Firaun Mesir Banyak yang Sakit, Mulai dari Seksual hingga Rematik

Sejarah Mesir Kuno yang Penuh dengan Penderitaan

Menurut penelitian yang dilakukan oleh sejumlah ahli, sejarah Mesir kuno terbukti penuh dengan berbagai bentuk penderitaan. Banyak firaun dan tokoh penting di masa itu mengalami penyakit serius yang memengaruhi kehidupan mereka hingga akhir hayat. Penyakit-penyakit ini tidak hanya mengganggu kesehatan fisik tetapi juga berdampak pada perjalanan sejarah bangsa Mesir.

Penyelidikan Terhadap Mumi-Mumi Firaun

Pada tahun 1965, sebuah proyek besar dilakukan untuk menyelamatkan patung Abu-Simbel dari genangan air bendungan Aswan. Di tengah proses ini, para ahli Mesir dan Amerika melakukan eksplorasi terhadap peninggalan-peninggalan yang terancam oleh naiknya air. Mereka membuka makam-makam yang tampak biasa dan mengumpulkan ribuan mayat Nubia yang telah bertahan selama 2000 tahun dalam pasir panas.

Profesor James E. Harris, seorang dokter gigi, bersama rekan-rekannya melakukan penyelidikan terhadap bentuk wajah dan gigi mumi-mumi. Hasilnya mengejutkan para ahli. Mereka menemukan bahwa banyak orang penting di zaman dulu menderita berbagai penyakit berat, termasuk arthritis, arteriosklerosis, dan masalah gigi yang parah.

Penyakit yang Menghiasi Sejarah Firaun

Beberapa firaun ternama seperti Ramses II atau yang dikenal sebagai Ramses Agung, diduga meninggal karena “kaki dingin”. Foto rontgen menunjukkan bahwa dia menderita artritis berat pada sendi pinggul dan arteriosklerosis pada pembuluh darah utama kaki. Selain itu, dia juga mengalami infeksi gigi dan gigi keropos.

Merneptah, putra Ramses, juga memiliki kondisi kesehatan yang buruk. Gigi-giginya hanya tersisa beberapa saat ia memerintah. Selain itu, ia diduga mengalami kebutaan sebelum meninggal. Ada kemungkinan bahwa penyebab kematian ini masih menjadi teka-teki.

Penyakit yang Menyerang Berbagai Tokoh Penting

Beberapa tokoh lain seperti Amosis menderita rematik dan tidak bisa dikitani karena penyakit keturunan. Thutmosis I mengalami patah pinggul, sedangkan Amenhotep II memiliki benjolan-benjolan di leher, pundak, dan tubuhnya. Nefertari, saudara dan istri Amosis, memiliki bentuk gigi yang tidak normal dan kepala yang setengah botak.

Amenhotep IV, yang lebih dikenal sebagai Echnaton, memiliki perkembangan seksual yang tidak sempurna dan tubuh yang gemuk. Ia menikahi saudara iparnya, Nofretete, dan dikenal sebagai tokoh yang sangat berbakti pada agama. Sementara itu, Spitah memiliki kaki yang pendek akibat lumpuh kanak-kanak. Amenhotep III meninggal karena cacar dan hernia, serta menderita banyak penyakit lainnya.

Temuan Menarik Dalam Mumi-Mumi

Selain penyakit, para ahli juga menemukan benda-benda yang dibawa oleh para mumi untuk dunia lain. Misalnya, Amenhotep I masih mengenakan jimat di tangan kanannya dan kalung mutiara melilit pinggulnya. Di samping itu, ada lempengan emas yang digunakan untuk menutupi irisan perut dari mumi Yuya.

Yang menarik adalah temuan dalam mumi Thutmosis I. Tulang belulangnya terlihat seperti pria muda, meskipun sejarah menyebutkan ia meninggal saat usia 50 tahun. Ada dua kemungkinan: mumi ini tertukar atau ada kesalahan dalam catatan sejarah. Selain itu, mumi pendeta wanita Makare menunjukkan bahwa dia meninggal saat melahirkan atau demam akibat persalinan.

Benda-Benda yang Tidak Biasa dalam Mumi

Dalam mumi kecil yang ditemukan bersama makam, diperkirakan isinya adalah bayi. Namun, hasil penelitian menunjukkan bahwa isi peti tersebut bukan bayi, melainkan seekor kera betina. Hal ini menunjukkan bahwa ada kejadian yang tidak biasa dalam proses pengawetan mayat.

Secara keseluruhan, sejarah Mesir kuno penuh dengan penderitaan, baik secara fisik maupun psikologis. Banyak tokoh penting di masa lalu mengalami penyakit yang memengaruhi hidup mereka, dan penemuan-penemuan baru terus mengungkap rahasia-rahasia yang sebelumnya tidak terduga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *