Petani, Pemimpin Jaga Kedaulatan Pangan Daerah

Peran Petani dalam Menjaga Ketahanan Pangan

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, seperti perubahan iklim, fluktuasi harga, dan keterbatasan sarana produksi, para petani tetap menjadi garda terdepan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Bupati Temanggung Agus Setyawan menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan sektor unggulan sekaligus penopang utama perekonomian Kabupaten Temanggung.

Menurut data potensi wilayah, pengembangan bawang merah di Kecamatan Kedu diperkirakan mencapai 10 hingga 12 hektare. Sementara itu, luas tanam bawang merah di Kabupaten Temanggung mencapai sekitar 2.800 hektare per tahun. Kegiatan tanam raya bawang merah memiliki makna strategis, tidak hanya sebagai penanda dimulainya musim tanam bawang merah tahun 2026, tetapi juga sebagai simbol semangat kebersamaan, gotong royong, serta optimisme petani Temanggung dalam membangun sektor pertanian yang maju, mandiri, dan berkelanjutan.

Bawang merah tidak hanya menjadi sumber pendapatan bagi petani, tetapi juga menjadi komoditas strategis dalam pengendalian inflasi daerah. Oleh karena itu, peningkatan produksi bawang merah secara berkelanjutan menjadi salah satu fokus utama pembangunan pertanian di Kabupaten Temanggung.

Visi Ketahanan Pangan Nasional

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan fondasi utama ketahanan negara dan menjadi prioritas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyatakan bahwa tanpa ketahanan pangan, sebuah negara mustahil bisa bertahan. Pemerintah menargetkan swasembada pangan dapat dicapai dalam waktu singkat, bahkan kurang dari tiga tahun sejak pemerintahan berjalan.

“Alhamdulillah, tidak sampai tiga tahun Indonesia sudah swasembada,” ujar Amran. Capaian ini merupakan hasil kerja kolektif dan kolaborasi lintas sektor, termasuk petani, pemerintah daerah, serta Badan Urusan Logistik (Bulog). Pemerintah juga menyiapkan langkah lanjutan berupa ekspor beras, yang ditargetkan mulai terealisasi pada April 2026 apabila kondisi pasokan dan pengelolaan Bulog tetap terjaga.

“Insya Allah, jika tidak ada masalah, Indonesia akan mencatat sejarah pertama mengekspor beras,” kata Amran. Ia menilai bahwa posisi Indonesia dalam perdagangan global mulai menguat seiring penguatan sektor pangan dan komoditas strategis lainnya. “Kita merasakan sendiri, ketika impor beras dihentikan, harga beras dunia ikut turun.”

Fokus pada Hilirisasi Komoditas Strategis

Selain beras, hilirisasi komoditas seperti minyak kelapa sawit (CPO), gambir, dan kelapa juga menjadi fokus pemerintah untuk memperkuat nilai tambah ekonomi nasional. Amran menilai bahwa penguatan pangan dan hilirisasi komoditas strategis akan menjadi fondasi menuju kemandirian ekonomi jangka panjang. “Tidak ada yang tidak bisa jika kita berkolaborasi,” ungkapnya.

Retret Bela Negara PWI yang diikuti sekitar 160 peserta diselenggarakan bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan di Pusat Kompetensi Bela Negara, Rumpin, Bogor. Acara ini menjadi wadah untuk memperkuat semangat kebersamaan dan kolaborasi antara berbagai pihak dalam menjaga stabilitas pangan dan keberlanjutan ekonomi nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *