Polrestabes Surabaya Bekuk Sindikat Penebar Cek Palsu Dijalan

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Kapolrestabes  Surabaya, M Iqbal menyuruh para tersangka memperagakan cara menipu korbannya melalui Handphone /dok. FN

Surabaya-(FN), Polrestabes Surabaya meringkus sindikat penipuan bermodus menebar sejumlah dokumen dan cek palsu, komplotan meraka sengaja menjaring korbannya dengan sengaja menjatuhkan sejumlah dokumen berupa siup dan Cek Palsu dijalan dengan niat ditemukan oleh calon korbannya.

” Tentu SIUP dan cek yang disebar di jalanan adalah palsu,” ucap Kepala Satuan Reserse Kriminal Polrestabes Surabaya Ajun Komisaris Besar Polisi Leonard Sinambela.

Untuk memuluskan modus penipuan itu, kawanan penipu lintas provinsi ini sengaja meninggalkan sebuah kartu nama yang sengaja dijatuhkan bersamaan dengan dokumen palsu,nama yang tertera dalam kartu itu dibuat seolah memiliki jabatan penting semisal direktur utama, juga lengkap
Disertai dengan Nomer Handphone.

” Di dokumen itu ada nomor teleponnya, penemunya yang berniat mengembalikan dokumen tersebut pasti menghubungi nomor yang tertera,” katanya.

Saat menghubungi nomor telepon itulah, pelaku
kemudian memperdaya dan menggiring korban ke mesin anjungan tunai mandiri
(ATM).

“Pertama, pelaku mengucapkan terima kasih karena telah menemukan
dokumennya. Lalu mengatakan akan memberi imbalan senilai Rp100 juta
melalui transfer bank. Dalam tahapan ini pelaku berpura-pura menanyakan
nomor rekening korban untuk memulai proses transfer,” ujar Leo menerangkan.

Selanjutnya, korban yang merasa transfer imbalannya belum masuk, karena sebenarnya memang tidak pernah ditransfer, kemudian digiring ke mesin ATM.

“Menggiringnya via telepon, alasannya untuk melihat uang imbalan yang telah ditransfer. Namun korban justru dipandu untuk menransfer uang
dari ATM-nya ke rekening pelaku,” ucap Leonard.

Delapan pelaku yang diringkus berinsial IR, usia 34 tahun, MY (36),RF (32), SD (30), JA (40), AM (41), A (30), dan S (47), yang dalam kejahatan ini memiliki peran masing-masing, mulai dari menebar dokumen
di jalanan, hingga sebagai operator telepon.

“Selama beraksi di Surabaya, mereka mengontrak satu rumah di kawasan Malyorejo,” katanya.

Penyelidikan polisi mengungkap sindikat kelompok ini telah beraksi
berpindah-pindah tempat lintas provinsi selama empat tahun terakhir.
Rata-rata per bulan bisa menghasilkan Rp50 juta, sehingga selama empat
tahun terakhir mereka telah meraup keuntungan sedikitnya Rp2,4 miliar
dari para korbannya.@Jun/Fajar.


Related Post

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *