SUPRIYO,SP,d KEPALA UPTD. DINDIKPORA CEPU : PEMERATAAN SISWA SANGAT PERLU DILAKUKAN

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

supriyo-kepala-uptd-dakdikpor-epuBLORA, FN –Adanya Sekolah Dasar Negeri (SDN) yang letaknya berada di pedesaan, kecamatan cepu Blora, menjadi perhatian khusus Kepala UPTD. DINDIKPORA Kecamatan Cepu Supriyo,SP,d sehingga perlu bagi Kepala Sekolah SD diwilayahnya yang melebihi kuota siswa, terutama di kota kecamatan Cepu untuk tahun depan diharapkan membatasi penerimaan siswa baru agar ada pemerataan siswa di SD yang terletak di pedesaan.Karena berdampak pada penyerapan pembelajaran terhadap anak didik, apabila tetap dipaksakan berlebihnya kuota siswa, dikhawatirkan tidak maksimal melaksanakan  kegiatan belajar mengajar di sekolah terkait.” Karena SD dalam satu ruang kelas mencapai 40 orang, guru akan kesulitan memberikan pengetrapan pelajaran dan begitu juga murid akan kesulitan menerima pelajaran, Sehingga perlu adanya penataan secara signifikan. “Ungkapnya.

Juga telah diungkapkan beberapa waktu yang lalu oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda Dan Olahraga (DINDIKPORA) Drs. A. Wardoyo, M.Pd ,”banyaknya sekolah-sekolah kecil yang jumlah murid per kelas kurang dari 15 siswa, rasio guru dibanding murid yang kurang dari 1:20 yang ada disebagian besar sekolah di Kabupaten Blora, bahwa bila tidak dilakukan penataan, maka layanan pendidikan tidak bisa maksimal dan guru tidak bisa bekerja dengan baik. Salah satu dampaknya adalah pada tahun 2016 banyak guru yang tidak akan menerima tunjangan sertifikasi. Hal ini karena tahun 2016 Pemerintah Pusat telah menerapkan aturan terkait tunjangan sertifikasi yaitu guru harus memenuhi kualifikasi akademik S1, jumlah jam pengajar minimal 24 jam tatap muka per minggu, dan rasio guru dibanding murid di setiap satuan pendidikan 1:20. Jika tidak memenuhi ketiga kriteria tersebut, tunjangan sertifikasi guru atau tunjangan profesi guru tidak bisa dibayarkan.

Untuk menyikapi apa yang dikemukakan bosnya, Supriyo,SP,d mengambil langkah terbaik dengan melakukan evaluasi ke bawah di wilayahnya, kecamatan Cepu, seperti di Desa Ngloram, Cabean di mana jumlah murid jauh dibawah kuota rasio, sesuai Permendikbud No.23 Tahun 2013 pasal 2, ayat (2) poin 5).”Disisi lain, terutama di perkotaan jumlah siswa melebihi kuota, sedangkan ruang kelas tidak memadai.Dan penambahan ruang kelas sudah tidak mungkin dilakukan karena lokasinya yang terbatas.Kelebihan kuota ini disebabkan banyaknya orangtua yang berantusias menyekolahkan anaknya di perkotaan, atau di sekolah yang dianggapnya sekolah favorit.”

Dan bukan hanya di perkotaan saja siswa dalam satu ruang kelas di atas Rasio Jumlah Siswa,SDN Kentong misalnya, dalam satu ruang kelas hampir mencapai 46 siswa.dari jumlah tersebut sebagian para siswa dari desa tetangga. “Sementara di desa mereka sendiri masih kekurangan siswa “ungkapnya.

Viva Ariyani, guru sekolah SDN Kentong ketika ditanyakan perihal ini tingkat kesulitan apa ketika memberikan pelajaran kepada anak didiknya “Kurang efektif mas, karena kebanyakan siswa.Kan idealnya 32 orang.”

“Itulah mas yang perlu diperhatikan, Ketika guru jenuh menghadapi murid yang berjubel dalam satu ruang kelas dan kesulitan menerima pelajaran,efeknya adalah memberikan PR sebanyak-banyaknya kepada siswa siswanya, kasus ini akan menimbulkan kejenuhan juga kepada para siswa-siswi, sehingga akhirnya kwalitas murid jauh dari harapan.Saya yakin kalau dalam satu ruang kelas itu sesuai kuota akan mudah guru menyampaikan pelajaran dan siswa mudah juga menerima apa yang diajarkan gurunya.”Kata Supriyo,SP,d menambahkannya.

Kepala Sekolah SDN Kentong Priyono melalui salah satu guru senior Sulima mengatakan.” Ya mungkin untuk tahun depan akan mengurangi kuota tapi ini baru dicari solusi bersama komite…..kalau siswa dari luar desa sudah berkurang dan hanya ada satu dua siswa, karena alasan wali murid, anaknya gak mau sekolah kalau bukan di SDN Kentong.Namun kami terus melakukan evaluasi terkait persoalan ini. Ya……pihak sekolah mengusulkan untuk menambah lokal baru dari pemerintah karena tidak bisa menolak siswa yang domisili di kentong harus sekolah di luar kentong. Padahal sesuai aturan jumlah siswa sekelas 32, sedang kentong sampai saat ini dalam satu ruang kelas mencapai 46 siswa”

“Evaluasi untuk Kepala sekolah penting dilakukan, agar ada pemerataan siswa di SD lainnya yang tidak mencapai kuota.Sehingga penyeimbangan pendidikan berjalan dengan lancar, dan tidak perlu mengejar dana BOS sebanyak banyaknya, tapi penyerapan siswa terhadap ilmu tidak maksimal.Dinas Pendidikan Blora tidak akan menutup kemungkinan setiap keluhan dari pihak sekolah.kalau memang harus ditambahkan RKB kami akan mempertimbangkan asalkan lokasinya memadai.”katanya mengakhiri pembicaraannnya dengan kami. (Ajas).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *