5 Fakta Menarik Pari Barong, Spesies Langka yang Terancam Punah

Ciri Fisik yang Membuat Pari Barong Mirip Hiu Martil

Jika melihat ikan dengan penampilan mirip hiu martil, pasti pikiran pertama kita langsung terarah pada spesies hiu martil (famili Sphyrnidae). Namun, di lautan yang luas, masih ada kelompok ikan dengan ciri fisik cukup mirip dengan hiu martil, salah satunya adalah pari barong (Rhina ancylostoma). Meski memiliki kerabat dekat, pari barong lebih termasuk dalam kelompok ikan pari ketimbang ikan hiu.

Ciri fisik pari barong sangat menarik untuk diperhatikan. Mereka memiliki tubuh memanjang, dua sirip punggung yang mirip hiu, sepasang sirip dada berukuran besar, dan satu pasang sirip dada lagi yang lebih kecil. Yang paling menonjol adalah moncong mereka yang melebar, cenderung tumpul, serta ditutupi tonjolan seperti duri yang tebal di tengah kepala dan tepi mata. Soal warna, pari barong memiliki sisik berwarna abu-abu tua di bagian punggung dan putih di perut, dengan banyak corak totol putih di seluruh tubuhnya.

Ukuran dan Persebaran Pari Barong

Pari barong mampu tumbuh hingga panjang antara 2,4—2,9 meter dengan bobot maksimum mencapai 135 kg. Meskipun tampak seperti hiu martil, mereka memiliki habitat dan perilaku yang berbeda. Persebaran pari barong cukup luas, mulai dari Samudra Pasifik bagian barat, Jepang utara, Australia utara, pulau-pulau sekitar Samudra Hindia, pesisir Afrika Selatan, Laut Merah, Teluk Arab, dan sebagian timur India.

Meski tersebar luas, pari barong tidak tinggal di kedalaman laut yang dalam. Mereka lebih suka berada di perairan dangkal dengan kedalaman antara 1—20 meter. Jika tidak ada di sana, mereka tidak akan berada lebih dalam dari 90 meter di bawah permukaan laut. Habitat mereka biasanya berupa terumbu karang atau sekitar hutan bakau dengan adanya sedimen pasir atau lumpur untuk beristirahat atau bersembunyi.

Pola Makan dan Cara Mendapatkan Mangsa

Pari barong termasuk karnivor sejati yang mengonsumsi berbagai spesies moluska dan krustasea yang berada di dasar laut. Biasanya, mangsa ini mengubur diri di dalam sedimen sehingga sulit dideteksi. Namun, pari barong memiliki cara khusus untuk menemukan mangsa mereka. Mereka mengandalkan indera penciuman karena penglihatan yang tidak optimal (mata mereka terletak di atas kepala).

Setelah mencium aroma mangsa, mereka langsung menangkapnya dengan kepala sambil mengais-ngais sedimen tersebut. Ketika mangsa sudah terangkat dan bisa masuk ke mulut, pari barong segera menggigit target dengan kuat. Gigi yang bergerigi membantu mereka menghancurkan cangkang moluska dan krustasea tanpa kesulitan.

Sifat Misterius dan Perilaku yang Masih Dicari Jawaban

Meski tersebar luas dan tinggal dekat pesisir pantai, banyak hal tentang pari barong yang masih misterius. Baik itu perilaku khusus maupun kebiasaan sehari-hari mereka masih dalam proses penelitian. Misalnya, duri khas di area kepala diduga sebagai senjata untuk sundulan pada objek tertentu, seperti predator besar. Namun, belum ada catatan resmi soal penggunaan teknik sundulan ini. Salah satu fungsi duri tersebut adalah untuk mencegah gigitan mematikan dari predator alami.

Sistem Reproduksi yang Masih Tertutup Misteri

Sistem reproduksi pari barong juga masih menjadi misteri. Mereka diketahui sebagai hewan ovovivipar, artinya betina tetap bertelur, tapi telur diletakkan di dalam tubuh hingga menetas dan mengalami masa mengandung sampai anak siap dilahirkan. Dalam satu musim kawin, pari barong betina dapat menghasilkan 2—11 ekor anak dengan rata-rata sekitar 7—8 ekor. Saat baru lahir, anak pari barong sudah memiliki panjang sekitar 45 cm dan langsung hidup mandiri tanpa bantuan induk. Usia mereka di alam liar diperkirakan mencapai 7 tahun jika berada di kawasan yang dilindungi.

Status Konservasi yang Mengkhawatirkan

Salah satu alasan mengapa pari barong sulit diteliti meski persebarannya luas adalah populasi yang semakin menipis. Berdasarkan IUCN Red List, status konservasi pari barong sudah masuk dalam kategori “Critically Endangered”. Penurunan populasi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti jeratan nelayan yang menebar jaring hingga ke dasar laut. Selain itu, ada nelayan nakal yang sengaja menargetkan pari barong demi mengambil daging dan sirip yang bernilai ekonomi tinggi.

Polusi di pesisir laut akibat aktivitas manusia juga menjadi ancaman bagi pari barong. Meski perlindungan telah diterapkan di banyak negara, perburuan liar masih terjadi karena nilai pasar daging dan sirip mereka. Ini menjadi alarm bagi kita untuk lebih giat mengedukasi dan menegakkan hukum terhadap nelayan bandel yang masih menangkap pari barong di alam. Sayang sekali, kalau ikan seunik ini sampai punah karena keserakahan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *