Persiapan Bandara Mutiara Sis Aljufri Menuju Layanan Penerbangan Internasional
Bandara Mutiara Sis Aljufri di Palu, Sulawesi Tengah, sedang mempersiapkan diri untuk menjadi bandara internasional. Proses ini melibatkan berbagai pembenahan infrastruktur dan pengelolaan yang harus diperhatikan agar operasional dapat berjalan lancar.
Fokus Utama pada Pembenahan Fasilitas
Kepala Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu, Prasetyohadi, menjelaskan bahwa persiapan terminal menjadi prioritas utama sebelum layanan penerbangan internasional diresmikan. Menurutnya, kesiapan fisik terminal sangat penting agar tidak ada hambatan selama operasional berlangsung. Beberapa fasilitas penunjang seperti area keberangkatan dan kedatangan kini sedang dilengkapi sesuai standar internasional.
Selain itu, bandara juga mulai mengalokasikan anggaran khusus untuk mendukung rencana tersebut. Prasetyohadi menyebutkan bahwa sebagian dari anggaran renovasi terminal telah disiapkan pada tahun ini dan akan dilanjutkan pada awal 2026. Hal ini menunjukkan komitmen yang kuat dari pengelola bandara dalam menjalankan proyek besar ini.
Komunikasi dengan Pengusaha dan Pemerintah
Prasetyohadi juga menyampaikan bahwa sudah ada beberapa pembicaraan awal terkait rute penerbangan internasional. Beberapa pengusaha disebut tertarik membuka jalur dari China ke Palu, lalu ke Morowali. Koordinasi ini dilakukan melalui Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.
Namun, ia menegaskan bahwa waktu pembukaan rute internasional masih bergantung pada kesiapan fasilitas bandara, termasuk karantina, imigrasi, dan bea cukai (QIC), serta kesiapan maskapai yang akan beroperasi. Kesiapan maskapai, baik asing maupun domestik, juga menjadi faktor penting karena ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi di pusat.
Target Operasional Maksimal
Meski begitu, pengelola bandara menargetkan layanan internasional dapat berjalan secara maksimal pada awal 2026. Prasetyohadi berharap bahwa pelayanan bisa berjalan di bulan April atau paling cepat Maret 2026. Ia menegaskan bahwa upaya terbaik akan dilakukan agar target tersebut tercapai.
Sejarah Singkat Bandara Mutiara Sis Aljufri
Bandara Mutiara Sis Aljufri memiliki sejarah panjang sejak pertama kali dibangun. Pada tahun 1954, bandara ini bernama Masowu dalam wilayah administratif Kabupaten Donggala. Nama Masowu berasal dari bahasa daerah Kaili yang berarti “Berdebu”. Pada masa itu, bandara hanya berupa lapangan terbang.
Lapangan terbang Masowu digunakan selama kurang lebih dua tahun yaitu 1954-1957. Pada tahun 1957, lapangan terbang ini secara resmi beroperasi. Presiden Republik Indonesia Soekarno memberikan nama Lapangan Terbang “Mutiara”.
Pada tahun 2014, bandara ini resmi berganti nama menjadi Bandar Udara Mutiara Sis Aljufri Palu. Perubahan nama ini sesuai dengan SK Menteri Perhubungan Nomor KP 178 tahun 2014. Nama Sis Aljufri diambil dari tokoh besar di Sulawesi Tengah yang berperan dalam pencerdasan masyarakat melalui dakwah dan pendidikan.
Pengelolaan bandara juga beberapa kali berpindah tangan. Awalnya dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Donggala (1963), kemudian diserahterimakan kepada Departemen Perhubungan Udara/Direktorat Penerbangan Sipil dan Kepala Pelabuhan Udara Mutiara (28 Oktober 1964).
Pada tahun 1995, Bandara Mutiara Sis Aljufri Palu diklasifikasikan sebagai bandar udara kelas II, kemudian naik menjadi kelas I pada tahun 2008. Kini, bandara ini bakal menjadi bandar udara internasional berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 37 dan KM 38 Tahun 2025.
Tinggalkan Balasan