Menu Click to open Menus
Home » Daerah » DOA BERSAMA MENYAMBUT HARI JADI KOTA BOJONEGORO DI PETILASAN PRABU ANGLING DARMA

DOA BERSAMA MENYAMBUT HARI JADI KOTA BOJONEGORO DI PETILASAN PRABU ANGLING DARMA

(837 Views) Oktober 27, 2016 3:41 pm | Published by | No comment

20161015_172443 20161015_170511Bojonegoro, FB :Pada umumnya, masyarakat Jawa Timur sangat meyakini kalau Prabu Anglingdarma memang menjadi tokoh cikal bakal berdirinya Kota Bojonegoro yang kala itu bernama “Bojanagara”. Di Desa Wotangare, Kalitidu-Bojonegoro itulah jejak (petilasan) Anglingdarma berada. Dibuktikan adanya peninggalan yang tertimbun di tanah pesawahan rakyat, seperti bekas batu merah yang konon adalah bekas tertutupnya keraton kerajaan Anglingdarma pada beberapa ratus tahun yang lalu.Dan dimantapkan dengan sambutan camat Kalitidu Nanik  Lusetiyani ketika diadakannya acara bancaan kirim doa kepada Almarhum Prabu Anglingdarma sabtu 14/10/16, untuk menyambut hari jadi kota Bojonegoro.

Petilasan atau jejak peninggalan Prabu Anglingdarma itu berada di tengah-tengah area persawahan milik warga Desa Wotangare. Letak Petilasan dari kota Bojonegoro kurang lebihnya 17 km, setibanya di perempatan jalan raya sebelah timur kantor kecamatan Kalitidu, tepatnya dari perempatan jalan sekitar 5 km ke selatan.Dan di Kantor Balai Desa Wotangare kurang lebihnya 2 km menuju ke arah timur.

Jalan menuju padepokan di mana petilasan berada masih dalam tahap pembangunan. Jalan itu merupakan jalan pematang sawah namun ukurannya sudah diperlebar.Atas kesadaran para warga setempat, merelakan sebagian bibir sawahnya diambil kurang lebih satu meter sebagai pelebaran jalan menuju petilasan. Persis di depan padepokan, Anda akan melihat dua gapura yang ukurannya cukup besar. Persis di depan gapura masuk padepokan terlihat hamparan persawahan milik warga.Untuk sementara  Padepokan ini nyaris tak memiliki halaman parkir kendaraan, konon dua petak sawah milik warga sudah diprogramkan untuk pembebasan tanah seluas 500 meter persegi, dimana nantinya sebagai tempat parkir, baik kendaraan roda 2 maupun kendaraan roda 4.

“Insya Allah  tahun 2017 pekerjaannnya sudah dimulai,”kata Camat Kalitidu dengan ramah kepada FN sebelum acara dimulai.

Walaupun pada umumnya, sebuah petilasan atau jejak meninggalkan benda-benda purbakala berupa arca, batuan purbakala atau bahkan sebuah candi. Namun berbeda dengan petilasan Anglingdarma ini. Hanya potongan-potongan batu bata kuno saja yang bias ditemui di dalam kelambu . Berdasarkan cerita Pak Abdul Karim yang dia dengar dari nenek moyangnya terdahulu,bahwa petilasan hanyalah tempat (jejak) Prabu Anglingdarma bertapa, beliau adalah seorang raja yang bukan saja gagah berani dan sanggup menaklukkan musuh-musuhnya dengan mudah. Beliau juga memiliki kesaktian yang unik yakni mengerti perkataan hewan. “Saya baru empat tahunan jadi juru kunci petilasan ini, ditunjuk langsung oleh bapak Bupati Suyoto,:paparnya dengan senang hati.

Jam 16.00 wib acara khaul dimulai, pada mulanya rencana untuk memeriahkan acara khaul akan dihadiri Wakil Bupati Bojonegoro dan Pejabat teras lainnya dari Pemkab Bojonegoro, namun menurut sumber berita dari staf kecamatan Kalitidu yang diperoleh FN karena berbenturan waktu dengan wilayah lainnya, tidak dapat menghadirinya, akhirnya acara dimulai, walaupun pada pembukaan acara, pembawa acara salah mengucapkan nama camat Kalitidu, dengan nama oranglain sehingga mengundang tawa para hadirin, namun acara tetap berjalan cukup hikmat.Imam tahlil dipimpin oleh Abdur Karim juru kunci Petilasan Anglingdarma, dan sambutan pertama dibuka oleh Kepala Desa Rotangare sebagai tuan rumah.

Dihadiri oleh 24 Kepala Desa sekecamatan Kalitidu, dan seluruh Muspika Kecamatan Kalitidu.Walaupun Nanik  Lusetiyani bukanlah satu satunya camat perempuan di Kabupaten Bojonegoro, rupanya kehadirannya sebagai camat Kalitidu sangat dibanggakan oleh warga Kecamatan Kalitidu, penyambutan warga Kalitidu sangat antusias. “Sudah seharusnya kita bangga dengan adanya peninggalan Petilasan Prabu Anglingdarma, karena petilasan ini sudah diakui dunia, dan sebagai salah satu situs wisata dunia “,katanya berapi api dalam sambutannya.

Diceritakan lebih luas oleh Nanik  Lusetiyani kalau Prabu Anglingdarma itu masih cucu keturunan Raja Jayabaya, seorang raja yang sangat terkenal dengan ramalannya itu. Jayabaya pernah memerintah Kerajaan Kadiri (Kediri) di Jawa Timur. Dengan “aji ginengnya” itu, beliau sanggup mengerti pembicaraan hewan.

“ Jejak peninggalan beliau memang nyaris tak ada,dan hanya berupa beberapa potongan bata purbakala yang terletak di tengah area persawahan warga Desa Wotangare.”Kita akui dan yakini beliau adalah pahlawan Bangsa Indonesia. Dan namanya sudah termashur di seluruh dunia.”

Acara diakhiri dengan pembacaan doa sebagai penutup, kemudian berfoto bersama seluruh Kades dan Muspika Kalitidu di depan gapura Petilasan Prabu Anglingdarma.(Ajas)


Categorised in: ,

No comment for DOA BERSAMA MENYAMBUT HARI JADI KOTA BOJONEGORO DI PETILASAN PRABU ANGLING DARMA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *