7 fakta menarik burung pedendang, hewan langka dari Sumatra

Mengenal Burung Pedendang, Hewan yang Tampaknya Membosankan Tapi Penuh Rahasia

Burung pedendang atau finfoot adalah salah satu spesies burung yang sangat unik dan misterius. Meskipun tidak terlalu dikenal oleh masyarakat luas, peneliti ornitologi pun masih belum banyak memahami tentang burung ini. Sifatnya yang tertutup dan menyendiri membuatnya menjadi objek penelitian yang menarik.

Apa Itu Burung Pedendang?

Pedendang atau finfoot (famili Heliornithidae) merupakan jenis burung semiakuatik berukuran sedang yang hidup menyendiri di sepanjang tepi sungai hutan tropis Asia, Afrika, dan Amerika Tengah dan Selatan. Ciri khas dari burung ini adalah kakinya yang memiliki kulit berdaging (lobus) yang menghubungkan jari-jari kaki, berbeda dengan burung air pada umumnya yang memiliki selaput tipis. Nama dalam bahasa Inggris, finfoot, merujuk pada ciri khas ini.

Burung Pedendang Memiliki Kekerabatan yang Unik

Meski tampak seperti burung air biasa, pedendang ternyata memiliki kekerabatan yang unik. Ia memiliki kaki berlobus mirip burung titihan (grebe), gaya berenang rendah seperti burung pecuk ular (darter), dan juga rutin berjemur di atas batu layaknya burung pecuk (cormorant). Menurut informasi dari laman Birds of The World, pedendang termasuk dalam ordo burung jenjang (Gruiformes), yang mencakup keluarga jenjang (Gruidae), mandar (Ralidae), buntut lembut (Sarothruridae), limpkin (Aramidae), dan burung terompet (Psophiidae). Studi molekuler menunjukkan bahwa pedendang paling dekat kekerabatannya dengan mandar dan buntut lembut.

Terdapat 3 Spesies Burung Pedendang di Dunia

Burung pedendang dibagi menjadi tiga spesies yang masing-masing memiliki genus tersendiri. Pertama adalah pedendang Afrika atau African finfoot (Podica senegalensis), yang tersebar dari Senegal sampai Cekungan Kongo, serta Etiopia sampai Tanjung Harapan. Ciri khasnya adalah kaki berwarna merah dan leher abu-abu kebiruan dengan garis putih samar di sisinya.

Kemudian ada pedendang topeng atau masked finfoot (Heliopais personatus) yang hidup di Asia Tengah dan Tenggara. Kakinya berwarna hijau terang dan sarangnya berupa bantalan tebal dari ranting yang mengapung di permukaan air. Terakhir, ada titihan matahari atau sungrebe (Heliornis fulica) yang berukuran 30 sentimeter dan tersebar dari Meksiko sampai timur laut Argentina. Paruhnya merah dengan tubuh hijau zaitun.

Kemampuan Berenang, Lari, dan Memanjat yang Luar Biasa

Salah satu ciri khas burung pedendang adalah kaki berlobus yang membantu mereka berenang, lari, dan memanjat. Kaki berlobus ini digunakan untuk mendorong dan mendayung saat berenang. Meski sering ditemukan di air, pedendang juga nyaman bergerak di darat. Mereka berjalan kedek-kedek seperti bebek, namun sangat lincah saat berlari meloloskan diri dari bahaya. Dengan kaki berlobus, mereka bisa menembus dedaunan dan bersembunyi di semak-semak, serta memanjat cabang dan akar pohon yang menjuntai untuk berlindung dari ancaman di air.

Keunikan Titihan Matahari dalam Merawat Anaknya

Salah satu spesies pedendang, yaitu titihan matahari, memiliki anatomi sayap yang unik. Mereka memiliki lipatan kulit di tiap sayapnya yang bisa menampung satu atau dua anak burung. Saat ada bahaya, burung jantan bisa terbang sambil “menggendong” anak-anaknya yang baru menetas dan tak berdaya di lipatan kulitnya itu.

Penampakan Pedendang Topeng di Sumatra

Pedendang topeng asli Asia Tengah dan Asia Selatan sering ditemukan di hutan bakau dan lahan basah. Di Indonesia, pedendang topeng tampaknya hanya sebagai pengunjung non-berbiak di Pulau Sumatra. Catatan terakhir dari Sumatra berasal dari tahun 2009, yang merupakan penampakan pertama di Indonesia dalam 16 tahun. Pedendang topeng dilindungi di Indonesia sesuai Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018.

Burung Pedendang Membutuhkan Habitat yang Tertutup

Pedendang sangat tertutup dan hanya hidup di aliran sungai yang tenang dan dinaungi vegetasi padat. Mereka sering berenang tersembunyi oleh rerimbunan di dekat tepi sungai. Habitat ideal bagi ketiga spesies pedendang semakin langka akibat pembukaan lahan pertanian, penggundulan hutan, pembangunan bendungan, hingga pertambangan. Burung ini juga diburu dan mangsa-mangsa mereka terancam polusi pestisida. Telur dan anak pedendang turut diambil orang tak bertanggung jawab, memanfaatkan sifat pedendang yang jinak saat mengerami telur.

Sifat tertutup dan penyendiri pedendang membuatnya belum terdokumentasi dan dipelajari dengan baik. Kemungkinan besar masih banyak keunikannya yang belum terungkap. Namun, jika habitat sungai tidak dijaga dan dilestarikan, bukan tidak mungkin kita akan kehilangan kesempatan untuk mempelajari pedendang lebih dalam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *