Fenomena Motivasi yang Justru Menyebabkan Tekanan
Lini masa media sosial kini ramai membahas fenomena motivasi yang justru membuat seseorang merasa tertekan. Diskusi ini berawal dari unggahan seorang pengguna akun yang membagikan tangkapan layar status WhatsApp ibunya yang berisi kisah motivasi seorang anak tukang bangunan berhasil lulus S1 dan S2 di ITB lewat jalur fast track. Pemilik akun merasa pesan tersebut dimaksudkan untuk memotivasinya yang belum lulus kuliah meski telah masuk semester ke-9.
“Maaf bu, its not gonna motivate me, it just making me more questioning my selfworth…” tulisnya. Banyak warganet mengaku berada pada situasi serupa, ketika nasihat bernada motivasi justru terasa seperti tekanan baru. Lantas, mengapa motivasi kadang malah membuat seseorang semakin tertekan?
Alasan Motivasi Berbalik Jadi Tekanan
Seorang psikolog dari Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal menjelaskan bahwa motivasi tidak selalu berdampak positif. Dalam kondisi tertentu, dorongan yang dimaksudkan untuk menyemangati justru bisa menimbulkan perasaan gagal, cemas, atau tidak berharga. “Motivasi yang seharusnya menjadi pendorong positif, justru dalam beberapa kasus dapat berbalik arah dan membuat seseorang merasa down atau demotivasi,” ujarnya.
Fenomena ini biasanya muncul ketika motivasi disampaikan tanpa memahami kondisi emosional penerima atau pesan tersebut mengandung tekanan dan ekspektasi tinggi. Ada beberapa penyebab utama motivasi bisa berbalik jadi tekanan:
-
Tujuan yang tidak realistis
Motivasi sering kali mendorong seseorang menetapkan target yang terlalu tinggi dalam waktu singkat. Ketika target mustahil dicapai, kegagalan itu dapat diartikan sebagai bukti ketidakmampuan diri. Hal ini membuat seseorang semakin kehilangan semangat, bukan bertambah termotivasi. -
Terjebak dalam perbandingan sosial
Kisah sukses orang lain, baik teman, keluarga, maupun figur publik, dapat memicu rasa minder jika dijadikan standar yang harus dicapai. Padahal, setiap orang memiliki kondisi dan titik start yang berbeda. Motivasi yang datang dalam bentuk perbandingan kerap menciptakan tekanan tambahan dan membuat usaha diri sendiri terasa tidak berarti. -
Terlalu fokus pada hasil, bukan proses
Motivasi yang menekankan pencapaian eksternal, seperti pujian atau prestasi dapat membuat proses terasa sebagai beban. Ketika hasil tidak sesuai harapan, seluruh energi mental runtuh. Menurutnya, hal ini yang menyebabkan motivasi ekstrinsik sering tidak stabil. -
Bekerja terlalu keras hingga burn out
Dorongan untuk terus produktif, termasuk dalam budaya hustle, membuat banyak orang mengabaikan waktu istirahat. Kondisi ini menyebabkan burn out, yaitu kelelahan fisik dan mental yang parah, yang otomatis menurunkan motivasi.
Dinamika Psikologis di Balik Turunnya Motivasi
Danti menjelaskan, ada dua faktor psikologis yang sangat berperan dalam menjaga motivasi seseorang tetap sehat dan stabil:
-
Efikasi diri (self-efficacy)
Efikasi diri adalah keyakinan seseorang terhadap kemampuannya menyelesaikan suatu tugas. Efikasi diri rendah membuat seseorang merasa ragu, mudah menyerah, dan menghindari tantangan. Di titik itu, motivasi apa pun justru terasa menyakitkan. Sementara itu, orang dengan efikasi diri tinggi cenderung lebih tenang dan gigih menghadapi tantangan. -
Locus of control
Locus of control adalah keyakinan seseorang mengenai siapa atau apa yang mengendalikan hasil hidupnya. Ada dua jenis keyakinan ini: internal locus of control, yaitu meyakini bahwa usaha diri sendiri mempengaruhi hasil; dan external locus of control, yaitu ketika seseorang meyakini hasil hidup bergantung pada keberuntungan, nasib, atau orang lain. Menurutnya, motivasi lebih mudah runtuh jika seseorang memiliki external locus of control karena ia merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri.
Menyikapi Motivasi yang Membuat Down
Untuk membangun motivasi yang lebih sehat, Danti menekankan dua hal besar, yaitu meningkatkan efikasi diri dan membangun internal locus of control. Keduanya dapat dilatih melalui langkah-langkah berikut:
-
Meningkatkan efikasi diri
Untuk mengembangkan efikasi diri, Danti menyarankan untuk menguasai tugas-tugas kecil secara konsisten. Pecah tugas besar menjadi bagian kecil agar Anda bisa merasakan keberhasilan setiap hari. Keberhasilan kecil ini adalah bukti konkret bagi otak bahwa seseorang mampu. Menurutnya, melihat orang lain yang mirip dengan diri kita berhasil, juga dapat menambah keyakinan. Namun, Danti mengingatkan agar membedakan antara inspirasi dan perbandingan destruktif. Fokusnya harus pada proses, bukan pada hasil akhir seseorang. Ketiga, mendukung diri sendiri dengan kata-kata realistis. Alih-alih berkata “aku pasti gagal”, gunakan afirmasi netral dan berorientasi proses seperti “aku akan mencoba selangkah demi selangkah”. -
Membangun internal locus of control
Ia juga menyarankan untuk mengidentifikasi bagian dari masalah yang bisa diperbaiki melalui usaha pribadi. Hal-hal seperti cuaca, perilaku orang lain, atau keberuntungan bukan bagian dari kendali internal. Mencatat apa yang terjadi, apa yang sudah dilakukan dengan baik, dan apa yang bisa diperbaiki, juga perlu dipertimbangkan. Dengan cara ini, kegagalan menjadi bahan evaluasi, bukan hukuman. Terakhir, ia mengatakan bahwa motivasi perlu datang dari nilai dan keinginan pribadi, bukan tekanan sosial. Pertanyaan pentingnya adalah, apakah saya menginginkan ini, atau saya merasa saya seharusnya menginginkannya?
Namun, ia mengingatkan bahwa membangun motivasi yang sehat butuh waktu, tetapi sangat mungkin dilakukan. Dengan efikasi diri yang kuat dan locus of control yang lebih internal, seseorang akan lebih stabil dan tidak mudah jatuh saat mendapatkan dorongan dari luar.
Tinggalkan Balasan