Analisis Cenago ITB: Banjir Sumatera Dipicu Cuaca Ekstrem

Analisis Kajian Forensik Banjir di Tiga Daerah Aliran Sungai

Center for Analysis and Applying Geospatial Information Institut Teknologi Bandung (Cenago ITB) telah menyelesaikan kajian forensik yang mengidentifikasi penyebab banjir di tiga daerah aliran sungai (DAS) yaitu Badiri, Garoga, dan Batang Toru, Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan berbasis analisis presipitasi ekstrem, karakteristik hidrologi, perubahan tutupan lahan, serta simulasi hidrologi-hidrolika.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa banjir tersebut dipicu oleh curah hujan yang sangat ekstrem akibat adanya Siklon Tropis Senyar. Kapasitas sistem pengendalian banjir yang ada tidak dirancang untuk menahan skala peristiwa seperti ini. Hal ini menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan terjadinya banjir besar di wilayah tersebut.

Koordinator Tim Riset Cenago ITB, Heri Andreas, menjelaskan bahwa analisis perubahan tutupan lahan menunjukkan bahwa kontribusi alih fungsi lahan dari tiga perusahaan terhadap luas DAS relatif kecil. PT AR memiliki kontribusi sekitar 1,6 persen, PT TBS sebesar 0,4 persen, dan PT NSHE hanya 0,02 persen. Dengan demikian, jika dilihat secara kuantitatif, kontribusi perubahan tutupan lahan yang dituduhkan kepada pihak tertentu relatif kecil.

Heri menegaskan bahwa penetapan pertanggungjawaban mutlak (strict liability) terhadap pihak tertentu perlu ditinjau kembali demi menjaga objektivitas dalam menarik kesimpulan. Hasil riset menunjukkan bahwa kontribusi perubahan tutupan lahan oleh sejumlah korporasi seperti PT NSHE, PT AGR, dan PT TBS yang dianalisis relatif kecil dibandingkan dengan skala faktor cuaca ekstrem yang terjadi.

Pendekatan Data dan Analisis Komprehensif

Cenago tidak hanya mengandalkan identifikasi dan digitasi citra satelit untuk mengklasifikasikan tutupan lahan. Mereka juga menggabungkan data presipitasi dari BMKG dan NOAA Amerika Serikat. Selain itu, pendefinisian DAS dan sub-DAS, digital elevation model (DEM), serta data standar parameter hidrologi hidrolika turut digunakan dalam penelitian ini.

Menurut Heri, hasil analisis terhadap citra satelit resolusi tinggi menunjukkan bahwa banjir dipicu oleh fenomena Siklon Tropis Senyar dengan anomali presipitasi yang sangat jarang terjadi. Curah hujan pada akhir November 2025 mencapai level ekstrem (150-300 milimeter per hari) hingga sangat ekstrem (lebih dari 300 milimeter per hari).

Model probabilitas yang digunakan menunjukkan bahwa kejadian ini termasuk dalam kategori R700 hingga R1000, yang berarti siklus kejadian sekali dalam 700 hingga 1.000 tahun. Angka ini melampaui standar mitigasi banjir yang umumnya dirancang hingga R50.

FGD dan Peran Cuaca Ekstrem

Dengan intensitas hujan yang melampaui standar mitigasi nasional, bencana tersebut berada pada tingkat yang secara perencanaan melampaui kapasitas pengendalian banjir yang berlaku. Pembahasan ini muncul dalam focus group discussion (FGD) bertajuk “Memahami Root Cause Banjir Sumatera 2025 untuk Rekonsiliasi Konklusi Berbasis Keilmuan” yang diselenggarakan pada 18 Februari 2026 di Jakarta.

FGD dihadiri oleh perwakilan kementerian dan lembaga serta organisasi profesi. Dalam forum tersebut, perwakilan BMKG memaparkan fenomena Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025 yang memicu hujan ekstrem di beberapa wilayah Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh merupakan kejadian yang sangat jarang terjadi. Kombinasi hujan ekstrem dan longsoran memicu banjir bandang, termasuk di Desa Garoga, Tapanuli Selatan.

Akademisi ITB dari Kelompok Keahlian (KK) Geologi, Dr. Ahmad Imam Sadisun, menambahkan bahwa area longsor yang dipengaruhi hujan ekstrem masif yang terjadi pada zona Toba Tuff dengan kemiringan sangat curam banyak terdapat di hulu DAS Garoga dan hutan lindung. Hal ini memperkuat bahwa kondisi geografis dan iklim ekstrem menjadi faktor utama dalam terjadinya banjir tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *