Menteri Perhubungan Dudy Minta BP BUMN–Danantara Tambah Armada Pelni untuk Wilayah Timur Indonesia

Menteri Perhubungan Soroti Beban Pelni dalam Melayani Wilayah Timur

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyampaikan perhatian khusus terhadap tantangan yang dihadapi PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni), khususnya dalam melayani mobilitas masyarakat di wilayah Indonesia Timur. Hal ini dilakukan sebagai respons terhadap lonjakan jumlah penumpang yang terjadi saat libur Natal.

Dudy mengungkapkan bahwa ia telah melakukan pertemuan dengan Badan Pengelola BUMN dan juga Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk meminta tambahan serta peremajaan armada kapal Pelni. Ia menekankan bahwa permintaan ini sudah disampaikannya dalam berbagai kesempatan, dengan tujuan agar layanan transportasi laut yang menjadi tulang punggung pergerakan warga di kawasan timur dapat berjalan lebih aman dan manusiawi.

“Kita mendorong Pelni untuk menambah armada. Kami di berbagai kesempatan sudah menyampaikan kepada BP BUMN dan Danantara supaya kapal-kapal Pelni dilakukan peremajaan dan ditambah, agar bisa melayani saudara-saudara kita, khususnya di wilayah timur yang sangat bergantung pada layanan transportasi laut,” ujar Dudy dalam acara Media Briefing.

Ia tidak menampik bahwa di lapangan sering muncul dilema besar bagi operator kapal. Ketika terjadi lonjakan penumpang, awak kapal sering berada dalam posisi sulit. Menurut laporan yang diterimanya, jika penumpang tidak diangkut karena melebihi kapasitas, risikonya justru bisa lebih besar.

“Kalau saya dengar laporannya, kalau tidak diangkat kantornya dirusak. Para pegawai diancam. Kemudian khawatirnya terhadap sarana angkutannya yang kemudian dirusak. Akhirnya tetap diangkat,” katanya secara blak-blakan.

Di sisi lain, Dudy menilai salah satu penyebab utama lonjakan penumpang adalah kebiasaan masyarakat yang belum terbiasa merencanakan perjalanan jauh-jauh hari. Selain itu, jadwal kapal Pelni memang tidak setiap hari singgah di pelabuhan tertentu.

“Masyarakat kita ini kan tidak terbiasa barangkali melakukan perencanaan perjalanan. Sudah tahu bahwa kapal itu singgahnya waktu tertentu, mungkin seminggu sekali, selalu pulangnya ya sama-sama pada saat yang sama,” jelas Dudy.

Kondisi ini, lanjutnya, membuat lonjakan penumpang kerap terjadi dalam satu waktu bersamaan. Akibatnya, tekanan terhadap operator kapal semakin besar.

“Nah makanya itulah timbul kemudian ledakan penumpang yang cukup tinggi. Tidak diangkat salah, diangkat salah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *