Perpanjangan Operasi Modifikasi Cuaca di Jawa Tengah
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah memperpanjang pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) hingga 29 Januari 2026. Fokus utama operasi ini berada di kawasan Gunung Slamet, yang merupakan wilayah rawan bencana hidrometeorologi. Perpanjangan ini dilakukan sebagai upaya untuk meminimalkan risiko bencana akibat cuaca ekstrem yang masih terjadi di sejumlah daerah.
Operasi modifikasi cuaca telah dimulai sejak 15 Januari 2026. Pada tahap awal, wilayah sasaran difokuskan di kawasan Muria Raya, mencakup Kabupaten Kudus, Pati, dan Jepara. Selanjutnya, pada 20 Januari 2026, wilayah sasaran bergeser ke Pekalongan dan Kendal. Dengan perkembangan cuaca yang semakin tidak menentu, area operasi kemudian dialihkan ke wilayah barat Jawa Tengah, khususnya lima kabupaten di sekitar Gunung Slamet.
Perpanjangan operasi ini dilakukan setelah sebelumnya OMC sempat dihentikan pada 24 Januari 2026. Namun, kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung memaksa pemerintah untuk melanjutkan kembali operasi tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk mengendalikan curah hujan yang tinggi dan mencegah terjadinya banjir serta longsor.
Wilayah Terdampak Bencana
Sebanyak 14 kabupaten/kota di Jawa Tengah terdampak oleh bencana banjir, longsor, dan angin kencang. Dampak bencana ini menyebabkan empat korban jiwa dan satu orang hilang. Berikut rincian wilayah yang terdampak:
1. Kabupaten Pemalang
Banjir melanda tujuh desa di Kecamatan Pulosari, termasuk Desa Gunungsari, Penakir, Jurangmangu, Batursari, Clekatakan, Karangsari, dan Nyalambeng. Satu korban meninggal atas nama T, warga Dukuh Wanasari, Desa Penakir. Banjir juga merusak jembatan dan infrastruktur lainnya. Di wilayah Desa Sima, Kecamatan Moga, terdapat 33 unit rumah terendam. Selain itu, terjadi longsor yang menewaskan Aksinudin (40 tahun), seorang petani, dan Hamim (60 tahun) yang masih dalam pencarian.
2. Kabupaten Purbalingga
Bencana banjir melanda Kecamatan Mrebet dan Karangreja. Sebanyak 78 rumah terdampak, dua jembatan rusak, serta beberapa kendaraan dan ternak hanyut. Korban jiwa tercatat satu orang atas nama Solehah, warga Desa Serang.
3. Kabupaten Tegal
Banjir terjadi di kawasan obyek wisata Guci, Kecamatan Bumijawa. Meskipun tidak ada korban jiwa, terdapat kerusakan infrastruktur dan satu eksavator hanyut.
4. Kabupaten Brebes
Banjir menyebabkan talud rusak sepanjang 30 meter. Dua rumah rusak ringan, satu motor hanyut, dan 14 rumah rusak berat.
5. Kota Tegal
Satu rumah rusak sedang akibat banjir.
6. Kota Pekalongan
Bencana banjir menyebabkan 1.635 warga mengungsi dan 14.397 rumah terendam.
7. Kabupaten Pekalongan
Tanah longsor menyebabkan tiga kandang sapi rusak dan lima ekor sapi mati. Banjir terjadi di enam kecamatan dengan 29 desa terdampak, merusak 60 fasilitas umum.
8. Kabupaten Banyumas
Banjir meluap di Sungai Kali Pangkon, yang berdampak pada Lokawisata Baturraden. Meskipun tidak ada korban jiwa, beberapa infrastruktur di area wisata rusak.
9. Kabupaten Jepara
Banjir menerjang 36 desa dengan 10.367 orang terdampak. Meski banjir mulai surut, beberapa titik masih tergenang.
10. Kabupaten Pati
Banjir sudah mulai surut.
11. Kabupaten Kudus
Bencana banjir menyebabkan 12.399 orang terdampak di empat kecamatan dan sembilan desa.
12. Kabupaten Demak
Banjir merendam 2.118 rumah dengan 9.112 orang terdampak.
13. Kabupaten Magelang
Bencana angin kencang terjadi di lokasi Ziarah Gunung Tidar. Dua pohon pinus roboh menimpa lima peziarah, satu di antaranya meninggal dunia atas nama Sri Istantini (64 tahun).
14. Kabupaten Magelang
Angin kencang juga terjadi di Air Terjun Kedung Kayang, menyebabkan satu pohon tumbang dan tiga orang terluka. Spot foto di lokasi tersebut ditutup sementara untuk keamanan pengunjung.
Upaya Mitigasi dan Pengendalian Bencana
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bekerja sama dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam menjalankan operasi modifikasi cuaca. Langkah-langkah ini bertujuan untuk mengurangi dampak bencana dan memastikan keselamatan masyarakat. Dengan perpanjangan operasi hingga 29 Januari 2026, diharapkan dapat lebih efektif dalam menghadapi cuaca ekstrem yang masih mengancam wilayah Jawa Tengah.
Tinggalkan Balasan