Kolong Tol Wiyoto Wiyono Jadi TPS, Masyarakat Minta Dihentikan

Permintaan Perusahaan untuk Menghentikan Penggunaan Kolong Tol sebagai TPS

PT Citra Marga Nusaphala Persada (CMNP) mengajukan permintaan agar area kolong Tol Wiyoto Wiyono di RT 06, RW 05, Sungai Bambu, Tanjung Priok, Jakarta Utara, tidak lagi digunakan sebagai Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Permintaan ini muncul setelah kondisi sampah yang terus meningkat dan kekhawatiran akan aktivitas pengangkutan menggunakan alat berat yang berpotensi merusak struktur jembatan tol.

Corporate Secretary CMNP, Madeline, menyampaikan bahwa perusahaan berharap kolong tol tidak lagi digunakan sebagai TPS. Ia menegaskan bahwa lahan kosong di bawah tol seharusnya tidak dimanfaatkan untuk kegiatan apa pun demi menjaga keamanan dan keselamatan infrastruktur.

Menurut Madeline, pada tahun 2016 atau 2017, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta Utara meminta izin untuk menggunakan lahan tersebut sebagai lokasi transit sampah. CMNP memberikan izin karena meyakini pengelolaan akan dilakukan dengan baik oleh DLH. Namun, seiring meningkatnya volume sampah dan penggunaan alat berat untuk pengangkutannya, CMNP menilai kondisi ini berisiko terhadap infrastruktur. Oleh karena itu, perusahaan meminta agar lokasi pembuangan dialihkan.

Sebagai solusi, CMNP telah memfasilitasi keberadaan TPS di Waduk Cincin dan juga membangun akses jalan menuju TPS tersebut. Hal ini bertujuan untuk mengurangi beban pengangkutan sampah di area kolong tol dan menjaga kenyamanan serta keselamatan warga sekitar.

Kondisi di Lokasi: Warga Sebut ‘Bantargebang Mini’

Kolong tol di kawasan tersebut saat ini berubah menjadi TPS liar dengan tumpukan sampah yang sangat besar. Warga sekitar bahkan menyebut kawasan itu menyerupai lokasi pembuangan raksasa.

Ketua RT 06, RW 05, Ridwan (57), mengatakan bahwa kawasan ini seperti “Bantargebang mini”. Ia menyampaikan hal tersebut saat diwawancarai di lokasi. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa kolong tol berada di tengah permukiman padat. Masjid berjarak sekitar 20 meter dari tumpukan sampah, sedangkan sekolah berada sekitar 50 meter di depannya.

Tumpukan sampah di lokasi mencapai panjang sekitar 200 meter dengan ketinggian sekitar empat meter hingga hampir mencapai beton Tol Wiyoto Wiyono di atasnya. Beragam jenis sampah terlihat di lokasi, mulai dari sisa makanan, plastik, sterofoam, papan, kasur, hingga besi. Tumpukan tersebut juga telah bercampur air, membuat tanah di bawahnya becek dan gembur.

Dampak Terhadap Lingkungan dan Kesehatan

Kondisi ini menimbulkan berbagai masalah lingkungan dan kesehatan bagi warga sekitar. Bau busuk dari tumpukan sampah dapat mengganggu kenyamanan hidup warga. Selain itu, air limbah dari sampah dapat meresap ke dalam tanah dan berpotensi mencemari sumber air bersih. Hal ini juga berisiko terhadap kesehatan masyarakat, terutama anak-anak dan lansia yang rentan terhadap penyakit akibat polusi.

Selain itu, keberadaan sampah yang tidak dikelola dengan baik dapat menarik hewan seperti tikus dan lalat yang berpotensi menjadi vektor penyebaran penyakit. Kondisi ini juga bisa memicu peningkatan risiko banjir jika saluran air terganggu oleh sampah yang menumpuk.

Langkah yang Diperlukan

Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan langkah-langkah yang lebih efektif dan berkelanjutan. Pertama, pemerintah setempat harus segera melakukan evaluasi terhadap penggunaan kolong tol sebagai TPS. Jika tidak ada alternatif yang lebih baik, maka kolong tol harus segera ditutup dan dipindahkan ke lokasi yang lebih aman dan sesuai regulasi.

Kedua, perlu adanya peningkatan pengawasan terhadap pengelolaan sampah agar tidak terjadi pembuangan liar. Pemerintah juga harus memastikan bahwa semua TPS yang ada memiliki sistem pengelolaan yang baik dan ramah lingkungan.

Ketiga, masyarakat perlu didorong untuk lebih sadar akan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Edukasi tentang pengelolaan sampah secara mandiri dan partisipasi aktif dalam kebersihan lingkungan sangat diperlukan.

Dengan langkah-langkah ini, diharapkan kondisi lingkungan di sekitar kolong tol dapat segera diperbaiki dan kehidupan warga sekitar menjadi lebih nyaman dan sehat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *