Sekolah Sehari Penuh dan Melemahnya Akidah Generasi Emas

Kekhawatiran terhadap Penerapan Full Day School di Jawa Tengah

Isu full day school atau sekolah lima hari kembali menjadi perbincangan hangat dalam dunia pendidikan di Jawa Tengah. Meskipun kebijakan ini belum diterapkan secara seragam di seluruh kabupaten dan kota, gelombang penolakan tetap terasa nyata. Masyarakat, khususnya komunitas pendidikan keagamaan nonformal seperti Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT) dan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ), menyampaikan kekhawatiran yang mendalam.

Kehidupan dan dedikasi mereka sangat bergantung pada jam belajar anak-anak di sore hari. Full day school berpotensi menggerus ruang tersebut, sehingga menimbulkan kegelisahan. Hal ini bukanlah hal baru. Setahun lalu, demonstrasi besar pernah terjadi di Simpang Lima Semarang, dipimpin oleh PWNU, ormas Islam, serta FKDT Jawa Tengah. Mereka menuntut agar kebijakan lima hari sekolah tidak mematikan madrasah sore, yang merupakan bagian penting dari sistem pendidikan nasional.

Pendidikan agama adalah pondasi yang tidak boleh rapuh. Sebagai pengurus MDT, saya merasa terpanggil untuk ikut bersuara. MDT dan TPQ bukan hanya lembaga pinggiran, melainkan bagian integral dari sistem pendidikan nasional. Mereka bertugas mendidik generasi bangsa untuk mengenal Al-Qur’an, menanamkan akidah, serta membiasakan akhlak mulia. Jika pendidikan formal lebih menekankan aspek kognitif, maka MDT dan TPQ menyempurnakan dengan aspek afektif dan spiritual. Dua hal yang seringkali diabaikan, padahal justru menjadi pondasi kokoh bagi lahirnya generasi Indonesia emas.

KH. Hasyim Asy’ari pernah berkata: “Jika kalian ingin melihat kejayaan suatu bangsa, maka lihatlah akhlak generasinya.” Tanpa pendidikan agama yang kuat, generasi kita akan mudah goyah. Masalah seperti tawuran pelajar, penyalahgunaan narkoba, pergaulan bebas, hingga tindak kriminal yang dilakukan remaja, sebagian besar berakar dari rapuhnya akhlak. Dan akhlak tak mungkin tumbuh subur bila akidah mereka dangkal.

Inilah yang saya khawatirkan dari full day school. Bukan sekadar soal durasi anak-anak di sekolah, tetapi soal tergerusnya ruang untuk memperdalam agama. Jika kebijakan ini terus dipaksakan, maka kita sedang membuka jalan bagi pendangkalan akidah generasi bangsa.

Salah satu alasan munculnya wacana lima hari sekolah adalah penyesuaian dengan aturan lima hari kerja bagi PNS. Namun, apakah keadilan administratif ini sebanding dengan kerugian besar yang akan ditanggung bangsa? Apakah demi rasa “setara” itu, kita rela mengorbankan pendidikan agama anak-anak kita?

Pendidikan bukan sekadar urusan jam kerja, bukan pula hanya soal hak pegawai. Pendidikan adalah soal masa depan. Maka kebijakan apa pun seharusnya berpihak pada kepentingan jangka panjang bangsa, bukan kepentingan sesaat birokrasi.

KH. Ahmad Dahlan pernah berkata: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Ungkapan ini bisa ditarik relevansinya ke dunia pendidikan. Bahwa mendidik bukan soal mencari kemudahan bagi guru atau birokrasi, melainkan soal menghidupkan dan menyelamatkan generasi.

Mari kita jujur, persoalan moral anak bangsa hari ini sudah cukup memprihatinkan. Tayangan media dan berita kriminal setiap hari menyajikan bukti betapa akidah dan akhlak sebagian generasi kita kian menipis. Jika pendidikan agama semakin dikurangi, bukankah itu sama saja menambah bahan bakar dalam bara api masalah moral ini? Kedangkalan akidah bukan persoalan ringan. Ia bisa menjelma menjadi krisis identitas, hilangnya arah hidup, bahkan mudahnya anak-anak kita dipengaruhi paham menyimpang atau radikalisme.

Karena itulah, hadirnya MDT dan TPQ menjadi mutlak. Mereka adalah benteng terakhir untuk memperkuat keyakinan, menjaga iman, serta menanamkan cinta beragama yang moderat. Tanpa itu, generasi emas Indonesia hanya akan menjadi slogan tanpa makna.

Ki Hajar Dewantara pernah menekankan: “Pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak, agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.” Bagaimana mungkin keselamatan dan kebahagiaan itu tercapai bila akidah sebagai pondasi kehidupan justru dikorbankan?

MDT dan TPQ bukan pesaing sekolah formal. Justru keduanya adalah mitra strategis. Sekolah formal membekali ilmu pengetahuan, sementara madrasah sore menguatkan iman dan ibadah. Keduanya harus berjalan beriringan, bukan saling meniadakan. Bayangkan, jika anak-anak hanya mengandalkan pelajaran agama di sekolah formal yang jamnya sangat terbatas, apakah cukup? Tentu tidak. Maka MDT hadir untuk melengkapi. Dan ini sudah menjadi tradisi panjang bangsa kita.

Sejarah mencatat, para pendiri bangsa banyak lahir dari rahim pendidikan pesantren, madrasah, dan surau. Mereka bukan hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Mengapa hari ini kita justru tega mengabaikan warisan emas itu?

Oleh karena itu, program lima hari sekolah sebaiknya dikaji ulang dengan jernih. Pemerintah daerah, ormas, guru, dan masyarakat harus duduk bersama mencari jalan terbaik. Jangan sampai kebijakan yang dimaksudkan untuk efisiensi birokrasi justru mengorbankan pendidikan keagamaan.

Prinsip maslahat harus menjadi pijakan. Apalagi, Kemendikbud juga pernah menggulirkan gagasan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat. Salah satunya adalah membiasakan anak beribadah. Pertanyaannya: bagaimana mungkin kebiasaan itu terwujud bila ruang ibadah di lembaga nonformal justru dipersempit?

Mari kita dorong sinergi. Biarkan sekolah formal berjalan sesuai kurikulumnya, dan biarkan MDT serta TPQ tetap eksis memberi penguatan agama. Bukankah tujuan akhir kita sama, yaitu mencetak generasi berilmu, berakhlak, dan berkarakter?

Pendidikan bukan hanya tentang mencetak orang pintar, tetapi juga manusia yang beriman dan bertakwa. Itulah yang diajarkan konstitusi kita, itulah yang diamanahkan para pendiri bangsa. Full day school boleh jadi tampak modern dan praktis di mata sebagian orang, tetapi jangan lupa, di balik itu ada harga mahal yang harus dibayar: tergesernya pendidikan agama yang sudah terbukti menjaga moral generasi.

Jika kita abai, pendangkalan akidah hanya tinggal menunggu waktu. Dan ketika itu terjadi, penyesalan tidak lagi berguna. Mari bersama menjaga MDT dan TPQ. Mari rawat pendidikan agama agar tetap menjadi pondasi kuat bangsa. Karena hanya dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan akhlak yang mulia, kita bisa benar-benar mewujudkan Indonesia emas 2045.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *