Gelombang lubang tanah yang sulit dikendalikan

Fenomena Sinkhole dan Proses Terbentuknya

Sinkhole atau lubang tanah ambles sering terjadi di berbagai wilayah di dunia, termasuk di Indonesia. Salah satu contoh terbaru adalah kejadian di area sawah di Sumatera Barat. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran karena dampaknya yang bisa sangat besar terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Menurut Adrin Tohari, Kepala Pusat Riset Kebencanaan Geologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sinkhole dengan diameter besar sulit untuk dikembalikan ke kondisi semula. Hal ini disebabkan oleh adanya air di dalamnya, sehingga sulit dilakukan penimbunan dan pemadatan. Jika lubang tersebut dalam kondisi kering, kemungkinan besar dapat ditimbun kembali dengan material yang cepat memadat. Namun, diperlukan jumlah material yang cukup besar untuk proses ini.

Salah satu metode yang digunakan untuk mencegah runtuhan di lapisan batu gamping adalah injeksi grouting. Metode ini biasanya digunakan pada rongga-rongga kecil di lapisan batu gamping. Proses ini melibatkan penggunaan bahan seperti semen, mortar, atau bahan kimia khusus yang diinjeksikan ke dalam tanah menggunakan pompa bertekanan tinggi. Tujuannya adalah untuk mengisi rongga dan mencegah terbentuknya sinkhole.

Adrin menyebutkan bahwa fenomena sinkhole sering terjadi di daerah yang memiliki lapisan batu gamping, seperti Gunung Kidul, Pacitan, dan Maros. Proses keruntuhan ini terjadi secara perlahan akibat pengaruh air hujan yang bersifat asam. Air hujan menyerap karbon dioksida dari udara dan permukaan tanah, sehingga meningkatkan sifat asamnya. Proses ini mempercepat pelarutan batu gamping dan memperluas rongga di bawah tanah.

Tanda-tanda terjadinya sinkhole sulit dilihat secara langsung karena proses pembentukan rongga berlangsung perlahan dan terjadi di bawah permukaan tanah. Namun, keberadaan rongga batu gamping dapat diidentifikasi melalui survei geofisika dengan metode seperti gaya berat, georadar, dan geolistrik. Metode ini memberikan gambaran tentang kondisi bawah permukaan, sehingga potensi terjadinya sinkhole dapat diantisipasi lebih awal.

Sebelumnya, terdapat laporan tentang terbentuknya sinkhole di area sawah Jorong Tanah Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Kejadian ini terjadi pada hari Ahad 4 Januari 2026 pukul 11.00 WIB. Menurut data dari Badan Geologi, sinkhole ini memiliki diameter 10 meter dan kedalaman 7 meter, serta disertai genangan air. Dalam laman resmi Badan Geologi, sinkhole yang terjadi termasuk tipe cover-collapse khas, di mana rongga batu gamping tertutup oleh lapisan tanah alluvial atau endapan gunung api.

Mekanisme utama terbentuknya sinkhole adalah pelepasan butir ditambah dengan erosi buluh (piping) yang dipercepat oleh hujan ekstrem. Air hujan dan air tanah bergerak ke bawah melalui pori-pori dan rekahan batuan karbonat. Proses ini mempercepat pelarutan batu gamping dan memperluas rongga di bawah tanah. Ketika rongga melewati ambang stabilitas geomekanik, langit-langit rongga ambruk secara tiba-tiba, menyebabkan tanah di atasnya ambles.

Genangan air di dasar sinkhole menunjukkan hubungan dengan saluran air bawah tanah. Batuan yang berada di bawah lapisan tanah penutup diperkirakan merupakan bagian dari Formasi Kuantan yang mengalami karstifikasi. Proses ini menyebabkan terbentuknya rongga dan sungai bawah tanah. Dengan memahami proses ini, masyarakat dan pihak berwenang dapat lebih siap dalam menghadapi ancaman sinkhole.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *