Proyek Gas Natuna dan Tantangan Ketersediaan Energi di Batam
Pengembangan sumber daya alam di wilayah Natuna, khususnya blok West Natuna, menjadi fokus utama dalam rencana pasokan gas untuk kebutuhan Batam. Arasari Group yang dimiliki oleh Hashim Djojohadikusumo melalui anak perusahaan PT Nations Natuna Barat, menguasai Cekungan West Natuna. Namun, proyek ini diprediksi baru akan mulai mengalirkan gas ke Batam pada tahun 2027 mendatang.
Menurut Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Kepulauan Riau, Muhammad Darwin, saat ini proyek pipa West Natuna Transportation System (WNTS)–Pulau Pemping masih berada pada tahap penyelesaian dokumen lingkungan oleh PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Tahapan ini merupakan bagian dari perencanaan teknis sebelum konstruksi dapat dilakukan secara maksimal.
“Terakhir yang kami ikuti, PLN EPI masih menyusun dokumen lingkungannya. Harapannya tahun ini bisa selesai, karena panjang pipanya relatif pendek, sekitar 4,5 kilometer,” ujar Darwin pada Kamis, 15 Januari 2026.
Dia menegaskan bahwa pasokan gas dari blok ini tidak hanya terkait dengan pembangunan pipa. Lapangan gas tersebut ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal pertama 2027. “Tahun ini belum bisa disalurkan. Gasnya memang dari lapangan Natuna, dan target produksinya baru mulai 2027,” tambahnya.
Selain itu, pasokan gas dari Blok Corridor milik Medco yang selama ini menjadi sumber utama kebutuhan Batam juga mengalami penurunan. Penurunan ini terjadi secara alamiah karena lapangan gas yang semakin tua. Akibatnya, volume gas yang tersedia semakin terbatas dan diprioritaskan untuk industri tertentu sesuai kebijakan pemerintah.
“Gasnya memang makin sedikit. Lapangan-lapangan lama sudah menurun produksinya, jadi tidak banyak yang bisa dibagi ke konsumen,” ujarnya.
Kondisi ini memberikan dampak langsung kepada dunia usaha. Sejumlah industri di Batam terpaksa menanggung biaya energi yang lebih tinggi, baik dari harga gas maupun tarif listrik, sambil menunggu pasokan baru dari Natuna.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menyatakan tekanan energi telah mulai menggerus arus kas perusahaan. “Kenaikan harga gas langsung menaikkan biaya produksi. Efeknya berantai, karena tarif listrik ikut terdorong,” katanya.
Menurut Rafki, situasi ini membuat posisi Batam semakin sulit bersaing dengan kawasan industri di negara tetangga yang menawarkan harga energi lebih murah. “Kalau dibiarkan, investor bisa menilai Batam sudah tidak kompetitif lagi,” ujarnya.
Pemerintah pusat sebenarnya telah mendorong berbagai solusi, seperti pengembangan jaringan gas rumah tangga hingga pembangunan pipa Natuna–Batam. Namun bagi pelaku usaha, langkah-langkah tersebut belum cukup meredam tekanan jangka pendek.
“Pasokan gas baru harus benar-benar direalisasikan. Jalur Natuna–Batam jangan terus jadi wacana,” ujar Rafki. Ia juga meminta pemerintah memprioritaskan kebutuhan dalam negeri ketimbang ekspor. “Kalau pasokan domestik terganggu, dampaknya ke ekonomi bisa sistemik.”
Tinggalkan Balasan