Aktivitas Gunung Slamet Meningkat Sejak Sabtu

Peningkatan Aktivitas Gunung Slamet Dengan Status Waspada

Gunung Slamet, yang berada di wilayah Jawa Tengah, saat ini sedang mengalami peningkatan aktivitas vulkanik. Hal ini terlihat dari peningkatan jumlah gempa embusan serta adanya indikasi peningkatan gas magmatik. Meski demikian, tingkat aktivitas gunung tersebut masih tetap pada level II atau Waspada.

Sebagai bagian dari langkah pencegahan, masyarakat dan pengunjung diminta untuk tidak berada maupun beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah puncak gunung. Rekomendasi ini dikeluarkan oleh Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Satrianya, melalui keterangan tertulis yang dirilis pada Ahad, 11 Januari 2026.

Berdasarkan data kegempaan selama periode 1 hingga 11 Januari 2026, hingga pukul 6 WIB, tercatat sejumlah besar gempa embusan, yaitu sebanyak 321 kali, disusul dengan 993 kali gempa frekuensi rendah dan satu kali gempa tektonik jauh. Peningkatan gempa embusan ini pertama kali terdeteksi pada Sabtu, 10 Januari 2026, pukul 21.37.

Gempa embusan yang terjadi pada Gunung Slamet, yang memiliki ketinggian 3.432 meter di atas permukaan laut, tercatat secara teratur dengan amplitudo dan durasi yang relatif seragam. Menurut Lana, hasil pengamatan dan analisis data pemantauan menunjukkan bahwa ada peningkatan tekanan di bawah tubuh gunung yang memicu munculnya gempa dangkal dan meningkatkan kemungkinan terjadinya erupsi.

Sementara itu, dari hasil pemantauan deformasi, kondisi gunung tersebut terlihat relatif stabil. Gunung Slamet merupakan gunung api strato dengan bentuk kerucut. Secara administratif, gunung ini berada di wilayah Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga, provinsi Jawa Tengah.

Erupsi terakhir dari Gunung Slamet terjadi pada periode Maret hingga September 2014, yang berupa erupsi abu disertai semburan lava. Pada September hingga Oktober 2023, sempat terjadi peningkatan aktivitas kegempaan yang diikuti oleh kenaikan amplitudo tremor.

Peningkatan tremor yang berkelanjutan serta kemunculan tremor harmonik berdurasi panjang menandai kembali peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Slamet. Hal ini berkaitan dengan pemanasan fluida dan aktivitas embusan di kedalaman dangkal.

Sejak tanggal 19 Oktober 2023, status aktivitas Gunung Slamet ditetapkan oleh Badan Geologi pada level II atau Waspada. Sekitar Mei 2024, tercatat peningkatan gempa vulkanik dalam yang mengindikasikan suplai magma ke arah permukaan. Hal ini diikuti oleh peningkatan gempa dangkal dan tremor menerus hingga akhir 2024.

Hingga saat ini, aktivitas seismik Gunung Slamet masih bersifat fluktuatif, didominasi oleh gempa frekuensi rendah dan tremor menerus tanpa disertai erupsi maupun perubahan visual yang signifikan. Perlu dilakukan pemantauan lebih lanjut agar dapat memberikan informasi yang akurat dan memastikan keselamatan masyarakat sekitar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *