BEDA WARTAWAN SEJATI DENGAN WARTAWAN SAKTI

Silahkan bisa Share di :

Oleh :A.Junaidi Aszar  (Ajas)

 

Pada  lazimnya wartawan adalah pemburu berita, secara harfiah dirujuk dari akar katanya terdiri dari warta dengan kata akhir wan adalah orang yang mengabarkan atau memberitakan apa yang dihasilkan dari data riset, liputan dan verifikasi  yang diperolehnya.Dia bekerjasama atau sebagai pekerja untuk perusahaan media tertentu, baik media cetak dan elektronik  yang menyiarkan karya karya tulisnya.

Namun wartawan berbeda dengan penulis atau kolomnis yang bisa mengemukakan subjektivitasnya atau karya tulis ilmiah lainnya, yang bersifat idealisme.Penulis atau kolomnis hanya lebih terikat keindahan karya karyanya, sehingga lebih mengutamakan sabyek daripada obyekvitasnya.Sebagian kalangan menyebutkan bahwa wartawan adalah profesi, sehingga ia memiliki keterikatan dengan perusahaan dimana dia bekerja. Jadi Wartawan dituntut objektif sesuai data yang diperolehnya.

Perusahaan Media tempat dia bekerja, menyiarkan sesuai kelengkapan data-data laporan wartawan yang dihasilkannya.Sebab itu wartawan dituntut untuk selalu obyektif, tidak menyimpang dari kode etik jurnalistik, bertanggungjawab, meluruskan isu yang berkembang di tengah masyarakat, dengan melakukan konfirmasi kepada nara sumbet yang berkaitan dengan isu yang didengarnya, kemudian diolah menjadi sebuah berita.

Maka sudah seharusnya Perusahaan Media merekrut Wartawan lebih memperhatikan latar belakang seseorang yang ditunjuknya sebagai Wartawan, baik sebagai mitra atau sebagai pekerja di Perusahaan Media tersebut. Karena seseorang bisa dikatakan wartawan dan bekerja untuk sebuah perusahaan pers, seseorang  harus memenuhi syarat-syarat sesuai tuntutan dunia pers. Misalnya memiliki latar belakang pendidikan tertentu dan yang terpenting  bisa mengolah sebuah berita dengan karya tulisnya, sehingga hasil karya tulisnya dapat dinikmati public.

Dengan demikian, tidak akan lahir Istilah “wartawan amplop”, “wartawan bodrek”.Dimana  mereka saat ini bermunculan mencoreng nama baik institusi Jurnalistik. Mereka hanya memikirkan isi perutnya sendiri.Dan sangat menyakitkan, setelah diketahuonys,  ternyata mereka tidak mempunyai kemampuan sedikitpun untuk menghasilkan sebuah produk Jurnalis.

Mereka hanya bisa jalan jalan ke desa desa menemui Kepala Desa dan Pejabat Publik lainnya dengan mengaku dirinya wartawan dari sebuah media yang memberikannya Kartu Wartawan. Bahkan ada kalanya tidak segan segan memeras seseorang atau kelompok tertenti dan mengancam mereka jika tidak dipenuhi kemauannya maka akan dipublikasikan berita-berita negatif tentang seseorang atau kelompok tersebut.

Ironisnya, tidak sedikit Pejabat Publik, apalagi Kepala Desa mempercayainya begitu saja, dan semuda itu diberdaya oleh mereka, tanpa memperhatikan siapa sebenarnya mereka.

Ada 4 M yang harus kita perhatikan pada seseorang, ketika mendaulat dirinya sebagai Wartawan. 4 M tersebut adalah ; Mendengar, Melihat, Mampu menulis dan Memberitakannya.

Seorang wartawan yang tidak memiliki kreteria seperti di atas tadi,bisa dikatakan Wartawan Sakti, cukup dengan jalan – jalan tanpa karya, bisa menghasilkan uang. Berbeda dengan Wartawan sejati,  selain mengutamakan karya tulisnya, etika jurnalis selalu melekat pada dirinya.

Silahkan bisa Share di :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *