Kiprah Pemuda Osing Banyuwangi Penggerak Wisata Dunia

Desa Kemiren: Kecantikan Budaya dan Wisata yang Menarik Dunia

Desa Kemiren, yang terletak di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, telah menjadi salah satu destinasi wisata yang menarik perhatian baik wisatawan lokal maupun internasional. Salah satu acara utama yang rutin digelar setiap tahun adalah Festival Ngopi Sepuluh Ewu, yang mengangkat potensi budaya suku Osing dan keindahan wisata desa ini.

Festival Ngopi Sepuluh Ewu: Pengalaman Unik dengan Kopi

Festival Ngopi Sepuluh Ewu, yang dalam bahasa Indonesia berarti minum kopi sepuluh ribu, merupakan acara yang sangat dinanti-nantikan oleh masyarakat dan wisatawan. Pada festival ini, sekitar 10 ribu cangkir kopi disajikan secara gratis untuk siapa pun yang datang. Aroma kopi yang menyergap di jalan utama Desa Kemiren menciptakan suasana yang hangat dan ramah.

Wisatawan dari berbagai daerah, termasuk luar negeri, hadir untuk merasakan pengalaman unik ini. Mereka duduk santai di kursi kayu bergaya lawas sambil menikmati kopi tubruk yang disajikan. Tidak hanya itu, keramahtamahan warga membuat pengunjung merasa seperti bagian dari keluarga besar.

Adela, seorang wisatawan asal Ceko, mengatakan bahwa ia sangat menikmati pengalaman di sini karena semua orang baik dan tersenyum. Sebastian, wisatawan lain dari Prancis, juga menyampaikan bahwa meskipun ia bukan penikmat kopi, ia meminumnya untuk ikut merayakan bersama warga.

Desa Kemiren: Tidak Hanya Tempat Produksi Kopi

Meskipun Desa Kemiren tidak dikenal sebagai penghasil kopi, masyarakat suku Osing memiliki kedekatan kuat dengan kopi dari segi budaya. Setiap tamu yang datang ke rumah warga akan selalu disuguhi kopi. Selain itu, dalam setiap pernikahan, orang tua akan memberikan hadiah berupa beberapa perabot rumah, termasuk selusin cangkir keramik kecil. Cangkir-cangkir ini juga digunakan dalam Festival Ngopi Sepuluh Ewu.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Kemiren, Moh Edy Saputro, mengatakan bahwa dulu tidak terpikirkan bagi mereka bahwa budaya sederhana yang mereka miliki bisa menarik perhatian para wisatawan.

Tiga Event Besar di Desa Kemiren

Selain Festival Ngopi Sepuluh Ewu, Desa Kemiren juga memiliki dua event besar lainnya, yaitu Festival Barong Ider Bumi dan Tumpeng Sewu. Festival Barong Ider Bumi merupakan ritual penyucian dan perlindungan yang digelar setiap hari kedua bulan Syawal dalam kalender Islam. Sementara Tumpeng Sewu berakar dari tradisi selamatan desa atas hasil panen yang melimpah.

Edy menjelaskan bahwa upaya untuk menjadikan Desa Kemiren sebagai desa wisata dimulai sejak tahun 2013. Meskipun awalnya tidak mudah, akhirnya pada 2017, pemuda-pemuda suku Osing yang tergabung dalam kelompok karang taruna berhasil memperkenalkan kembali budaya dan pariwisata desa ini.

Tari Gandrung: Keunikan Budaya Suku Osing

Tari Gandrung adalah salah satu bentuk seni yang sangat penting bagi masyarakat suku Osing. Tarian ini pertama kali ditampilkan pada masa kependudukan Belanda atau sekitar abad ke-18. Tari Gandrung kini dikenal luas melalui Festival Gandrung Sewu yang digelar di pantai Selat Bali.

Dampak Ekonomi dari Pariwisata

Sejak menjadi desa wisata, lebih dari 200 keluarga di Desa Kemiren hidupnya bergantung pada sektor wisata. Mereka bekerja sebagai pemandu wisata, pekerja seni, pemilik akomodasi penginapan, pelaku usaha mikro kecil menengah, pengelola rumah adat kawasan cagar budaya, hingga pemilik persewaan homestay.

Jumlah pelaku jasa wisata di Desa Kemiren terus tumbuh seiring waktu berjalan. Saat ini, tercatat 22 usaha kecil-menengah berdiri di desa tersebut. Mereka bergerak di bidang makan-minuman hingga sandang. Jumlah homestay juga cukup banyak, dengan lebih dari 40 homestay berdiri di kawasan Desa Wisata Kemiren.

Budaya dan Wisata Berjalan Beriringan

Bagi masyarakat suku Osing, kebudayaan yang membaur dengan pariwisata justru memberi nilai lebih. Keduanya saling melengkapi. Adat istiadat tetap lestari dan dijunjung tinggi. Di satu sisi, asap dapur rumah warga juga terus mengepul dampak dari pariwisata yang bergeliat.

Suhaimi, Ketua Adat Osing Desa Kemiren, menjelaskan bahwa suku Osing memiliki lebih banyak kebudayaan menarik di luar yang disuguhkan dalam pariwisata. Contohnya, masyarakat suku Osing memiliki bahasa Osing, sebuah dialek Jawa khas yang hingga kini masih menjadi bahasa ibu, bahkan oleh kalangan muda-mudi.

Kampung Berseri Astra: Program Berbasis Komunitas

Desa Kemiren termasuk salah satu dari 235 Kampung Berseri Astra, sebuah program berbasis komunitas yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Dukungan dari Astra meliputi empat pilar, yakni pendidikan, kewirausahaan, lingkungan, dan kesehatan.

Konsistensi dalam Merawat Budaya Lokal

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi Taufik Rohman mengatakan bahwa prestasi Desa Kemiren di tingkat internasional berasal dari kearifan dan budaya lokal yang dirawat dengan sungguh-sungguh. Tugas terpenting saat ini adalah memastikan Kemiren tetap konsisten dalam menguri-uri budaya dan membangkitkan pariwisata.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *