Dijemput Paksa Mabes Polri, Perkara Henry Disebut Pembunuhan Karakter

oleh

SURABAYA, (FN news.com) — Penjemputan Paksa penyidik Mabes Polri terhadap Henry J Gunawan, di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada (8/8/18) lalu, adalah tindakan pembunuhan Karakter.

Baca juga: Kasus Henry J Gunawan, jaksa fokus peristiwa hukumnya

Hal itu dikatakan Agus Dwi Warsono, Kuasa Hukum Henry J Gunawan. Menurutnya, tindakan itu dilakukan hanya untuk menimbulkan opini negatif “effct Damage” secara luas pada Henry.

” Jelas ini opini jahat untuk bunuh karakter Henry jelang putusan pasar Turi, dengan tujuan untuk mempengaruhi alam pikiran dan nurani Majelis Hakim, agar nantinya putusan terhadap klien saya dianggap bersalah ” kata Agus, Minggu (12/8/18).

Henry Jacosity Gunawan/net. FN news.com

Kendati demikian, pihaknya optimis bahwa Majelis Hakim yang menangani perkara ini tidak akan terpengaruh, dan akan memutuskan perkara berdasarkan fakta persidangan.

” Kami yakin Majelis Hakim yang diketuai Rochmat tidak akan terpengaruh, dan akan memberikan putusan adil dan benar berdasarkan fakta persidangan serta alat bukti yang sah dalam persidangan.” Ujarnya.

Baca juga: Gugatan perdata kandas! Kasus pidana Cen Liang makin diujung tanduk

Sampai detik ini pihaknya bertanya-tanya terkait Penjemputan Paksa yang dilakukan penyidik Mabes Polri pada terdakwa Henry, Ia menduga ada urgensi dan motivasi tahap II yang dilaksanakan menjelang putusan perkara pasar Turi.

” Yang jelas saya selaku Tim Penasehat Hukum yakin bahwa fakta-fakta dan alat bukti yang sah terungkap dipersidangan serta menunjukkan Dakwaan Jaksa terhadap Henry tidak benar dan tidak terbukti.” Imbuhnya.

Menurut Agus, Henry akan menghadiri panggilan tahap dua (II) pada tanggal 7 September 2018. Hal itu kata Agus, sesuai dengan apa yang telah ditandatangani oleh Prof. Yusril Ihza Mahendra.

” Padahal Prof. Yusril sudah menandatangani surat panggilan ke 2 dan disitu disebutkan pak Henry akan hadir pada tanggal 7-September 2018.” bebernya.

Dijelaskan Agus, perkara yang membelit Henry kali ini murni adalah perkara perdata. Hal tersebut dapat dibuktikan melalui putusan Kasasi Mahkamah Agung (MA) Nomor 1240 yang dapat diakses oleh semua pihak melalui situs resmi Mahkamah Agung.

” Perkara ini sebenarnya perkara perdata, antara PT.Graha Nandi Sampoerna dan PT. Gala Bumi Perkasa, Kasasi PT.GBP menang, dan bisa di Download hasil Putusan Mahkamah Agung, put.Kasasi No.1240 (Pt.GNS vs PT.GBP), tapi masalah ini dibawa ke ranah pidana padahal ini jelas perkara Perdata,” pungkasnya.@Jn


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *