“Esensi Lampung Fair Tercoreng”

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

LAMPUNG, FN.COM

Lampung fair (LF) adalah pameran dan pertunjukan dari tiap-tiap Kabupaten/Kota yang bertujuan menunjukkan potensi dan prestasi hasil kreasi dan inovasinya. Akan tetapi image Lampung Fair kali ini telah direndahkan. Sebab, LF tidak sesuai tujuan dan fungsinya.

Penempatkan kebudayaan asli dan kebudayaan pendatang diporsikan pada event yang seharusnya di isi dengan materi kebudayaan asli Lampung, sekarang malahan di isi dengan materi kebudayaan pendatang.

Apakah Kebudayaan Asli Lampung tidak ada? Atau apakah karna dasarnya bahwa kebudayaan pendatang lebih Eksis jadi dijadikan materi pada event yang seharusnya wajib di isi oleh materi asli kebudayaan Lampung????

Atau bisa jadi sudah menjadi bahan propaganda atau alat politik untuk kepentingan segelintir orang. Selain itu, Apakah ini politik seni? Atau seni politik? Bukannya pemerintah telah mencanangkan konsep pelestarian dan pengembangan budaya lokal?

Dimana cara berpikir sehingga sampai hati, merendahkan kebudayaan asli Lampung untuk kebudayaan pendatang? Atau hanya kebutuhan proyek semata? Sangat kapitalis sekali kalau orientasinya begitu.

Sebagai contoh saja, coba kita berkaca pada kota budaya yaitu Jogja, jogja banyak pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia dan menampilkan kebudayaan masing-masing daerah tersebut pada porsi event tertentu bukan pada event khas daerah. Seperti Event Sekaten yang menyajikan pertunjukan asli budaya lokal jogja, seperti gejog lesung, Gamelan dll.

Tapi ada juga event yang diselenggarakan dan isi materinya adalah budaya pendatang yang diporsikan pada event di serangan umum 1 Maret.
Artinya kita sebagai penyelenggara harus sadar diri, sadar posisi, dan sadar potensi. Bukannya mengikuti intervensi dari berbagai pihak untuk mengikuti egois semata.

Akhirnya begini, Lampungku Malang, Lampungku Cadang.

Erizal Barnawi, M. Sn.
emkoordinator adat budaya
Gamolan Institut Lampung.

Dengan pemikiran yg sama, ketua gamolan intisutute novel sanggem mengatakan. Pelestarian, pengembangan dan perlindungan kebudayaan selayaknya berada di wilayah daerah setempat.

Jika agenda yang sudah menempatkan dalam ranah kedaerahan lampung, selayaknya yang diutamakan adalah kebudayaan lampung, seperti pepatah. Dimana langit dipijak disitu bumi dijunjung


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *