan kebenaran Islam secara utuh(menyeluruh) serta untuk menjaga marwah dan keutuhan keimanan ummat Islam. Kelompok kedua, para pihak yang memiliki kepentingan dalam pelaksanaan Pilkada DKI, baik dari pihak Ahok maupun pihak lainnya. Kelompok ketiga, para pihak yang ingin menggerus kekuatan ummat Islam yang dilancarkan oleh Yahudi dan Nasrani,”kata lelaki kelahiran Sumenep Madura ini.

“ Menurut saya, Ahok memang patut diduga melecehkan (menghina) Islam, antara lain 1.Kebenaran Al-Qur’an dikatakan bisa dimasukan alat pembohong  2.Ulama/santri/ummat Islam dihina sebagai pihak yang suka membohongi ummat/saudara seiman 3.Ummat Islam dihina suka memperalat kitab Sucinya untuk membohongi saudara seiman.4.Ummat Islam diadu domba dan dicekoki untuk saling bermusuhan. 5.Ahok secara sengaja ingin mengadu domba ummat beragama dalam koridor NKRI.”Katanya menambahkan.

IMAM BUHARI pejabat Setda Pemkab Kabupaten Sumenep dan Pengagum Gus Dur ini, menanggapinya dengan santai “Saya tidak melihat semangat permusuhan yang diperlihatkan Ahok pada Islam, namun bukan ruang Ahok turut memperbincangan makna Al-Qur-an. Meskipun demikian juga tidak sereaktif ini seharusnya menanggapinya. Apalagi dihangatkan dalam suasana Pilkada, tampaknya kurang bijak.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) juga menyayangkan dan berkomenntar demonstrasi 4 November yang lalu yang berujung bentrok, kata Kang Said, harusnya sarana untuk menyampaikan aspirasi secara tertib dan damai.

“Bentrokan begini yang kita sayangkan, kita khawatirkan, dan kita takutkan. Ternyata kejadian juga,” kata Kang Said yang dilansir NU Online di kediamannya di Pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS), Kempek, Cirebon, Jumat (4/11) malam.”Itulah kenapa PBNU tidak memperkenankan nahdliyin turun berdemonstrasi di lapangan.Semestinya, peserta demonstrasi segera membubarkan diri setelah aspirasi mereka direspon pemerintah.

NU sebagai ormas terbesar di negeri ini banyak kalangan menilai fasif untuk menanggapi persoalan yang berkaitan dengan Ahok, bahkan Nusron Wahid Ketua Umum Anshor terang terangan membela Ahok. Ada juga menafsirkan, NU lebih condong membela kepada pihak Ahok. Padahal organisasi tertinggi MUI yang mempunyai legalitas di negeri ini, mengeluarkan fatwanya dan memberikan penilaian atas pernyataan yang diungkapkan oleh Gubernur non-aktif Basuki Thahaja Purnama (Ahok) merupakan bentuk penghinaan terhadap Alquran dan agama Islam MUI pun mengimbau kepada pemerintah melalui penegak hukum khususnya terhadap Ahok agar tidak menganggap remeh permasalahan penistaan agama tersebut. MUI meminta penegak hukum untuk melakukan tugasnya secara adil dan transparan dalam mengusut kasus tersebut.

Dikatakan oleh Ketua Dewan Pertimbangan MUI, Din Syamsuddin penilaian tersebut dipertimbangkan berdasarkan ilmu ilmiah dan agama dan ini jelas mencederai umat Islam.”

Moh.Farid Naqib seorang pejabat Pemkab Bojonegoro ketika dimintai tanggapannya menjawab  “Saya percaya sama MUI dan video-video Ahok sebelumnya yang saya lihat memang cenderung melecehkan Islam,”

Namun ketika ditanya apakah Ahok bisa lolos dari jeratan hukum, dia menjawabnya “Maaf saya gak bisa berandai andai.”

Sementara Buya Syafi’I malah menanggapi jauh berbeda dengan Fatwa MUI.”Semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab,Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu gak bisa pilih saya, karena dibohongin pakai Surat Al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya. Perhatikan, apa terdapat penghinaan Al-Qur’an? Hanya otak sakit saja yang kesimpulan begitu,” kata Buya Syafi’I .

Darwies Maszar  ( teman Bupati Bojonegoro ini : Redaksi)loyalitas dan  NU tulen itu langsung mengupas anggapan miring terhadap NU.“ Sejak didirikan sikap dan pendapat tokoh NU memang tidak sama. Bergabungnya para tokoh yang beragam dalam pandangan kehidupan dunia, terutama mu’amalah. Pengikat kebersamaannya pada aqidah dan metodologi pemahaman(manhaj).Misinya sama mempertahankan Aqidah Islam As wajah. Cara pandang, strategi dan langkah taktisnya berbeda-beda, ummat dijamin tidak akan bingung, sebab Ulama NU punya ummat sendiri-sendiri. Hal-hal yang menyangkut aqidah pasti bersatu padu, semua ada saatnya.”

Ditambahkannya, Islam adalah agama rahmatan lil a‘lamin, kaum nahdiyin menjaga keutuhan bangsa, apabila NU memberikan fatwanya atasnama Organisasi NU (bukan secara personal :redaksi), itu murni untuk menyelamatkan bangsa Indonesia sesuai amanat Pendiri NKRI ini, sulit  dibayangkan jika ulama NU menyerukan kepada kaum nahdiyin.”Anda tahu, berapa jumlah warga NU di negeri ini kan ?!”

Perbedaan beberapa tokoh agama dan tokoh masyarakat diatas, tentunya membawa nampak yang signifikan terhadap masyarakat dibawah, diakui tidak diakui masyarakat merasa  kebingungan.Akan tetapi begitulah realita yang harus kita terima. sebagai warga Indonesia, walau berbeda namun kita tetap sama, satu tujuan yaitu mempertahankan  NKRI sampai titik darah penghabisan. (Mimbar R/WNK)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *