Pemerintah Salurkan 360 Ribu Ton Beras Bulog untuk Bansos, Jaga Daya Beli dan Harga Stabil

Stok Beras Bulog yang Besar dan Strategi Pemerintah dalam Menjaga Keseimbangan Pasokan

Stok beras yang tersimpan di gudang Bulog saat ini tergolong sangat besar. Bahan pokok ini kemudian disalurkan melalui berbagai skema, salah satunya adalah untuk bantuan sosial (bansos). Selama bulan ini saja, sebanyak 360 ribu ton beras Bulog telah dikeluarkan sebagai bentuk bantuan kepada masyarakat.

Dalam pernyataannya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menjelaskan bahwa beras bansos merupakan bagian dari program perlindungan sosial yang bertujuan untuk membantu keluarga rentan di seluruh Indonesia. Ia menekankan bahwa bantuan ini bukan sekadar bantuan semata, tetapi juga menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga daya beli rakyat.

“Ini bukan sekadar bantuan, tapi bukti nyata kehadiran negara untuk menjaga daya beli rakyat,” ujarnya dalam keterangannya pada Sabtu (12/7) malam. Bantuan ini ditujukan untuk mengurangi beban rumah tangga, serta memastikan akses terhadap bahan pangan pokok, terutama beras.

Amran menjelaskan bahwa penyaluran beras bansos merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga. Upaya ini dilakukan di tengah tantangan yang dihadapi akibat dampak perubahan iklim dan dinamika ekonomi global.

Di sisi hulu, Kementerian Pertanian terus memperkuat produksi beras melalui beberapa program. Salah satu di antaranya adalah program pompanisasi, bantuan benih tahan kekeringan, serta percepatan tanam. Hasilnya, produksi beras nasional periode Januari sampai Agustus 2025 diperkirakan mencapai 24,97 juta ton. Angka ini meningkat 14,09 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2024, yaitu sebesar 21,88 juta ton.

“Kami pastikan produksi aman. Yang harus dijaga sekarang adalah distribusi dan tata niaganya,” kata Amran. Ia menegaskan bahwa dengan adanya produksi yang cukup, pemerintah akan fokus pada pengelolaan distribusi agar tidak terjadi ketidakseimbangan.

Selain bansos, pemerintah juga menjalankan Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Kedua program ini dianggap sebagai dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Bansos bertujuan untuk menjaga akses masyarakat miskin terhadap beras, sedangkan SPHP berfungsi untuk menstabilkan pasar.

Amran menekankan pesan kuat kepada seluruh pemangku kepentingan pangan nasional. “Kita ingin negara hadir dari sawah hingga ke meja makan,” tegasnya. Ia menyerukan agar semua pihak bekerja sama dengan semangat gotong royong, kejujuran, dan kepedulian dalam mengelola beras SPHP.

Ia juga mengingatkan agar jangan sampai ada oknum yang merugikan rakyat. Dengan pengelolaan yang baik dan transparan, diharapkan beras yang disalurkan dapat tepat sasaran dan memberikan manfaat yang maksimal bagi masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *