Katalis Positif COIN: Dari Potensi Pasar Kripto ke Masuknya Arsari Group milik Hashim Djojohadikusumo

Peluang Pertumbuhan Jangka Panjang PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN)

PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN), yang merupakan emiten aset digital, memiliki berbagai katalis positif yang dapat mendukung pertumbuhan jangka menengah hingga panjang. Beberapa faktor tersebut meliputi prospek pertumbuhan transaksi kripto di dalam negeri, pengembangan pasar derivatif kripto, serta masuknya Arsari Group sebagai pemegang saham pada akhir 2025.

Berada di Jalur Strategis

Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Erni Marsella Siahaan, menjelaskan bahwa COIN berada di posisi strategis untuk menjadi penerima manfaat utama dari pertumbuhan ekonomi kripto Indonesia. Perusahaan ini beroperasi sebagai perusahaan induk yang mengendalikan infrastruktur utama pasar kripto melalui dua entitas kunci, yaitu Central Finansial X (CFX) selaku bursa kripto berlisensi dan Kustodian Koin Indonesia (ICC) sebagai kustodian aset kripto berlisensi.

Berbeda dengan platform kripto ritel, COIN berfungsi sebagai operator bursa bagi perusahaan-perusahaan pedagang aset kripto. Model bisnisnya menyerupai bursa saham konvensional. Sebagai satu-satunya bursa kripto terlisensi di Indonesia, seluruh transaksi pedagang kripto harus dilaporkan melalui CFX. Hal ini menempatkan COIN sebagai pihak yang memperoleh manfaat langsung dari peningkatan aktivitas perdagangan kripto di dalam negeri, seiring dengan pertumbuhan jumlah investor dan volume transaksi.

Model Pendapatan Berbasis Komisi

Dalam hal kinerja keuangan, COIN mengandalkan model pendapatan berbasis komisi atau fee-based. Kontribusi terbesar berasal dari biaya transaksi. Ciptadana Sekuritas memperkirakan bahwa biaya transaksi akan menyumbang sekitar 85%–86% dari total pendapatan perseroan pada periode 2025–2027, diikuti oleh pendapatan kustodian pada kisaran 8–9%.

Peningkatan volume perdagangan dinilai akan memperkuat leverage operasional COIN, mengingat struktur biaya yang relatif tetap dan berbasis teknologi. Sekuritas ini juga memperkirakan pertumbuhan laba COIN dengan pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) tiga digit hingga 2029. Skala ekonomi berpotensi mendorong ekspansi margin yang signifikan seiring dengan pertumbuhan volume transaksi.

Peluncuran Pasar Derivatif Kripto

Katalis pertumbuhan berikutnya datang dari peluncuran pasar derivatif kripto di Indonesia. Secara global, instrumen derivatif menyumbang sekitar 70% dari total aktivitas pasar kripto. Namun di Indonesia, segmen ini masih berada pada tahap awal. Ciptadana Sekuritas menilai pasar derivatif berpotensi menjadi mesin pertumbuhan utama COIN dan diproyeksikan dapat melampaui transaksi spot dalam beberapa tahun ke depan.

Masuknya Arsari Group sebagai Pemegang Saham

Di luar faktor operasional, masuknya Arsari Group, grup usaha milik Hashim Djojohadikusumo, sebagai pemegang saham pada Desember 2025 turut memperkuat persepsi strategis terhadap COIN. Erni menjelaskan bahwa katalis positif ini khususnya dalam konteks pengembangan ekosistem aset digital nasional. Masuknya Arsari Group semakin memperkuat posisi strategis COIN dalam arsitektur aset digital Indonesia yang terus berkembang.

Risiko yang Perlu Diperhatikan

Meski ada berbagai katalis positif, Ciptadana Sekuritas Asia juga mencatat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor terhadap saham COIN. Antara lain, risiko keamanan siber, ketergantungan pada penyedia layanan cloud, potensi munculnya pesaing baru di segmen bursa dan kustodian. Selain itu, risiko volume perdagangan kripto dan derivatif yang lebih rendah dari proyeksi akibat adopsi yang melambat atau perubahan regulasi juga perlu diperhatikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *