Diduga Ulah Pemilik Pangkalan LPG Di Koto Kampar Hulu Jual Ke Pengecer,Harga Gas Mencekik Masyarakat

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online
Teks Poto:ilustarsi

KAMPAR|RIAU,FORUMNUSANTARANESW.COM-Harga gas elpiji bersubdidi isi 3 kilogram dipasaran yang mencapai Rp35.000 – Rp38.000 pertabungnya membuat warga Desa Bandur Picak, kecamatan Koto Kampar Hulu, Kabupaten Kampar (Riau) menjerit.

 

“Iya memang benar harga gas elpiji berat 3 kilogram yang disubsidi oleh pemerintah sekarang ini di desa Bandur Picak mencapai Rp. 35.000 hingga Rp. 38.000 pertabungnya dan tentunya membuat para konsumen gas elpiji resah sehingga dalam persoalan ini kami meminta kepada dinas terkait serta juga penegak hukum untuk melakukan sidak atau pengawasan terkait meroketnya harga gas elpiji berat 3 kilogram dipasaran,” ungkap salah seorang warga desa Bandur Picak, Andi Ardinal, kepada reportaseindonesia.tv di kantor Desa Bandur Picak, Rabu (10/10/2018).

 

Untuk menindak lanjuti persoalan ini, Andi meminta kepada instansi terkait dalam hal ini untuk segera melakukan pengawasan terkait melambungnya harga gas melon tersebut.

 

“Gas elpiji berat 3 kilogram terkadang langka dipasaran, dan yang kedua adalah kenapa harga eceran dipasaran tidak sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi ( HET) yang sudah dipatokan oleh pemerintah,” ungkapnya.

 

“Kita tidak menyalahkan pengecer atau penjual gas elpiji seperti di kedai- kedai kelontong, karena tidak menutup kemungkinan mereka dari sananya memang kebetulan membeli mahal dan kita tidak tahu itu, kalau memang itu persoalannya,” sambungnya.

 

Andi -begitu disapa- berpendapat, jika hal tersebut tidak segera ditindak lanjuti oleh pemerintah dapat menambah beban penderitaan masyarakat di tengah harga-harga kebutuhan hidup yang terus melambung.

 

“Menurut penilaian saya konsumen gas elpiji lebih kurang 14 tahun, dan jadi masalah ini kalau tidak dari atasnya atau agen yang menjual mahal serta tidak mungkin pula orang penjual di warung – warung menjual hingga sampai Rp.35.000 hingga Rp. 38.000 pertabungnya, karena telah melebihi HET yang telah dipatokan oleh pemerintah sebab itu realita bisa di cek dikedai- kedai,” jelas Kaur Perencanaan Desa Bandur Picak.

 

“Kami meminta kepada rekan- rekan media agar mempublikasikan permasalahan gas elpiji ini sebab secara tidak langsung media telah membantu masyarakat susah dan semoga instansi terkait bisa terbuka mata hatinya supaya sebagai menindak lanjuti persoalan gas elpiji berat 3 kilogram dijual dipasaran melebihi harga HET,” lanjutnya lagi.

 

Terpisah, salah seorang pemilik Kedai yang menjual gas melon eceran, Darlis mengaku pihaknya menjual sesuai dengan harga pembelian awal dari agen resmi ataupun agen tak resmi.

 

“Kita menjual gas elpiji berat 3 kg ini tergantung dari modal pembelian kami dan kalau kami beli dari agen resmi sebesar Rp. 24.000 maka kami menjual kepada konsumen sebesar Rp. 30.000, tetapi kalau kami beli dari agen tidak resmi mencapai Rp. 30.000 dan tentunya kami mau ambil untung makanya kami jual sampai Rp. 35.000 pertabungnya,” beber Darlis kepada wartawan.

 

Lebih lanjut Darlis menjelaskan, Agen resmi hanya menyuplai kedainya satu bulan sekali, untuk menutupi permintaan masyarakat, dia kerap membelinya dari agen tak resmi.

 

“Agen resmi itu masuknya cuma satu kali dalam satu bulan sehingga kami terpaksa membeli kepada agen tidak resmi dengan harga mahal sebab gas elpiji dari agen Pangkalan resmi pasokan tidak mencukupi,” pungkasnya.

 

Reporter:Hafnipal


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *