Pengusaha Tiongkok Tekan Tarif Trump, Banyak Bangun Pabrik Baru di Subang

Pengusaha Tiongkok Berbondong-bondong Ke Indonesia

Beberapa pengusaha asal Tiongkok menunjukkan minat besar terhadap Indonesia sebagai lokasi pabrik baru. Langkah ini diambil setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan kenaikan tarif impor lebih dari 30 persen. Hal ini membuat banyak perusahaan mencari alternatif lokasi produksi yang lebih murah dan efisien.

Gao Xiayou, bos perusahaan konsultan lahan industri PT Yard Zeal Indonesia, menyatakan bahwa permintaan dari pengusaha Tiongkok untuk berekspansi sangat tinggi. “Kami cukup sibuk akhir-akhir ini. Kami rapat dari pagi hingga malam,” ujarnya. Menurutnya, pasar besar menjadi salah satu daya tarik utama Indonesia bagi para investor.

Rivan Munansa, Kepala Layanan Industri dan Logistik Colliers International Indonesia, juga menyampaikan hal serupa. Ia menjelaskan bahwa perusahaannya hampir setiap hari menerima permintaan lahan industri dari investor Tiongkok. “Kebanyakan dari mereka mencari peluang langsung. Mereka menginginkan lahan dan bangunan sementara yang dapat segera digunakan,” kata Rivan.

Subang Jadi Target Utama Investor

Reuters melaporkan bahwa kawasan industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat, menjadi salah satu yang paling diminati oleh investor Tiongkok. Abednego Purnomo, Wakil Presiden Bidang Penjualan, Pemasaran, dan Hubungan Penyewa Suryacipta Swadaya, mengungkapkan bahwa pihaknya mendapat banyak pertanyaan dari investor asal Tiongkok. “Telepon, email, dan WeChat kami langsung dipenuhi pelanggan baru, agen yang ingin memperkenalkan klien,” ujarnya.

Perusahaan-perusahaan yang tertarik berasal dari berbagai industri, seperti produsen mainan, tekstil, hingga kendaraan listrik. Kawasan Subang Smartpolitan memiliki luas lebih dari 2.700 hektar dan berada di Jawa Barat, yang merupakan wilayah strategis karena jumlah penduduk yang padat serta adanya pelabuhan laut Patimban yang mendukung rantai pasok industri.

Pemerintah Berkomitmen Mempermudah Investasi

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani menekankan bahwa pemerintah berkomitmen untuk meningkatkan realisasi investasi. “Kita mencoba terus memperbaiki iklim investasi. Salah satu yang kami lakukan adalah perubahan aturan pemerintah yang sudah terbit alhamdulillah itu adalah PP 28 Tahun 2025 yang memang disusun untuk menjawab tiga tantangan utama (investasi),” ujarnya.

PP Nomor 28 Tahun 2025 dirancang untuk memberikan kepastian perizinan perusahaan, simplifikasi proses, dan restrukturasi regulasi. Rosan menjelaskan bahwa sebelumnya, proses investasi melibatkan 18 kementerian dengan waktu tunggu hingga puluhan hari. Dengan PP tersebut, jika pengajuan sudah 20 hari tetapi izin belum keluar, BKPM bisa langsung menerbitkan izin.

Hasil Positif dari Kebijakan Baru

Rosan menyatakan bahwa kebijakan ini mendapat respons positif dari investor. “Sejak adanya PP itu yang baru saja keluar, di bulan, akhir, mulai Juli kemarin, kami sudah mengeluarkan 61 perizinan dari fiktif positif ini. Jadi ini juga memberikan kepastian bahwa apa yang kita sudah janjikan kepada para investor kami bisa laksanakan dengan baik dan harapannya ini akan meningkatkan investasi yang akan masuk ke Indonesia,” jelasnya.

Realisasi investasi semester I 2025 mencapai Rp 942,9 triliun dan menyerap 1.259.868 tenaga kerja. Investasi asing tercatat Rp 432,6 triliun, sedangkan investasi dalam negeri Rp 510,3 triliun. China berada di posisi ketiga negara asal investasi terbesar di Indonesia dengan nilai 1,8 miliar dollar AS atau setara Rp 29,1 triliun (kurs Rp 16.100).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *