WNA Vietnam Penyelundup Sabu Tak Akui Jumlah Barang Bukti 

bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Terdakwa Nguyen Thi Thanh He dan JPU Nur Rachman/Forum nusantara

SURABAYA (FN news.com) — Dua orang saksi sekaligus seorang penerjemah dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nur Rachman dalam sidang kasus penyelundupan sabu seberat 1.175 Gram yang dilakukan terdakwa Nguyen Thi Thanh He (25), Warga Negara Asing (WNA) asal Vietnam, Rabu (10/10).

Dua orang saksi itu ialah, Agus Wijyanto (37) dan Dedy Aprianto (36), keduanya adalah anggota Ditreskoba Polda Jatim, Sedangakan seorang lagi bernama Trisnawan (54), ia merupakan penerjemah bahasa Vietnam untuk memudahkan terdakwa berinteraksi dengan otoritas pengadilan saat digelarnya sidang.

Setelah diambil sumpah oleh Majlis Hakim, Trisnawan diinteruksikan untuk menjelaskan kepada terdakwa bahwa ia ditugaskan oleh pihak Kejaksaan Negeri Surabaya sebagai penerjemah.

“Saudara jelaskan kepada terdakwa bahwa saudara ditugaskan oleh pihak kejaksaan sebagai penerjemah” kata Ketua Majelis Hakim Yulisar, membuka persidangan.

Majelis hakim juga menginstruksikan JPU untuk membacakan surat dakwaan secara simple, dengan memuat isi pasal yang didakwaan dan juga kronologis singkat mengenai barang bukti yang didapati petugas dari tangan terdakwa.

Sidang pembacaan dakwan dalam perkara penyelundupan narkotika ini sempat tertunda. Sebab saat JPU membacakan dakwannya pada pekan sebelumnya, terdakwa hanya manggut-manggut karena tidak mengerti dengan bahasa yang diucapkan oleh JPU.

Dari surat dakwaan yang dibacakan JPU disebutkan, bahwa terdakwa Nguyen ditangkap oleh Petugas Bea Cukai di Bandara Internasioanl Juanda, Surabaya. Pada 19 Maret 2018.

Petugas Bea Cukai mendapati barang bukti berupa narkotika jenis sabu seberat 1.175 Gram yang ditemukan dalam koper terdakwa, setelah melewati mesin X Ray.

” Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 114 ayat (2) UU No.35 Tahun 2009 tentang Narkotika.” Kata JPU Nur Rachman membacakan surat Dakwaannya.

Adapun ancaman hukuman maksimal dalam pasal tersebut adalah hukuman mati.

Dakwaan dari JPU itu lalu disampaikan oleh Trisnawan pada terdakwa menggunakan bahasa Vietnam. Terdakwa yang saat itu mendengar penjelasan dari penerjemah lalu mengangguk -angukkan kepalanya, sambil sesekali membalas pembicaraan.

“Betul ditangkap di juanda, tapi barang bukti tidak sebanyak itu” kata penerjemah, mengartikan omongan dari terdakwa Nguyen.

Dikesempatan yang sama, Dua orang saksi dari anggota Ditreskoba Polda Jatim menerangkan, bahwa pihaknya hanya menerima pelimpahan dari petugas Bea Cukai Surabaya.

Untuk barang bukti (BB), pihak Polda mendapati barang bukti sabu itu sudah tidak lagi berada didalam koper.

“Saat penyerahan (dari Bea Cukai), Barang bukti sabu sudah keluar dari koper itu” kata saksi Agus.

Majelis Hakim balik bertanya pada saksi akan keberadaan koper yang dimaksud, pertanyaan itu juga dilontarkan Oleh hakim pada JPU Nur Rachman.

” Sudah dimusnahkan yang mulia” jawab Nur Rachman pada Ketua majelis hakim Yulisar.

Sebelum menutup persidangan, Hakim menginstruksikan pada JPU untuk mengahdirkan saksi dari pihak Bea Cukai, namun JPU Nur Rachman berdalih saksi yang dimaksud majelis hakim sudah pindah tugas di luar pulau.

“Tidak bisa pak, sekarang pindah tugas di Palu” kata JPU.” Kata Nur Rachman.

Mendengar Jawaban JPU, Hakim Yulisar seperti naik pitam, ia tetap meminta JPU untuk tetap menghadirkan saksi pada persidangan yang akan datang.

Hakim menilai saksi dari petugas bea cukai itu wajib untuk dihadirkan sebab ia merupakan saksi fakta sekaligus saksi penangkap.

“Dia yang nangkap duluan loh, bisa fatal nanti, panggil dia” tegas majelis hakim.@ [Ahay/Jun].


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *