Warga Kampung Hegarmanah Berharap Perbaikan Jembatan Segera Dilakukan
Warga di Kampung Hegarmanah RW 1, Desa Cipinang, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung sedang mengalami kesulitan akibat kerusakan jembatan yang menghubungkan antar-RT. Jembatan tersebut menjadi jalur vital bagi aktivitas warga setempat, terutama dalam mendukung kebutuhan transportasi antar desa dan wilayah sekitarnya.
Ketua RW 1 Kampung Hegarmanah, Nurjana, menjelaskan bahwa jembatan tersebut mengalami kerusakan pada 26 Mei 2025. Kejadian itu terjadi setelah truk yang membawa pasir melintas di atasnya. “Selain faktor kendaraan berat, konstruksi jembatan yang sudah tua dan usang juga menjadi penyebab utama kerusakan,” ujar Nurjana saat berbicara di Kampung Hegarmanah, Kamis 16 Oktober 2025.
Menurut dia, di bawah jembatan terdapat aliran air yang cukup deras. Aliran tersebut secara perlahan mengikis struktur jembatan, sehingga memperparah kondisi kerusakannya. “Konstruksi jembatan ini tidak mampu menahan tekanan dari waktu ke waktu,” tambahnya.
Warga setempat mencoba melakukan perbaikan sementara dua hari setelah kejadian. Mereka menggunakan bambu dan kayu untuk memperkuat struktur jembatan. “Perbaikan ini dilakukan secara swadaya oleh warga, tanpa adanya bantuan dari pihak desa atau pemerintah kabupaten,” ujar Nurjana.
Awalnya, hanya bambu dan kayu yang digunakan. Namun, karena suara yang berisik, warga kemudian menambahkan campuran semen di satu sisi jembatan. Meski demikian, hasil perbaikan sementara ini belum mampu mengembalikan fungsi jembatan seperti semula.
Saat ini, jembatan dengan panjang sekitar 5 hingga 10 meter tersebut sama sekali tidak dapat dilintasi mobil. Bahkan, mobil yang membawa muatan berat tidak bisa melewatinya. “Hanya pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang masih bisa melintasi jembatan ini, tetapi harus dengan sangat hati-hati,” kata Nurjana.
Menurut Nurjana, banyak warga Kampung Hegarmanah yang bekerja di bidang pertanian dan perkebunan. Untuk itu, jembatan yang baik diperlukan sebagai jalur transportasi untuk membawa hasil tani maupun kebun mereka. “Tanpa jembatan yang layak, aktivitas ekonomi warga akan terganggu,” ujarnya.
Meski ada akses lain yang bisa dilalui mobil dengan muatan berat, akses tersebut memutar sekitar 2 hingga 3 kilometer ke arah jalan provinsi. “Ini membuat warga harus menghabiskan lebih banyak waktu dan biaya untuk berpindah lokasi,” imbuhnya.
Nurjana berharap pihak berwenang segera melakukan perbaikan jembatan yang rusak. Ia menilai, perbaikan jembatan ini bukan hanya penting untuk kebutuhan transportasi, tetapi juga untuk meningkatkan kesejahteraan warga setempat. “Jembatan ini adalah bagian dari infrastruktur penting yang harus dipertahankan dan diperbaiki,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan