Manfaatkan Ketenaran di Televisi, Irma Suryati Gelapkan Uang Investor

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Manfaatkan Ketenaran di Televisi, Irma Suryati Gelapkan Uang Investor

JAKARTA – FORUM NUSANTARA Saptu 25 Januari 2020 “Irma Suryati (45), seorang pengusaha UKM pengrajin kerajinan berbahan kain perca yang tenar setelah beberapa kali diundang menjadi bintang tamu acara talkshow di salah satu stasiun televisi nasional, saat ini menghadapi gugatan perdata di Pengadilan Agama Kebumen atas dugaan penggelapan uang investor. Dari press release Edo & Co, firma hukum yang menjadi kuasa hukum investor yang menjadi korban penggelapan modal menerangkan bahwa kasus ini telah didaftarkan pada tanggal 9 Januari 2020 dan akan bersidang perdana pada 6 Februari 2020 di PA Kebumen. Pihak tergugat adalah Irma Suryati dan Agus Priyanto (suami Irma).

Kasus ini bermula saat korban Ficky Kusuma berkenalan dengan Irma melalui Indonesia Islamic Business Forum (IIBF), sebuah forum silaturahmi pengusaha muslim nasional pimpinan Happy Trenggono. Irma menceritakan tentang kiprahnya mengisi acara-acara talkshow di televisi nasional dan berbagai piala dan piagam penghargaan yang diterimanya dari berbagai institusi. Irma memang terkenal sebagai pengusaha kerajinan tangan yang terkesan sukses walaupun ia dan suaminya menyandang disabilitas. Beberapa tokoh politik juga berusaha menggandeng Irma karena banyak penyandang disabilitas yang dibina oleh usahanya.

Pada pertengahan 2016 Irma menawarkan peluang investasi dalam usaha kerajinan tangan yang ditekuninya dengan dalih untuk lepas dari modal pinjaman bank dan untuk
membantu pemberdayaan para penyandang disabilitas. Irma menawarkan imbal investasi sebesar 50% dari laba bersih dibayarkan setiap bulan. Korban tergerak untuk ikut membantu pemberdayaan penyandang disabilitas sepakat menanamkan modal sebesar Rp 500 juta dan kerja sama ini berjalan lancar untuk enam bulan pertama.

Pertemuan Korban Ficky Kusuma dengan Irma saat akan memulai kerjasama

Pada bulan Januari 2017 pembayaran imbal investasi terhenti. Setelah ditanyakan berkali-kali akhirnya Irma menjelaskan bahwa modal usaha tertahan pada pesanan dari kalimantan yang bermasalah. Irma juga meminta tolong untuk mendapat tambahan suntikan modal untuk menjalankan usaha kembali sambal menyelesaikan pesanan yang bermasalah. Karena melihat berhentinya usaha ini akan berdampak pada banyak pengrajin disabilitas maka korban Ficky Kusuma setuju untuk menambah modal sejumlah Rp 190 juta pada bulan Juni 2017.

Setelah menerima tambahan modal, ternyata pembayaran bagi hasil masih macet. Kecurigaan muncul ketika pada bulan Agustus 2017, Irma justru membeli mobil baru nopol AA 9329 TD pada saat pembayaran bagi hasil masih macet

Masalah investasi macet ini berlarut-larut hingga masa akhir perjanjian kerjasama pada Mei 2018. Korban akhirnya memanggil Irma untuk pengakhiran kerjasama dan
penyelesaian semua kewajiban berupa pengembalian modal dan bagi hasil tertahan. Irma setuju mengakhiri kerjasama dan meminta waktu satu tahun untuk menyelesaikan kewajibannya dengan dalih agar jangan sampai menghentikan mata pencaharian para penyandang disabilitas. Karena alasan kasihan, korban setuju memberikan waktu satu tahun.
Pada bulan Mei 2019, korban kembali memanggil Irma untuk menepati janjinya segera menyelesaikan kewajibannya. Irma kembali meminta tambahan waktu tiga bulan dengan alasan baru saja selesai dari kesibukan Pemilu. Diketahui suami Irma menjadi calon legislatif kabupaten Kebumen dari partai PKS.


Tergugat Agus Priyanto adalah caleg DPRD Kebumen pada pileg 2019

Menjelang akhir masa tambahan 3 bulan yakni pada Agustus 2019, masih belum ada tanda-tanda itikad baik Irma untuk menyelesaikan kewajibannya. Sehingga korban menunjuk kuasa hukum dari firma hukum Edo & Co. untuk menyelesaikan masalah ini melalui jalur hukum. Kuasa hukum korban menemui Irma dan membuat addendum atas akad perjanjian kerjasama sebelumnya yang berisi langkah-langkah penyelesaian. Dalam addendum tersebut penyelesaian dilakukan bertahap dengan mencicil tiap bulan dengan batas akhir penyelesaiannya adalah 30 Desember 2019

Setelah penandatanganan addendum, ternyata Irma tidak memenuhi isi addendum dengan tidak membayar cicilan kewajibannya sesuai perjanjian. Setiap kali diingatkan selalu mengangkat isu hajat hidup penyandang disabilitas. Hingga korban mengirimkan surat peringatan tiga kali dan akhirnya pada tanggal 9 Januari 2020 resmi mendaftarkan gugatan di Pengadilan Agama Kebumen. Sidang perdana kasus ini akan berlangsung tanggal 6 Februari 2020

GUNTUR
Contributor Rifai

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *