PERAGI Jatim Selenggarakan Seminar Swasembada Gula

ForumNusantaraNews.com/08-11-2025. Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI) Komisariat Daerah Jawa Timur menyelenggarakan seminar nasional bertema “Optimalisasi Agroekosistem Tebu Menuju Swasembada Gula Nasional”. Acara tersebut diselenggarakan atas kerjasama antara PERAGI Komda Jatim dengan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya dalam rangka Dies Natalis ke-65. Pertemuan ilmiah bertajuk swasembada gula ini dihadiri oleh sivitas akademika Fakultas Pertanian UB, pakar, peneliti, pembuat kebijakan, praktisi pertanian, serta mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di Malang. Seminar ini membahas tren yang sedang berkembang, praktik inovatif, dan tantangan utama yang dihadapi sektor gula Indonesia saat ini.

Adapun topik utama yang diangkat meliputi: 1) Kebijakan hilirisasi komoditas perkebunan oleh Ketua Umum PERAGI, Prof. Dr. Ir. Andi Muhammad Syakir, M.S.; 2) Implementasi Perpres no x0 tahun 2023: Percepatan swasembada gula Indonesia dan penyediaan bioethanol sebagai bahan bakar nabati oleh PLT Dirjen Perkebunan Kementan RI, Dr. Abdul Roni Angkat, S.Tp., M.Si.; 3) Penerapan pertanian presisi pada agroekosistem tebu, oleh Prof. Dr. Ir. Sudiarso, M.S., guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya; 4) Optimalisasi peran pabrik gula untuk meningkatkan rendemen dan produktivitas tebu oleh Ir. Didid Taurisianto (Direktur Utama PT Kebon Agung); 5) Optimalisasi agroekosistem tebu menuju swasembada gula nasional oleh Ketua Umum Assosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Drs. H. Soemitro Samadikoen.

Tema swasembada gula di Indonesia diangkat dalam pertemuan ilmih ini karena peran strategis sektor gula bagi ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, dan ekonomi nasional. Sebagai produk dengan permintaan tinggi di Indonesia, swasembada gula dapat membantu mengurangi ketergantungan pada impor, yang seringkali mengakibatkan fluktuasi harga dan ketidakpastian pasokan. Menurut Prof. Syakir, seabad yang lalu Indonesia merupakan negara pengekspor gula terbesar kedua di dunia. Namun, saat ini negara kita adalah pengimpor gula terbesar di dunia. Kebutuhan gula domestik yang terus meningkat menunjukkan bahwa kebijakan yang mendukung peningkatan produksi gula lokal sangat dibutuhkan. Lebih lanjut Dr, Roni mengatakan, total konsumsi gula dalam negeri mencapai 2,8 juta ton, sedangkan produksi gula nasional hanya mencapai 2,6 juta ton. Kesenjangan ini menjadi peluang dan tantangan bagi kita. Lebih lanjut, Prof. Sudiaro merangkum bahwa permasalahan gula di Indonesia disebabkan pemborosan input, produktivitas rendah, ketergantungan impor dan permasalahan distribusi. Oleh krena itu, program swasembada gula perlu menjadi program prioritas nasional, tidak hanya untuk mencukupi kebutuhan gula domestik tetapi juga memiliki potensi untuk mendukung peningkatan kesejahteraan petani tebu serta pengembangan industri pengolahan gula yang lebih berkelanjutan dan efisien.

Keberhasilan swasembada gula tidak hanya bergantung pada aspek produksi, tetapi juga pada legislasi dan kebijakan yang mendukung, termasuk subsidi pupuk dan implementasi teknologi pertanian modern untuk meningkatkan hasil panen. Indikasi penurunan produksi gula menunjukkan bahwa intervensi kebijakan harus ditingkatkan untuk mencegah dampak negatif pada ketahanan pangan serta meningkatkan daya saing industri gula. Studi menunjukkan bahwa untuk mencapai swasembada gula, perlu melibatkan pemangku kepentingan di semua tingkatan, termasuk pemerintah, peneliti, civitas akademika, petani, dan industri terkait.

Prospek swasembada gula di Indonesia tergantung pada keberhasilan implementasi strategi yang holistik dan terpadu. Penelitian menunjukkan bahwa investasi dalam teknologi pertanian dan pengembangan infrastruktur dapat meningkatkan produktivitas gula yang berkelanjutan. Melalui kebijakan yang tepat, seperti subsidi sarana dan prasarana untuk petani dan pembentukan program pelatihan serta pemberdayaan, Indonesia bisa meningkatkan produksi gula dalam negeri sehingga tidak tergantung pada impor.

Sebagai tindak lanjut seminar ini ke depan juga penting untuk membahas swasembada gula dengan isu lintas sektoral seperti kesehatan terkait konsumsi gula, yang meningkat seiring dengan meningkatnya kasus penyakit tidak menular atau Noncommunicable Diseases (NCDs) seperti diabetes dan obesitas. Pengaturan dan pajak terhadap produk minuman manis dibahas sebagai salah satu solusi untuk mengendalikan konsumsi gula, yang dapat membantu mengurangi beban kesehatan masyarakat, sekaligus dapat mendukung swasembada gula. Kolaborasi antara pengambilan keputusan dan penelitian ilmiah penting untuk menyusun kebijakan berbasis bukti yang dapat menyeimbangkan kebutuhan produksi gula dengan kesehatan masyarakat.

Sebagi kesimpulan, seminar tentang swasembada gula di Indonesia tidak hanya relevan, tetapi juga diperlukan untuk menjawab tantangan yang ada di sektor ini. Dengan memadukan produktivitas yang berkelanjutan, kebijakan yang mendukung, dan kesadaran kesehatan masyarakat, Indonesia dapat menciptakan sistem yang merespons dengan baik terhadap kebutuhan gula domestik disamping juga menjaga kesehatan masyarakat dan kesejahteraan petani.

 

Penulis dan fotografer: Ketua Bidang Komunikasi dan Publikasi PERAGI Komda Jatim dan dosen Fakultas Pertanian Universitas Jember

Editor : Junaidi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *