HAJAT RIBUAN MASYARAKAT DIKABULKAN, HUJAN TURUN SETELAH PENGAJIAN AKBAR USAI

oleh
Pak Rusman Yang menghadirkan Pawang Hujan
Pak Rusman Yang menghadirkan Pawang Hujan

Blora, Forumnusantaranews : Banyak yang mencemaskan pada malam puncak (Selasa, 30/01/2018) pengajian akbar di Tuk Buntung Cepu Simpang Tujuh,  derasnya turun hujan akan membasahi kota Cepu dan sekitarnya,  pasalnya diawal permulaan dibeberapa titik hujan mulai turun.Dari hasil pantauan kami sejak magrib rintik rintik hujan tidak mau terhenti sama sekali.Dan pada saat itu, tepatnya selesai sholat magrib, terpaksa saya  urung hadir pada undangan acara temu makan makan,  bersama  panitia Pengajian Akbar di gedung Ikatan Pemberangkatan Haji Indonesia (IPHI) Cepu.

Pada jam 19.00 WIB dini hari, rupanya tidak ada tanda tanda gerimis hujan akan terhenti. Akhirnya saya tetap memutuskan berangkat, menembus hujan yang sepertinya semakin deras, melaksanakan tugas kewajiban untuk meliput dan sekaligus menyaksikan penceramah kondang KH.Anwar Zaid.

Dan anehnya ketika perjalanan saya mendekati Tuk Buntung hujan mulai reda, hanya terasa sedikit rintik rintik.Bahkan sampai pengajian mulai dan sampai KH.Anwar Zaid memulai tausyiahnya gerimis hujan tidak terasa turun lagi.Namun sekitar separuh tausiah berlangsung hujan tiba tiba turun, dan itupun tidak berlansung lama, mungkin tidak kurang dari satu menit.Hujanpun reda sampai pengajian berakhir.

Menurut Drs.Haji Joko Sutrisno selaku panitia, ketika ditemui di ruang kerjanya SMPN I Purwosari Bojonegoro, senin 29/01/2018 bahwa pada rencana awalnya pengajian akan ditempatkan di gedung SOSS Cepu.Namun kemudian rencana tersebut dipertimbangkan kembali, mengingat acara yang akan diselenggarakan adalah Pengajian Akbar, dan apabila ditempatkan di gedung SOSS terkesan tertutup,bukan lagi Pengajian Akbar namanya, dan dipastikan yang hadir hanya sebatas alumny dan undangan tertentu saja, sementara masyarakat umum akan sungkan mengahadirinya.Maka akhirnya diputuskan acara tersebut diselenggarakan di tempat areal terbuka seperti Tuk Buntung.

“ Panitia Pelaksana acara sudah menyediakan tenda yang cukup memadai, untuk mengantisipasi turunnya hujan.dan tema pengajian ini adalah doa bersama menjelang Pilkada tahun 2018, bekerjasama dengan Polres Blora,”katanya ditengah kesibukannya kepada kami.

Ny.Astutik dan Pak Rusman, dimana kedua pasangan suami istri juga adalah panitia pelaksana acara pengajian akbar, membenarkan apa yang disampaikan H.Joko Sutrisno.

“Selain persiapan tersebut panitia juga menyarankan kami untuk mendatangkan pawang hujan,”ungkap Pak Rusman ditemui di tempat kediamannya desa Kentong Cepu Blora Jawa Tengah. Senin malam, 29/01/2018.

“Bulan Januari Februari adalah musim hujan, besar kemungkinan hujan akan turun, mohon doanya mas semoga doa kami dikabulkan, sehingga pengajian Akbar nanti berjalan dengan hikmat. “lanjutnya.

Allah mengabulkan doa dan harapan Panitia serta ribuan masyarakat yang mencintai sang Kholik, seperti diceritakan diawal tulisan ini, walaupun disekitarnya hujan deras, namun di Tuk Buntung, tempat Pengajian Akbar berlangsung hujan tidak turun, suasana berjalan lancar dan cukup hikmat sampai acara selesai.Setelah acara ditutup dengan doa bersama, hujan turun dengan tiba tiba, bak tangis yang tertahan, ribuan masyarakat berhamburan mencari tempat perlindungan untuk berteduh, namun meski demikian,  ribuan masyarakat dikabulkan hajatnya, karena pengajian telah usai.

“Pawang hujan itu dari desa Panolan kecamatan Kedung Tuban Blora Jawa Tengah, Kul Qulluu Min I’ndillah, beliau hanya perantara dan Allahlah yang menentukannya,”demikian kata Pak Rusman sembari memetik ayat pada surat Albaqara, ketika ditemui kembali di rumahnya, Rabu 31/01/2018.

Pak Rusman Mendampingi Pak Surat (Pawang Hujan)saat berdoa agar tidak hujan

Dalam pandangan agama persoalan Pawang hujan bukan menghentikan hujan akan tetapi memindahkan hujan ketempat yang lain seperti : ke gunung, lembah, laut atau hutan karena ada sesuatu hajat atau hujan itu mendatangkan mudharat.

Maka bisa dapat diambil kesimpulan secara metoda hikmah:  pada sebuah hadhis yang menerangkandan  diriwayatkan berkenaan dengan pawang hujan :

Konon kami tidak melihat gumpalan awan antara kami dan sela-sela gunung Sal’a dan tidak nampak pula awan diatas rumah kami. Tiba-tiba datang gumpalan awan seperti perisai, maka tatkala gumpalan awan tersebut menyebar menutupi sebagian langit maka turunlah hujan.

Demi Allah pada hari sabtu kami tidak melihat matahari,kemudian datang seorang pada hari jumat berikutnya untuk menemui Nabi. Tatkalaitu Nabi sedang berkhutbah, orang itu mengadu kepada Nabi :” Ya Rasululloh binasalah harta kami dan terputuslah jalan-jalan kami “.Nabi bersabda : “Memohonlah kamu kepada Allah karena hanya Dialah yang dapat menolak hujan,kemudian Nabi mengangkat kedua tanganNya sambil berdo a: ” Ya Allah jadikanlah hujan ini pindah pada sekitar kami jangan jadikan hujan ini untuk kami. Ya Allah pindahkanlah hujan ini diatas gunung, bukit yang lembab, lembah gunung atau tempat tumbuhnya pohon (hutan )”. (HR.Bukhari-Muslim)

Dan tidak dosa atas kamu meletakkan senjata-senjatamu jika kamu mendapat sesuatu kesukaran karena hujan atau kamu sedang sakit dan siap siagalah kamu”. (QS.Annisa:102)  (Ajas)

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *