Kisah penyelenggara acara soal lesunya festival musik tahun ini

Tantangan Festival Musik di Tahun 2025

Banyak penyelenggara festival musik menghadapi berbagai tantangan yang membuat tahun 2025 menjadi tahun yang penuh tekanan. Mereka menghadapi penjualan tiket yang stagnan atau bahkan menurun, serta kesulitan dalam mendapatkan sponsor. Hal ini terjadi tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara di kawasan Asia.

Salah satu contohnya adalah Plainsong Live, sebuah penyelenggara festival musik yang juga merupakan pendiri Joyland Festival. Ferry Dermawan, salah satu pendiri Plainsong Live, menyatakan bahwa kondisi ini bukanlah hal baru. Ia menjelaskan bahwa selama bertahun-tahun, industri musik live event mengalami berbagai perubahan dan tantangan. Namun, tahun ini terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya.

Ferry telah bekerja di industri live event sejak tahun 2009. Ia mengungkapkan bahwa ada dua tantangan utama yang dihadapi pada tahun 2025. Pertama, ia kesulitan dalam mendapatkan artis internasional yang mampu mengamankan pendapatan acara. Kedua, ketidakpastian dari para sponsor. Menurut Ferry, tahun ini menjadi tahun terberat bagi Plainsong Live dalam sejarah keberadaannya di industri ini.

Tantangan serupa juga dialami oleh penyelenggara Synchronize Fest. David Karto, direktur festival tersebut, mengatakan bahwa sinyal perlemahan telah terlihat sejak beberapa waktu lalu. Ia menilai bahwa situasi yang sama terjadi di Jepang dan Eropa, yaitu fenomena PHK yang marak dan daya beli masyarakat yang menurun. Hal ini berdampak langsung pada industri ekonomi kreatif, termasuk festival musik.

David mengaku hampir putus asa karena banyak sponsor yang memilih untuk menunggu dan melihat. Sampai Juli, semua proposal yang dikirimkan tidak mendapatkan respons yang jelas. Banyak sponsor hanya menjawab dengan “kami pelajari dulu” tanpa adanya tindak lanjut. Hal ini semakin memperparah kesulitan yang dihadapi Synchronize Fest.

Aldila Karina, direktur komunikasi Synchronize Fest, menambahkan bahwa penjualan tiket tahun ini tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. Selain karena daya beli yang menurun, ia juga menduga perubahan kebiasaan penonton dalam membeli tiket mendekati hari-H turut memengaruhi angka penjualan. Meskipun demikian, jumlah pengunjung Synchronize Fest tahun ini masih relatif stabil, yaitu sekitar 30 ribu orang, sama seperti tahun sebelumnya.

Dalam laporan Majalah Tempo edisi 14 Desember 2025 berjudul “Festival Musik 2026: Sesak Penonton, Senyap Sponsor”, Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menyebutkan bahwa tren konsumsi masyarakat saat ini cenderung bergerak ke arah belanja pengalaman atau experience economy. Akan tetapi, pemulihan daya beli tidak merata di semua kelompok pendapatan.

Menurut Josua, kelas menengah-atas masih menjadi pendorong utama permintaan hiburan. Sementara itu, kelas menengah inti masih berhati-hati dan cenderung menunda pembelian. Ia memprediksi bahwa permintaan terhadap pertunjukan musik akan tetap tumbuh pada tahun 2026, meskipun tidak seagresif dua tahun terakhir. “Preferensi masyarakat berubah, tapi daya beli sebagian segmen belum pulih,” ujar Josua.

Caesar Akbar berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *