Emrus : Airlangga Hartarto dan Titiek Soeharto Bisa Balon Kuat Ketum Golkar

oleh
Dr. Emrua Sihombing

JAKARTA, FN.COM

Merujuk pada berita dakwaan terhadap SN yang dibacakan jaksa di pengadilan tipikor petang ini, tampaknya partai Golkar semakin percaya diri untuk segera melakukan Munaslub.

Era SN tampaknya hanya menunggu waktu. Di pengadilan tipikor pun, SN hanya bisa menunduk sebagai simbol tak berdaya. Loyalis SN pun bisa saja meninggalkannya, sebagai wujud perilaku politik prakmatis.

Bila benar dilakukan Munaslub, maka energi politik di internal Golkar dipastikan bermuara pada sosok yang diusung sebagai balon Ketum Golkar. Sudah banyak tokoh yang muncul ke permukaan.

Di antara sejumlah tokoh tersebut, ada dua sosok yang makin mengkristal yaitu Airlangga Hartarto dan Titiek Soeharto.

Kedua balon Ketum ini, menurut saya, akan dapat menghidupkan demokrasi di Munaslub Golkar yang mungkin dilakukan dalam waktu dekat ke depan.

Airlangga Hartarto, sosok yang mampu merangkul semua faksi, terutama antar faksi yang relatif “berseberangan” selama ini. Dia dapat melakukan komunikasi politik dengan pemerintah dan mempunyai akses ke semua DPD Golkar di seluruh Indonesia.

Ia juga tidak pernah punya catatan buruk yang terkait dengan lembaga penegakan hukum. Ia pun tidak berada pada salah satu kelompok yang “berkonflik” di tubuh Gokar. Karena itu, ia bisa membangun soliditas dan membawa Golkar ke era baru, yaitu era Golkar bersih. Selain itu, ia dapat melanjutkan komitmen Golkar mengusung Jokowi pada Pemilu 2019.

Sedangkan Titiek Soeharto, sosok yang tampaknya dirindukan oleh sebagian kader Golkar sebagai representasi ayahnya, Soeharto, yang pernah membawa kejayaan partai ini puluhan tahun masa Orba. Nostalgia kejayaan tersebut bisa saja kerinduan yang ditunggu-tunggu oleh sebagian kader Golkar.

Namun, harus diakui bahwa kekuatan pengaruh Titiek Soeharto tidak sebanding dengan ayahnya. Selain orde sudah berubah dari sentralistik ke era reformasi yang ditandai dengan nilai-nilai demokrasi substansial, saat ini Titiek Soeharto tidak berada di sentra kekuasaan.

Realitas politik menunjukkan, Golkar tidak pernah mengambil posisi di luar pusat kekuasaan pemerintah. Tentu sikap dan posisi berada di pusat kekuasaan tidak sekedar hanya untuk mendapat kursi di kabinet, tetapi berdasarkan kepentingan politik Golkar yang lebih luas.

Selain itu, jika Golkar dipimpin oleh Titiek Soeharto pasca SN, tidak ada jaminan bahwa Golkar tetap melanjutkan komitmemnya akan mengusung Jokowi pada pemilu 2019 mendatang. Bisa saja memutar haluan ke paslon lain pada Pilpres 2019.

Untuk itu, bila Titiek Soeharto ingin memenangkan Ketum Golkar pasca SN, ia harus mampu mendekati dan meyakinkan kekuatan-kekutan politik baik dari internal maupun dari eksternal Golkar, bahwa arah politik Golkar ke depan tidak berbalik.

Oleh sebab itu, balon yang mampu menyatukan kekuatan politik dari internal dan eksternal Golkar, secara hipotetis, akan dapat memenangkan pertarungan merebut “Golkar Satu”.

Penulis : Emrus Sihombing
Direktur Eksekutif , EmrusCorner


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *