Terkuak! Kemesraan Wali Nagari, ‘MK’ dan Kapolres Agam, Bencana Bagi Tanjung Manggopoh

oleh
Masa kelam penyerangan YTM.
Masa kelam penyerangan YTM.

AGAM, FN

Masih segar dalam ingatan, tanggal 6 September 2017 lalu, menjadi sejarah kelam bagi Suku Tanjung Manggopoh. Sekelompok massa gabungan, pada pukul 04.00 Wib, tiba – tiba menyerang Yayasan Tanjung Manggopoh (YTM).

Dari investigasi media ini, bahwa massa gabungan tersebut diduga kuat sebagiannya adalah masyarakat Tanjung Manggopoh, yang berhasil dihasut oleh salah satu Organisasi Masyarakat (baca; Ormas). Ninik Mamak Tanjung Manggopoh sangat menyesalkan kejadian tersebut. Pihak Ninik Mamak mensinyalir pula bahwa ‘MK’ adalah otak dibalik penyerangan itu, karena beberapa bukti sangat kuat menunjukkan bahwa ‘MK’ sangat intensif melakukan agitasi/ penghasutan terhadap anak kemenakan di Suku Tanjung.

Kantor YTM yang diporak – porandakan oleh massa brutal.

“Tak mungkin, tidak ada angin, kemudian ada hujan. Ada akibat, tentu ada sebabnya pula. Hal inilah yang kami sangat sesalkan, kalau hanya benturan horizontal antara Ninik Mamak dan Anak Kemanakan, bisa diselesaikan secara adat. Kemudian apabila ada perseolaan hukum, bisa pula diselesaikan secara proses hukum,” ungkap Tim Advokasi YTM, kepada Media.

Lebih parahnya lagi, setelah penyerangan subuh tersebut, siangnya massa melakukan pemburuan terhadap buruh YTM dan melakukan panen sepihak terhadap hasil panen YTM. Kemudian, setelah panen sepihak tersebut, tiba – tiba Kapolres Agam pada tanggal 9 September 2017 menetapkan lahan YTM yang secara defacto and de jure sudah sah itu, dengan status quo.

Merela bersuka ria, usai penyerangan 6 September 2017.

Penetapan status quo tersebut menuai banyak pertanyaan. Sebab, YTM mengelola lahan tersebut sudah sesuai dengan dasar dan hukum yang incraht dan jelas, artinya bukan lahan konflik yang tidak jelas.

Menyoal terhadap status quo oleh Kapolres Agam sangat disangat disayangkan, karena lahan yang dikelola YTM bukanlah lahan konflik, malah penyerangan subuh itu terkesan diskenario sedemikian rupa. Apabila hal tersebut adalah tindakan pengamanan di TKP (Tindak Kejadian Perkara), kemudian dengan menutup dan mengamankan TKP (mempertahankan status quo) dengan membuat batas/ tanda garis polisi (police line), tentu bisa dilakukan dengan alasan – alasanya yang kuat.

Keanehan makin terasa, bahwa subuh tanggal 6 September 2017 tersebut, Massa gabungan dengan pengawalan ketat kepolisian mendatangi lokasi YTM. Artinya, disini mulai kecurigaan timbul, polisi dengan truck water cannon dan mobil patroli, seolah – olah mengawal aksi brutal subuh kelam itu.

Salah satu bangunan YTM yang terbakar.

Lalu, tiba – tiba saja 3 hari setelah penyerangan, Kapolres menetapkan status quo dan pihak massa brutal dengan berbagai dalih memanen sepihak hasil sawit yang dikelola oleh YTM. Kalau memang status quo, tentu tidak satupun yang bisa menyentuh lahan tersebut hingga saat ini.

Namun faktanya, hingga saat ini massa penyerang bersama – sama dengan Ormas yang ikut menyerang, dengan lahap dan suka ria memanen hasil sawit dan menurut pantauan media ini, beberapa personil Polres Agam juga tampak berjaga dilokasi.

Berkas kantor YTM yang diobrak – abrik.

Salah seorang nara sumber yang sempat dikonfrontir oleh media ini menyebutkan, bahwa sejarah kelam itu adalah dampak kemesraan hubungan antara Wali Nagari Manggopoh dengan Kapolres Agam. Wali Nagari Manggopoh yang disinyalir adalah salah satu actor intelektual penyerangan yang juga berhubungan kuat dengan Wali Jorongnya Defrizal Awunk, seakan mendapatkan perlakukan khusus dari Kapolres Agam.

Dugaan itu makin menguat, disatu sisi Polres Agam memberikan pengawalan yang super ketat dan pengamanan lokasi ketika pihak massa gabungan memanen yang menyerang dan memanen sepihak. Sementara ketika pihak YTM meminta pengamanan, Polres Agam malah menolak permintaan tersebut dengan mengirim surat balasan, Nomor: B/954/IX/2017.

Tim Kuasa Hukum YTM sangat menyayangkan keadaan tersebut. Menurut pihaknya, asas keadilan dan kepastian hukum di Wilayah Hukum Polres Agam, sudah patut dipertanyakan. (Tim/MP/ TA)

Baca berita terkait:

Melawan Lupa: YTM Diserang Massa Ormas

Dampak Penyerangan YTM, Pesantren Nurul Yakin Mencekam!

Wakapolres Enggan Komentar, Terkait Korban Kriminalisasi Rudi Satpam YTM

Jadi Tersangka Insiden Penyerangan YTM, Defrizal Awunk Bebas Berkeliaran

Diduga Dibekingi Polisi, Lahan YTM Diserobot dan Penegak Hukum Bungkam

Komnas HAM Akan Sikapi Insiden Penyerangan di Tanjung Manggopoh

Setelah Menyerang, Massa Ormas Panen Sepihak Ulayat Suku Tanjung Manggopoh

Konflik Kebun Sawit : Wujudkan Kepastian Hukum dan Keadilan di Manggopoh Agam?


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *