34 Persen Hutan Boreal Jadi Sumber Emisi Karbon

Perubahan Besar di Wilayah Boreal Arktik

Sebuah studi terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 30 persen kawasan hutan boreal Arktik kini melepaskan lebih banyak karbon dioksida (CO2) dibandingkan yang diserapnya. Perubahan ini menandai pergeseran signifikan di wilayah Kutub Utara, yang selama ini dikenal sebagai penyerap karbon global.

Penulis utama studi, Anna Maria Virkkala dari Woodwell Climate Research Center (WCRC), bersama timnya menganalisis data dari 200 titik lokasi di Alaska, Kanada, Siberia, dan negara-negara Nordik di sekitar batas boreal kutub utara. Hasilnya menunjukkan bahwa meskipun kawasan ini secara keseluruhan masih berperan sebagai penyerap karbon netto antara 2001 hingga 2020, sekitar 34 persen daratannya telah menjadi sumber emisi karbon tahunan.

“Lebih dari 30 persen wilayah ini, secara neto, kini menjadi sumber emisi CO2,” ujar Anna Maria Virkkala dalam laporan yang dirujuk.

Studi yang dipublikasikan dalam jurnal Nature Climate Change ini juga menemukan bahwa kebakaran hutan boreal arktik memainkan peran besar dalam memperburuk neraca karbon di atmosfer. Analisis dari tahun 2023 memperkirakan bahwa kebakaran di Kanada menghasilkan sekitar 480 juta metrik ton karbon tambahan. Jumlah tersebut setara dengan 23 persen dari emisi karbon kebakaran hutan global.

Virkkala menjelaskan bahwa jika emisi akibat kebakaran tersebut diperhitungkan, wilayah permafrost secara keseluruhan menjadi netral karbon. Berdasarkan laporan pada 2019, kawasan permafrost utara telah kehilangan atau melepaskan sekitar 1.662 miliar kilogram karbon setiap musim dingin. Kehilangan itu sendiri saja sudah dapat melampaui serapan karbon saat musim tumbuh, sehingga beberapa lanskap tetap menjadi sumber emisi karbon meski terlihat hijau saat musim panas.

Dampak Perubahan Suhu dan Emisi Metana

Perubahan suhu turut memperpanjang periode mikroba aktif di tanah yang mencair, sehingga pelepasan karbon berlangsung lebih lama. Tidak hanya CO2, permafrost dan lahan basah yang mencair juga melepaskan metana, gas yang 25 kali lebih kuat dibandingkan CO2 dalam menjebak panas (memberi efek gas rumah kaca).

Virkkala dan timnya menggunakan basis data ABCflux yang memadukan pengukuran lapangan dengan data satelit. Pendekatan tersebut memperlihatkan area tundra terbuka menjadi kawasan yang paling cepat berubah, sementara hutan boreal masih berfungsi sebagai penyerap, meski manfaatnya bisa hilang pada tahun-tahun dengan kejadian kebakaran ekstrem.

Pentingnya Pemantauan dan Data Jangka Panjang

Para peneliti menekankan perlunya pemantauan lebih luas di wilayah yang sulit dijangkau serta pentingnya catatan jangka panjang yang mencakup siklus tahunan penuh. Studi ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana perubahan iklim sedang memengaruhi keseimbangan karbon di wilayah Arktik, yang sebelumnya dianggap sebagai penyerap utama karbon global.

Dengan peningkatan frekuensi kebakaran dan pencairan permafrost, kawasan ini semakin mengkhawatirkan bagi lingkungan global. Penelitian ini menjadi dasar untuk pengambilan kebijakan yang lebih baik dan langkah-langkah mitigasi yang lebih efektif dalam menghadapi perubahan iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *