GARA-GARA tanya UANG Biaya Operasional Kesehatan Pegawai ini di mutasi.

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Layanan kesehatan masyarakat Puskesmas Sememi Surabaya/dok.fn

SURABAYA (FN), Sonya (47) (nama samaran) kaget bukan kepalang setelah tahu dirinya ditolak untuk finger print (absensi) di tempat ia bekerja yakni puskesmas sememi, Surabaya.

Penolakan absen itu ia ketahui semenjak tanggal 24 Oktober 2107, lalu.

Menurut Sonya, ia tidak habis pikir akan penyebab dirinya tidak bisa melakukan absen, karena selama bekerja. menurutnya ia selama ini telah bekerja dengan baik dan selalu menjalankan tugas dengan benar.

Ia pun makin kaget karena tiba-tiba mendapat surat mutasi dari kepala Dinas kesehatan kota Surabaya.

” tiba-tiba ada perintah dari kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya bahwa Saya dipindah tugaskan ke Puskesmas lain ” ujarnya pada awasnews.com,Selasa,(07/11/17).

Bidan senior yang tercatat sebagai warga Pondok Benowo Indah ini menyoal akan perintah mutasi yang ia terima, pasalnya, perintah mutasi itu tidak disertai dengan prosedur dan formalitas yang jelas.” Padahal Surat perintah mutasi belum saya kantongi” imbuhnya.

Usaha Sonya untuk mendapat keterangan resmi pada atasannya terkait perintah pindah tugas itu juga menemui jalan buntu, karena Atasan yang masih satu kantor itu selalu beralasan sedang sibuk mengerjakan tugas diluar.

Ada apa dibalik mutasi ini ? ..

Dugaan sementara, hal ini dikarenakan sikap kritis Sonya yang selalu menanyakan kesejahteraan para Bidan kepada Bidan Kelurahan (Bikel), terkait hak kesejahteraan yang sepatutnya diterima karena sering menjalankan tugas luar.

Bidan yang dimaksud adalah Bidan outsoursing Puskesmas Sememi, karena merasa sudah senior, Sonya peduli dengan bidan tersebut dan sangat tahu berapa honor mereka yang harus didapatkan yang selama ini di ambil dari dana Biaya Operasional Kesehatan (BOK).

Sumber dana BOK tersebut adalah berasal dari APBN, penggunaannya untuk mencukupi tenaga kesehatan dan kader-kadernya, karena merasa ada yang janggal sonya mempertanyakan hal itu kepada para Bikel.

Belum sempat berbincang lama dengan para Bikel, dengan cepat berita ini terdengar oleh kepala Puskesmas dr Lolita, tidak sampai hitungan minggu sonya mendapat kabar bahwa dirinya di mutasi ke Puskesmas yang jauh dari tempat tinggal nya.

karena merasa tidak melakukan kesalahan sonya menghadap kepada kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya dr feny, tapi lagi-lagi hanya menambah penderitaan karena dr Feny tidak mau bertemu dengan sonya.

“Benarkah seperti yang mereka lakukan kepada Bawahannya yang semena – mena, apa tidak ada hak jawab untuk bawahan kepada atasan demi memperjelas permasalahan, seharusnya beliau-beliau ini dewasa mempersilakan saya untuk bertemu dan mempertanyakan masalah ini” ungkapnya.

Sonya menambahkan sebenarnya dr feny serta dr lolita sudah tahu bahwa dirinya tidak bisa berkenderaan lebih dari 5Km dikarenakan ia menderita penyakit asma akut.

” ini bukan pembinaan untuk saya tapi sebaliknya, ini adalah hukuman buat saya. supaya tidak bisa lagi bekerja di puskesmas yang beliau tunjuk” keluhnya.

” Saya akan berupaya terus untuk meminta keadilan kepada pejabat yang paling tinggi karena saya bukan pegawai yang korup yang tiba-tiba harus menerima hukuman, apapun yang terjadi dengan diri saya akan saya terima meskipun dipecat sekalipun asalkan saya bisa Bongkar kecurangan Dana BOK yang ada di Puskesmas ini, ” terangnya menambahkan.

Terpisah, Kepala Puskesmas sememi dr lolita mengatakan bahwa terkait pembinaan pegawai tersebut adalah kewenangan dari Dinas Kesehatan Kota.

” saya sebagai kepala Puskesmas tidak bisa berbuat apa-apa, tugas saya hanya mengawasi bawahan bekerja, sedangkan laporan para pegawai di sini semuanya langsung ke Dinas Kesehatan Kota,” ujarnya saat dihubungi lewat telpon oleh wartawan.
(Man)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *