Populasi Harimau di Leuser Ternyata Lebih Banyak

Penemuan Menarik Mengenai Populasi Harimau Sumatra di Ekosistem Leuser

Penggunaan kamera jebak dalam survei yang dilakukan di ekosistem Leuser, Aceh, berhasil menangkap keberadaan jumlah harimau sumatra yang cukup mengejutkan. Survei ini sudah berlangsung selama tiga tahun dan melibatkan pemasangan 52 hingga 64 set kamera jebak. Keterlibatan masyarakat adat Gayo dalam pemasangan kamera menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan survei.

Survei ini dilakukan oleh peneliti gabungan dari beberapa lembaga dan universitas terkemuka. Mereka berasal dari Hutan Harimau yang berbasis di Padang, Sumatera Barat; Gayo Hijau Lestari dan Universitas Gajah Putih di Takengon, Aceh; serta Leuser International Foundation di Banda Aceh. Selain itu, ada juga seorang perwakilan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di Takengon.

Kamera jebak ditempatkan di dalam kawasan hutan di bagian luar Taman Nasional Gunung Leuser, tepatnya di bentang utara Leuser, Aceh. Wilayah ini memiliki ketinggian rata-rata 693 meter di atas permukaan laut. Di dalamnya terdapat berbagai jenis hutan seperti hutan lindung, hutan produksi, dan hutan area penggunaan lain (APL).

Dalam jangka waktu 90 hari pada 2023, jaringan kamera merekam 17 harimau. Angka tersebut meningkat menjadi 18 individu pada 2024. Namun, survei terkini pada 2025 hanya menangkap gambar tujuh harimau. Meskipun demikian, total hasil survei mengidentifikasi 14 harimau sumatera betina dewasa, 12 jantan dewasa, dan tiga anak harimau. Satu harimau dewasa tidak diketahui secara jelas jenis kelaminnya.

Joe Figel, peneliti harimau sumatera dari Hutan Harimau, menyatakan bahwa hasil survei ini sangat mengejutkannya. Menurutnya, kepadatan populasi yang ditemukan melampaui hasil studi-studi sebelumnya yang pernah dilakukan di seluruh Sumatera. “Ini adalah hasil yang sangat menjanjikan, hasil dari begitu besar upaya yang dilakukan di kawasan,” ujarnya.

Dalam laporan yang diterbitkan jurnal Frontiers in Conservation Science, Figel dan rekan-rekannya mengklaim hasil studi paling kuat atas populasi harimau sumatera yang menggunakan kamera jebak. Berdasarkan hasil survei 90 dan 180 hari, kerapatan populasi harimau mendapati kisaran 1,42–2,35 individu per 100 kilometer persegi. Jumlah ini 2,5–4,1 kali lebih tinggi daripada angka perkiraan terakhir di Taman Nasional Gunung Leuser.

Deborah Martyr dari Flora and Fauna International menilai data tersebut lebih bisa diandalkan dibandingkan data sebelumnya. Martyr sendiri tidak terlibat dalam survei.

Harimau Sumatera terancam oleh perburuan liar dan kebutuhan obat-obatan tradisional Cina. Selain itu, habitat mereka semakin terdesak karena izin-izin usaha pemanfaatan hutan. Sejauh ini, perkiraan populasi harimau sumatera berada pada kisaran jumlah 173 sampai 883 ekor.

Figel menilai jumlah populasi di ekosistem Leuser masih cukup besar dikarenakan hutan dataran rendah itu masih kaya hewan buruan harimau. Terutama rusa sambar, yang juga kerapatan populasinya terekam dalam survei yang sama bersama sejumlah jenis satwa lainnya seperti kijang dan babi hutan.

Figel juga menyorot patroli rutin bulanan yang kemungkinan telah berhasil menekan para pemburu. Ia berharap masih akan ada penambahan lagi jumlah anggota patroli hutan. “Apa lagi yang kita tunggu karena harimau-harimau yang ada di Vietnam, Kamboja, dan Laos sudah punah,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *