Bos Pasar Turi Tak Berkutik Mendengar Keterangam saksi Yang dihadirkan JPU

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Saksi Ane Tandio dan Yudi Afian Tedja saat bersaksi di Pegadila Negeri Surabaya, 13/11/dok. Forum Nusantara (Junaedi)

SURABAYA (FN) – Henry J Gunawan,terdakwa kasus penipun dan penggelapan obyek SHGB no 66 makin terpojok setelah Jaksa penuntut Umum Ali Prakoso hadirkan Empat (4) orang Saksi Kunci terkait peristiwa hukum yang mengakibatkan bos Pasar Turi tersebut duduk dikursi Pesakitan Pengadilan Negeri Surabaya, Senin,(13/11).

Ke Empat saksi itu ialah, Yudi Afian Tedja, Ane Tandio dan Raja Sirait anak buah terdakwa yang pernah diposisikan untuk menduduki jabatan sebagai direktur di PT. Gala bumi perkasa (GBP). Serta Hengky Budi yang diketahui sebagai Notaris.

Menurut Ali, Bahwa Henry secara tidak langsung telah mentransaksikan obyek SHGB No 66 dengan cara ilegal, yakni dengan cara menjual obyek tersebut lebih dari satu kali kepada dua orang berbeda, yang pertama ialah mengalihkan atau menjual obyek SHGB No 66 kepada Hermanto melalui tangan Raja Sirait, lalu setelah itu obyek SHGB tersebut oleh Henry dijual kembali pada saksi Yudi Alfian Tedja dan Ane Tandio pada 2 Mei tahun 2016.

” Jadi setelah Raja Sirait menjual obyek itu (SHGB 66,red) pada Hermanto, obyek tersebut dijual kembali oleh Terdakwa pada Yudi dan Ane” Jelasnya.

Ada Tiga orang kata Ali, mereka join (Kongsi) untuk membeli obyek SHGB 66 itu, mereka membeli pada Terdakwa Henry langsung. Tiga orang itu Yudi, Ane dan Iwan Kurniawan karena ada keperluan, Saksi Iwan belum bisa Hadir dalam persidangan ini” imbuh Ali.

Dalam keterangannya saksi Yudi menjelaskan bahwa ia ditawari obyek SHGB No 66 oleh seorang bernama Budi, karena berminat ia sepakat untuk membeli obyek tanah seluas 1.934 M2 itu.

” saya minat lalu saya diketemukan dengan Henry, saya janjian ketemu dikantornya di Jl Putat Surabaya” terang saksi.

” Dia (Henry,red) minta 10,5 Miliar bersih tanpa PPN, setelah itu Henry menunjuk notaris Hengky untuk cek keabsahan surat” imbuhnya.

Menurut Yudi, saat melakukan perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) Semuanya hadir di kantor Notaris Hengky, termasuk Henry hanya saja waktu itu, Iwan tidak bisa hadir karena ada kepentingan, namun Yudi mengaku telah mendapat surat kuasa dari Iwan untuk mewakilinya membuat perjanjian.

” Saat menjual Henry tidak pernah memberi tahu pada saya kalau tanah tersebut sebelumnya telah dijual pada Hermanto.” Ujar Saksi menjawab pertanyaan JPU Ali Prakoso.

Saksi juga menjelaskan bahwa Dalam akte perjanjian Pengikatan jual beli Nomer 3 dan Akte Kuasa Jual Nomer 4 yang dibuat dihadapan notaris Hengky itu, terdakwa Henry disebutkan menjabat sebagai Direktur di PT GBP.

Atas Keterangan dari saksi Yudi, Henry sama sekali tidak membantah, begitu pula dua saksi lainnya, Ane dan Notaris Hengky juga turut membenarkan.

Berbeda halnya dengan keterangan yang diberikan oleh Saksi Raja Sirait ia memberikan jawaban Plin Plan saat ia ditanya oleh JPU, Sirait mengaku tidak mengenal Hermanto melainkan hanya mengenal Heng Hoek Swie Alias Aswie ( Bos PT Siantar Top).

Sirait juga berdalih, bahwa terkait perjanjian yang tertuang dalam akte PPJB Nomer 5 dan Akte kuasa jual Nomer 6 yang sibuat dihadapan notaris Caroline C Kalampung adalah perjanjian kerjasama dengan Aswie

” saya tanyakan pada Yuli, staf legal PT GBP katanya ada perjanjian kerjasama, antara GBP dengan Aswie “ujar Sirait.

Mendengar jawaban Saksi, JPU langsung membantah ” Loh saksi kan yang menandatangni akte perjanjian, kok malah tanya sama staf” ujarnya.

Disinggung terkait kerjasama apa yang di maksud, saksi Raja Sirait makin plin Plan menjawab Pertanyaan JPU.

“Kita sering melakukan kerjasama dengan Aswie Bisa jadi dibuat hotel, kondominium atau rumah sakit ” jawabnya

Ditegaskan lagi oleh JPU, Saudara saksi tau itu kerjasama dibidang apa?? , saksi menjawab ” ya kerja sama ” lalu disambut tertawaan pengunjung sidang.

Mendengar jawaban saksi yang plin Plan JPU Ali langsung naik pitam

” Tidak tau bidang kerjasamanya,kok tanda tangan perjanjian, ingat Saudara saksi sudah disumpah ” tegas Ali prakosa.

Untuk membuktikan keterangan yang plin plan itu, Jaksa akhirnya menunjukan bukti dokumen perjanjian PPJB dan Pengalihan Kuasa pada saksi Raja Sirait. Atas bukti itulah Raja Sirait akhirnya mengakui telah mendantangani PPJB dan kuasa pengalihanya.

“Iya, itu tanda tangan saya,”jawab Raja Sirait saat ditunjukan bukti tersebut.

Terdakwa Henry pun tak membantah keterangan Raja Sirait,”iya benar,”ucap terdakwa Henry saat dikonflotir oleh hakim Unggul.

Persidangan perkara ini akan kembali digelar satu pekan mendatang dengan agenda keterangan saksi ferbal lisan (penyidik).

Terungkap dalam sidang sebelumnya, SHGB No 66 yang saat itu dipegang oleh Notaris Caroline C Kalampung untuk dilakukan administrasi proses balik nama, dari yang semula beratas nama Sutanto menjadi Hermanto.

Perubahan atas nama itu didasarkan jual beli antara Hermanto dengan Raja Sirait sesuai akte PPJB No 5 dan akte kuasa jual No 6 yang dibuat oleh notaris Caroline dengan kesepakatan harga sebesar 4,5 miliar.

Namun SHGB tersebut keburu dibawa oleh Yuli dengan dalih dipinjam sementara untuk dilakukan pengurusan perpanjangan SHGB.

Yuli sendiri diketahui menjabat sebagai legal di perusahaan di PT. GBP.

Nah, karena SHGB itu belum dibalik nama menjadi atas nama Hermanto , pihak GBP ternyata memanfaatkan kesempatan itu untuk membalik nama menjadi atas nama PT GBP, pihak GBP lalu menjual kembali SHGB No 66 itu kepada Yudi dkk.dengan harga 10,5 miliar.@junaedi


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *