Kolaborasi Manusia dan Robot Berbasis Gerakan Mata
Sebuah penelitian inovatif yang menggabungkan antara manusia dan robot berbasis eye-gaze atau gerakan mata telah dilakukan oleh Engelbert Harsandi Erik Suryadarma dari Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY). Penelitian ini dikembangkan di Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo dan menjadi salah satu pencapaian penting dalam bidang interaksi manusia-mesin di era Revolusi Industri 5.0.
Erik, yang baru saja meraih gelar doktor dari Program Studi Doktor Teknik Industri UNS, merupakan lulusan dengan capaian studi tercepat, yaitu dua tahun dua bulan. Ia berhasil mencapai indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna sebesar 4,00. Penelitiannya fokus pada human-robot collaboration, sebuah pendekatan yang menempatkan manusia dan robot sebagai mitra kerja yang setara.
Dalam penelitiannya, Erik mengembangkan interface berbasis gerakan mata yang memungkinkan manusia mengendalikan dan berkomunikasi dengan robot tanpa sentuhan atau perangkat tambahan yang harus dipasang pada tubuh. Teknologi ini memberikan interaksi yang lebih alami, cepat, dan aman. Menurut Erik, teknologi ini sangat relevan digunakan dalam lingkungan berbahaya atau area steril seperti industri farmasi.
Penelitian ini juga menjawab kritik terhadap otomatisasi industri yang selama ini cenderung mengabaikan peran manusia. Erik menyatakan bahwa ide penelitiannya berasal dari refleksi kritis terhadap perjalanan revolusi industri. Dalam Industri 3.0, otomatisasi besar-besaran mulai muncul, disusul oleh Industri 4.0 yang memperkuatnya dengan teknologi IoT dan kecerdasan sistem. Namun, kedua revolusi tersebut secara tidak sadar membuat manusia tersingkir dari pabrik.
Revolusi Industri 5.0 hadir untuk mengembalikan manusia ke dalam sistem produksi, bukan sebagai tenaga kerja manual, melainkan sebagai kolaborator teknologi. Erik berargumen bahwa robot unggul dalam kecepatan dan konsistensi, sementara manusia memiliki kelebihan pada fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi. “Robot membutuhkan pemrograman ulang ketika kondisi berubah, sedangkan manusia bisa langsung beradaptasi. Di sinilah kolaborasi menjadi kunci,” ujarnya.
Kontribusi riset ini mendapat pengakuan internasional. Dalam waktu dua tahun, Erik telah menghasilkan dua artikel di jurnal internasional top-tier Q2 Scopus, satu artikel Q3, serta sejumlah prosiding internasional terindeks Scopus. Beberapa publikasi lanjutan masih dalam proses peer-review.
Riset ini dikembangkan di bawah bimbingan Prof. Pringgo Widyo Laksono, seorang pakar sistem cerdas, robotik, dan otomasi di UNS. Erik menilai lingkungan akademik UNS sangat mendukung riset interdisipliner dan pengembangan inovasi berbasis kebutuhan industri masa depan.
Ke depan, Erik berharap riset ini dapat terus dikembangkan melalui kolaborasi antara UNS dan UAJY, khususnya untuk memperkuat peran manusia dalam sistem industri berbasis teknologi cerdas. “Manusia dan robot bukan untuk saling menggantikan, tetapi saling melengkapi,” katanya.
Tinggalkan Balasan