Sawah jadi medan perang, petani Kandeman Batang kalah oleh burung dan banjir

Petani di Kabupaten Batang Menghadapi Bencana Sunyi Akibat Serangan Burung Emprit dan Banjir

Di Desa Ujungnegoro, Kecamatan Kandeman, Kabupaten Batang, para petani kini menghadapi tantangan berat yang memengaruhi kehidupan mereka. Hujan deras yang sering terjadi menjadi sumber kekhawatiran bagi petani setempat, terutama karena ancaman burung emprit dan banjir tahunan yang membuat musim tanam kali ini menjadi bencana sunyi.

Salah satu petani yang terdampak adalah Tasno (46), yang hanya bisa melihat lahan padi miliknya yang seharusnya menguning dan menjadi sumber penghidupan keluarganya kini hanya tersisa batang-batang kosong tanpa bulir. Sebanyak 10 hektare lahan padi miliknya dinyatakan puso akibat serangan burung emprit dan banjir yang terjadi secara berulang.

Burung emprit datang dalam jumlah besar dan menyerbu padi yang sedang mulai berisi. Meski Tasno sudah mencoba berbagai cara seperti menjaring dan menggunakan bunyi-bunyian untuk mengusir burung, namun usaha tersebut tidak efektif. “Sudah saya jaring, sudah ditakut-takuti pakai bunyi-bunyian, tapi burungnya tidak takut. Habis semua,” ujar Tasno kepada Tribunjateng.

Tasno bukanlah satu-satunya petani yang mengalami hal serupa. Di sepanjang perbatasan Desa Depok hingga Tegalsari, ratusan hektare lahan padi mengalami nasib yang sama. Petani mengaku kewalahan dengan metode tradisional pengendalian hama yang tidak lagi efektif menghadapi serangan burung yang datang secara bergerombol.

Taryadi, Ketua Kelompok Tani Sregep Mantep 3 Desa Tegalsari, menyampaikan bahwa kegagalan panen ini semakin memperparah kondisi ekonomi petani. Biaya tanam sudah dikeluarkan, namun hasil panen tidak dapat diharapkan. Ia berharap ada teknologi atau bantuan cara baru untuk mengusir burung emprit yang sering menyerang.

Selain menghadapi hama, petani juga masih harus berjuang melawan banjir yang sering terjadi setiap tahun. Sungai Kali Sono, yang membelah perbatasan antara Ujungnegoro dan Depok, sering meluap saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Aliran sungai yang berkelok tajam menyebabkan air sulit mengalir ke hilir, sehingga sawah tergenang selama beberapa hari dan merusak tanaman yang tersisa.

Warga menyebut bentuk Kali Sono mirip dengan ular yang berbelit dan memperlambat aliran air. “Kalau hujan besar, sawah bisa jadi kolam. Airnya lama surut,” kata salah satu warga.

Kini, para petani hanya bisa berharap pada perhatian pemerintah. Mereka meminta adanya normalisasi atau pelurusan Kali Sono agar banjir tidak lagi menjadi ancaman tahunan. Tanpa penanganan serius, kegagalan panen dikhawatirkan akan terus berulang, meninggalkan petani kecil dalam lingkaran kerugian tanpa ujung.

Bagi Tasno dan petani lainnya, sawah bukan sekadar lahan. Ia adalah satu-satunya sandaran hidup yang kini perlahan direnggut oleh alam dan ketidakberdayaan. Dengan kondisi yang semakin sulit, petani berharap ada solusi nyata yang dapat membantu mereka menghadapi tantangan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *