Ahli Geologi ITB: Longsor Cisarua Bukan Hanya Alih Fungsi Lahan

Bencana Longsor Cisarua dan Lembang: Mekanisme Aliran Lumpur yang Mengancam

Bencana longsor yang terjadi di Cisarua dan Lembang, Bandung Barat, pada dini hari Sabtu bukanlah kejadian biasa. Kejadian ini dipicu oleh jebolnya bendungan alami di hulu sungai yang masih memiliki potensi terulang kembali. Menurut penjelasan dari pakar geologi, bencana ini lebih berbahaya karena melibatkan mekanisme aliran lumpur (mudflow) yang jauh lebih destruktif dibandingkan pergerakan tanah lokal.

Penyebab Bencana yang Tidak Biasa

Pakar Geologi Longsoran dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa longsor yang menimpa Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, serta Kampung Sukadami di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, merupakan tipe luncuran yang berubah menjadi aliran lumpur. Ia menyatakan bahwa rumah-rumah warga tidak mengalami longsoran langsung dari lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak oleh material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai.

Menurut Imam, penyebab utama kejadian ini adalah terbentuknya sumbatan atau landslide dam di hulu lereng selatan Gunung Burangrang. Material longsoran menutup alur sungai, sehingga volume air terkumpul hingga jenuh dan akhirnya pecah. Saat itu, aliran lumpur, pasir, hingga bongkah batu terbawa turun ke bawah.

Faktor Alamiah yang Memperparah Bencana

Imam menekankan bahwa faktor alamiah vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal di hulu menjadi salah satu penyebab utama bencana ini. Saat hujan berlangsung lama, pori-pori tanah menjadi jenuh, sehingga kekuatan lereng menurun drastis. Hal ini memicu material longsoran meluncur dan menutup aliran sungai di hulu.

Ia juga menjelaskan bahwa batas antara tanah hasil pelapukan dan batuan dasar yang relatif kedap air sering menjadi bidang gelincir. Hal ini mempercepat proses longsoran dan meningkatkan risiko bencana.

Ancaman yang Masih Ada

Meski bencana telah terjadi, Imam menegaskan bahwa ancaman belum berakhir. Tim ahli masih menemukan indikasi adanya sumbatan-sumbatan serupa di bagian hulu sungai. Jika hujan intensitas tinggi kembali mengguyur, akumulasi air di balik sumbatan tersebut berisiko jebol kembali dan mengirimkan kiriman lumpur ke hilir.

Cara Mitigasi yang Perlu Dilakukan

Salah satu informasi penting yang jarang diketahui publik adalah tanda visual sebelum bencana terjadi. Imam mengimbau warga di sepanjang bantaran sungai untuk memantau debit air saat hujan. Jika sungai yang biasanya mengalir tiba-tiba surut atau menghilang saat hujan lebat, masyarakat harus waspada. Itu menandakan adanya pembendungan di hulu.

“Segera menjauh dari alur sungai karena air bisa datang tiba-tiba dalam bentuk aliran lumpur,” ujarnya. Ia juga menekankan bahwa tinggal di sempadan sungai memiliki risiko tinggi terkena aliran debris (debris flow). Oleh karena itu, mitigasi ke depan tidak boleh hanya fokus pada penghijauan, tetapi harus menyentuh ranah struktural seperti pembangunan debris flow barrier (penghalang aliran) dan sistem pemantauan jalur aliran (flow track) menggunakan geofon atau sensor getaran.

Fokus pada Pengendalian Sedimen

Imam menambahkan bahwa yang paling merusak bukanlah airnya, tetapi material sedimen yang terbawa aliran. Oleh karena itu, sistem mitigasi perlu difokuskan pada pengendalian sedimennya. Dengan langkah-langkah ini, risiko bencana di masa depan dapat diminimalisir dan keselamatan masyarakat dapat lebih terjamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *