Penelitian Kertas Berlapis Minyak Nabati sebagai Alternatif Pengganti Plastik
Sejumlah peneliti di Pusat Riset Kimia Molekuler Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan pengembangan kertas kemasan yang dilapisi minyak nabati. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan alternatif pengganti lapisan plastik yang lebih ramah lingkungan. Salah satu anggota tim peneliti, Zatil Afrah Athaillah, menjelaskan bahwa beberapa jenis minyak telah dicoba dan berhasil menghasilkan kertas tahan air serta minyak.
Dalam penjelasannya, Zatil menyatakan bahwa kertas berlapis minyak nabati memiliki sifat mekanik yang mirip atau bahkan lebih baik dibandingkan kertas tanpa pelapis. Hal ini menunjukkan potensi besar dari material yang digunakan dalam produksi kemasan.
Jenis Minyak yang Digunakan dalam Penelitian
Dalam penelitian tersebut, Zatil menguji berbagai jenis minyak nabati seperti walnut, kemiri, kedelai, dan linseed. Pemilihan jenis minyak ini didasarkan pada karakteristiknya yang memungkinkan terbentuknya lapisan pelindung pada permukaan kertas. Namun, beberapa jenis minyak lain seperti sawit dan zaitun tidak berhasil memenuhi kriteria karena masih tembus air dan minyak.
Pengujian dasar dilakukan dengan cara meneteskan air dan minyak di permukaan kertas, lalu diamati apakah terjadi rembesan ke bagian bawah. Proses pengamatan dilakukan selama 60 menit. Jika kertas tidak menunjukkan perubahan tampilan dan tidak tembus air maupun minyak hingga batas waktu tersebut, maka pelapisan minyak dinilai berhasil.
Durasi pengamatan 60 menit dipilih karena pertimbangan teknis pengujian. Zatil menjelaskan bahwa pengujian bisa dilakukan lebih lama jika diperlukan. Selain itu, pengamatan juga dilakukan menggunakan mikroskop tiga dimensi (3D) untuk melihat bentuk tetesan air dari sisi samping kertas dan mengukur sudut kontaknya.
Hasil Pengamatan dan Uji Coba Lainnya
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pada kertas tanpa pelapis, tetesan air cenderung melebar. Sebaliknya, pada kertas yang telah dilapisi minyak nabati, tetesan air tampak lebih membulat. Pengukuran menunjukkan sudut kontak air pada kertas berlapis mendekati 90 derajat, yang menandakan permukaan kertas lebih tahan terhadap air atau bersifat hidrofobik.
Selain uji dasar, penelitian ini juga melibatkan berbagai metode uji lainnya. Misalnya, uji kekuatan dan kelenturan kertas menggunakan texture analyzer, uji gugus fungsi pada kertas dengan Fourier Transform Infrared (FTIR), uji kristalinitas menggunakan X-ray Diffraction (XRD), uji kekentalan minyak, serta analisis komposisi asam lemak. Morfologi kertas juga diamati menggunakan berbagai teknik mikroskopi, termasuk Scanning Electron Microscopy (SEM).
Tantangan dan Langkah Berikutnya
Saat ini, hasil riset masih berupa lembaran kertas yang telah dilapisi, belum dibentuk menjadi produk kemasan seperti gelas atau wadah makanan. Meski demikian, metode ini telah didaftarkan dan memperoleh paten pada 2025 melalui skema pendanaan Rumah Program Organisasi Riset Nanoteknologi dan Material (ORNM) BRIN.
Zatil berharap riset ini dapat dilanjutkan dengan pengujian sensori untuk mengetahui apakah lapisan minyak nabati pada kertas kemasan bisa memengaruhi rasa atau aroma minuman. Ia juga tertarik mengembangkan bahan pelapis dari epicuticular lipid yang berasal dari lapisan luar daun atau kulit buah, yang selama ini dianggap limbah.
“Daun atau kulit buah sebenarnya mengandung lipid alami. Kalau bisa dimanfaatkan sebagai bahan pelapis, itu akan sangat menarik karena berasal dari limbah,” ujarnya. Hasil riset ini diharapkan dapat menjadi langkah awal menuju pengembangan kemasan makanan berbasis kertas yang lebih aman dan berkelanjutan, tanpa bergantung pada plastik berbasis minyak bumi.
Tinggalkan Balasan