Doa yang Tak Pernah Runtuh, Musala Berdiri Tegak di Tengah Longsor Pranten Batang

Bencana Longsor di Desa Pranten, Batang: Trauma dan Harapan yang Tersisa

Hujan deras yang turun tanpa henti sejak pagi hingga sore hari pada Jumat (23/1/2026) tidak hanya mengguyur wilayah Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Hujan tersebut juga menjadi pemicu bencana longsor yang mengguncang rasa aman warga setempat. Warga yang selama puluhan tahun tinggal berdampingan dengan tebing curam kini harus menghadapi kejadian yang tidak terduga.

Pada sekitar pukul 17.30 WIB, tanah yang selama ini mereka anggap kokoh tiba-tiba runtuh. Longsoran besar menimpa rumah-rumah warga, memutus akses jalan antardukuh, dan memaksa ratusan orang meninggalkan tempat tinggal mereka. Di tengah puing-puing yang menyelimuti lingkungan, satu bangunan tampak mencolok: sebuah mushola kecil yang masih berdiri tegak, dikelilingi oleh tanah longsor dan batang-batang pohon tumbang. Meski dindingnya kotor akibat lumpur, bangunan itu tetap utuh, menjadi saksi bisu sekaligus penopang harapan bagi warga.

Menurut data dari Pusdalops BPBD Kabupaten Batang, dua rumah warga hancur total, sementara 12 rumah lainnya mengalami kerusakan berat. Material longsor juga menutup akses utama menuju Dukuh Pranten dari arah Rejosari dan Deles. Aliran listrik padam, dan akses air bersih ke Dukuh Rejosari serta Sigemplong terputus total. Meski tidak ada korban jiwa, luka batin yang dialami warga sulit untuk disembuhkan.

Dari 170 Kepala Keluarga (KK) di Dukuh Rejosari, sebanyak 110 KK terpaksa mengungsi ke rumah kerabat di Dieng Kulon, sedangkan 60 KK lainnya memilih bertahan di sekitar lokasi dengan perasaan cemas yang terus menghantui. Di tengah ketakutan tersebut, mushola yang selamat dari longsor menjadi tempat untuk menenangkan diri. Beberapa warga masih menyempatkan diri datang untuk berdoa, meskipun jalan menuju ke sana harus melewati lumpur dan bebatuan.

Bupati Batang, M. Faiz Kurniawan, langsung meninjau lokasi bencana. Ia menegaskan bahwa relokasi adalah pilihan yang tidak bisa ditawar. “Areal ini tidak layak lagi untuk hunian dan berpotensi membahayakan keselamatan manusia,” ujarnya dalam pernyataannya, Rabu (28/1/2026).

Pemerintah Kabupaten Batang telah menyiapkan dua langkah penanganan. Dalam jangka pendek, kebutuhan dasar warga pengungsian akan dipenuhi. Sementara untuk jangka panjang, pemerintah berencana melakukan relokasi ke lahan bekas Perhutani yang kini dikelola LMDH. Sebanyak 20 hingga 22 rumah akan dibangun, dimulai dengan hunian sementara (huntara) sebelum hunian permanen direalisasikan.

Faiz juga menekankan pentingnya kepatuhan terhadap peta potensi bencana agar kejadian serupa tidak terulang. Kini, di Desa Pranten, hujan tak lagi sekadar pertanda turunnya air dari langit. Ia menjadi pengingat trauma, sekaligus ujian ketabahan. Di tengah tanah yang runtuh serta rumah yang hilang, mushola yang masih berdiri menjadi simbol bahwa harapan warga Pranten belum sepenuhnya roboh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *