Satu Minggu Pencarian 3 Warga Bandung Tertimbun Longsor

Tim Pencari dan Penyelamat Terus Lakukan Upaya Pencarian Korban Longsor di Arjasari

Tim pencari dan penyelamat (SAR) gabungan masih berupaya menemukan tiga orang warga yang diduga tertimbun longsoran tanah di wilayah Arjasari, Kabupaten Bandung. Hingga memasuki hari ketujuh, upaya pencarian belum memberikan hasil yang memuaskan. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung, Wahyudin, mengatakan bahwa keputusan untuk memperpanjang atau menghentikan operasi pencarian akan diambil pada sore hari.

Kendala Cuaca dalam Operasi Pencarian

Selama sepekan terakhir, tim SAR menghadapi kendala utama terkait cuaca. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta kondisi di lapangan, waktu pencarian hanya bisa dilakukan dari pagi hingga siang hari saat langit cerah. Sementara hujan mulai turun secara deras setelah tengah hari dan terus berlangsung hingga sore hari. Ketika hujan turun, aktivitas pencarian harus dihentikan untuk menjaga keselamatan petugas.

Dari pengamatan petugas yang berada di puncak bukit, pergerakan tanah masih terjadi secara minor di bagian atas. Hal ini ditunjukkan oleh pergeseran posisi pohon bambu yang mengarah ke bawah. Meskipun demikian, longsoran tanah susulan tidak sampai ke lokasi pencarian korban. Ketebalan tanah yang longsor di lokasi pencarian berkisar antara 3-4 meter, namun petugas belum berhasil mencapai lapisan dasar tanah.

Perluasan Titik Pencarian dan Metode yang Digunakan

Untuk meningkatkan efektivitas pencarian, tim SAR gabungan kini telah memperluas titik pencarian dari dua menjadi tiga lokasi yang relatif dekat dengan rumah tiga warga yang diduga tertimbun longsor. Proses pencarian dilakukan secara manual dan dibantu oleh alat berat.

Sebelumnya, pada Jumat sore, 5 Desember 2025, pukul 16.50 WIB, terjadi longsoran di Bukit Sinapeul yang menimpa hunian di lereng Kampung Condong, Desa Wargaluyu, Kecamatan Arjasari. Sebanyak tujuh rumah warga terdampak, dua di antaranya rusak berat. Tiga warga yang dilaporkan tertimbun longsor adalah Aisyah (60 tahun), Citra (20 tahun), dan Alfa (11 tahun). Satu korban lainnya, Ridwan (15 tahun), selamat tetapi mengalami patah tulang kaki kiri dan langsung dirawat di Rumah Sakit Welas Asih.

Pengungsian dan Sosialisasi Kewaspadaan

Menurut Wahyudin, sedikitnya sepuluh rumah warga di lereng bukit harus dikosongkan dan warganya mengungsi. Sementara itu, seratusan rumah lainnya di kaki bukit masih dapat ditempati. BPBD melakukan sosialisasi kepada masyarakat agar waspada jika terjadi hujan besar.

Penyebab Longsoran dan Rekomendasi dari Badan Geologi

Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa gerakan tanah yang terjadi merupakan jenis longsoran rotasional yang disebabkan oleh kondisi geologi dan kemiringan lereng yang curam. Faktor lain yang berkontribusi adalah curah hujan tinggi dalam durasi cukup lama dan sistem drainase yang kurang baik di sekitar lokasi bencana.

Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat yang tinggal di dekat lokasi bencana segera mengungsi ke area yang lebih aman. Alasannya karena daerah tersebut masih memiliki potensi longsor susulan. Selain itu, mereka juga menyarankan agar evakuasi dan pencarian korban dilakukan dengan memperhatikan kondisi cuaca dan lereng yang curam.

Langkah Mitigasi dan Pencegahan

Untuk mencegah terulangnya bencana, Badan Geologi menyarankan agar bangunan atau rumah warga yang terdampak direlokasi ke daerah yang aman. Pembuatan sempadan atau terasering serta penanaman vegetasi dengan akar kuat dan dalam disarankan untuk menjaga stabilitas lereng. Selain itu, pemasangan rambu-rambu rawan dan jalur evakuasi penting dilakukan sesuai anjuran petugas.

Pemantauan rutin juga dianjurkan agar potensi gerakan tanah atau longsor susulan dapat dideteksi lebih dini. Sosialisasi kepada masyarakat tentang gejala-gejala awal gerakan tanah juga menjadi bagian penting dari mitigasi bencana. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan masyarakat lebih siap menghadapi risiko bencana yang bisa terjadi kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *