Akademisi Kritik Mekanisme Perbaikan Panel Prabowo di 3T

Tantangan dalam Pendistribusian 1 Juta Panel Interaktif di Sekolah Indonesia

Pemerintah Indonesia memiliki rencana besar dalam mempercepat digitalisasi pendidikan dengan mendistribusikan sekitar satu juta unit Interactive Flat Panel (IFP) ke seluruh sekolah di Indonesia pada tahun 2026. Namun, berbagai tantangan yang harus dihadapi pemerintah terutama di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) perlu diperhatikan agar program ini dapat berjalan efektif.

Ketersediaan Listrik dan Kesiapan Materi Ajar

Salah satu tantangan utama adalah ketersediaan listrik yang stabil di daerah 3T. Tanpa pasokan listrik yang cukup, penggunaan IFP akan menjadi sulit. Selain itu, kesiapan materi ajar yang bisa diakses melalui komputer juga menjadi faktor penting. Materi pembelajaran interaktif harus tersedia dan mudah diakses oleh guru dan siswa agar tidak terjadi hambatan dalam proses belajar mengajar.

Perawatan dan Pemeliharaan Perangkat

Perangkat elektronik seperti IFP memiliki masa pakai tertentu, sehingga pemeliharaan dan perbaikan menjadi sangat penting. Pengamat Telekomunikasi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Ian Joseph Matheus Edward, menekankan perlunya sistem after sales yang baik, termasuk tempat perbaikan yang dekat, waktu perbaikan yang cepat, serta biaya perawatan yang terjangkau.

Ian menyatakan bahwa meskipun program ini sangat bagus untuk meningkatkan kualitas pendidikan, sekolah tetap perlu memiliki alternatif pembelajaran konvensional jika terjadi gangguan pada perangkat. Hal ini bertujuan agar proses belajar tidak terganggu.

Konektivitas Internet sebagai Faktor Penting

Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel) menilai bahwa keberhasilan program ini bergantung pada jaminan konektivitas internet bagi sekolah-sekolah yang menerima IFP. Wilayah yang belum terjangkau layanan internet dapat dimasukkan sebagai daerah kewajiban pelayanan universal atau Universal Service Obligation (USO).

Ketua Umum Mastel, Sarwoto Atmosutarno, menjelaskan bahwa pemerintah telah menunjuk Badan Layanan Umum Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi Kementerian Komunikasi dan Digital (BLU Bakti Komdigi) untuk melaksanakan tugas USO. Bakti dapat bekerja sama dengan penyelenggara jaringan internet yang ada, serta memanfaatkan kapasitas satelit Satria 1, Palapa Ring Fiber Optic, dan Base Transceiver Station (BTS) 4G.

Perlu Revisi Struktur Lembaga Pemerintahan Digital

Sarwoto menilai bahwa penugasan pemasangan IFP menjadi indikasi bahwa kebutuhan digitalisasi pemerintahan akan terus meningkat di berbagai sektor. Ia menyarankan dibentuknya kembali lembaga sejenis Perumtel sebagai pelaksana utama pemerintahan digital, sementara Peruri tetap fokus pada aplikasi. Bentuk Perusahaan Umum (Perum) dinilai lebih fleksibel dalam menjalankan fungsi internal maupun eksternal terkait kebutuhan digital pemerintah.

Selain itu, TelkomGroup disarankan untuk fokus pada penciptaan nilai berbasis korporasi pasar terbuka (B2B atau B2C).

Target Presiden Prabowo Subianto

Presiden Prabowo Subianto menargetkan percepatan besar dalam digitalisasi pembelajaran pada 2026. Pemerintah berencana memasang tiga panel tambahan untuk setiap sekolah di seluruh Indonesia, yang totalnya mencapai sekitar satu juta unit IFP.

“Tahun depan kita punya sasaran yang lebih besar lagi, tahun depan sasaran kita adalah menambah tiga panel, berarti tiga kelas lagi untuk semua sekolah di Indonesia berarti tahun depan kita akan pasang insyaallah satu juta panel kira-kira,” ujarnya saat peluncuran IFP di SMPN 4 Kota Bekasi, Senin (17/11/2025).

Prabowo juga menegaskan bahwa daerah 3T menjadi prioritas utama distribusi panel tersebut. Ia mengakui adanya tantangan logistik di sejumlah wilayah, terutama 140 sekolah yang berada di kawasan pegunungan.

“InsyaAllah kita pun akan sampai ke situ dan kita akan dibantu oleh TNI dan Polri supaya semua sekolah akan mendapat kesempatan yang sama,” tegasnya.

Pembangunan Studio Pusat untuk Materi Pembelajaran Digital

Selain distribusi perangkat, Prabowo juga mengumumkan rencana pembangunan studio pusat di Jakarta untuk memproduksi materi pembelajaran digital yang dapat diakses secara serentak oleh seluruh sekolah. Materi digital tersebut nantinya juga dapat diakses siswa maupun orang tua dari rumah.

“Kalau anak-anak atau orang tua di rumah punya gadget ingin menatar, ingin memberi les anaknya, dia bisa buka dan memberi pelajaran di rumah,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *