Program Literasi Keuangan dan Pelatihan Batik Ramah Lingkungan di Cirebon
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) menggelar program literasi keuangan, sekaligus pelatihan membatik ramah lingkungan bagi perajin batik di Batik Trusmi, Cirebon. Program ini menjadi langkah nyata BTN dalam mengimplementasikan keuangan berkelanjutan hingga ke level debitur nonperumahan.
Direktur Risk Management BTN, Setiyo Wibowo, menyatakan perseroan mendukung Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), khususnya para perajin batik. Hal ini sejalan dengan komitmen BTN dalam menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) secara menyeluruh.
Setiyo menjelaskan bahwa implementasi ESG tidak hanya diwujudkan lewat pembiayaan sektor papan melalui perumahan, tetapi juga kebutuhan dasar masyarakat lainnya, seperti pangan dan sandang. “Melalui pembiayaan perumahan, tetapi juga kebutuhan dasar lain seperti pangan dan sandang. Batik adalah identitas budaya Indonesia sekaligus industri sandang yang menopang jutaan perajin,” ujar Setiyo.
Dengan strategi tersebut, BTN berharap dapat memperluas kontribusi keuangan berkelanjutan, tidak hanya bagi sektor perumahan, tetapi juga sektor UMKM dan industri budaya yang memiliki nilai strategis dalam perekonomian nasional.
Dukungan KUR untuk UMKM Batik
Dalam sesi literasi keuangan tersebut, BTN juga membuka opsi pembukaan tabungan hingga akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) bagi para perajin. Ke depan, BTN berkomitmen memperluas dukungan KUR bagi UMKM batik di berbagai sentra nasional, seperti Cirebon, Pekalongan, Solo, dan Yogyakarta.
BTN telah mengalokasikan pembiayaan KUR hingga Rp3 triliun untuk memberdayakan UMKM, termasuk sektor sandang yang strategis bagi perekonomian nasional. “Langkah ini sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat UMKM. BTN ingin memastikan penerapan keuangan berkelanjutan tidak hanya bagi sektor perumahan, tetapi juga menyentuh UMKM dan industri budaya seperti batik,” ucap Setiyo.
Penjualan Batik Mengalami Peningkatan
Founder & CEO Trusmi Group, Ibnu Riyanto, mengapresiasi langkah BTN sebagai bentuk dukungan terhadap industri batik, khususnya di Cirebon. Menurutnya, momentum Hari Batik Nasional selalu memberikan dampak besar terhadap industri batik.
“Sejak UNESCO mengakui batik pada 2009, penjualan batik melonjak dan masyarakat semakin bangga mengenakannya. Namun, dalam empat tahun terakhir, industri batik di Cirebon stagnan, sehingga kami harus banyak memikirkan strategi promosi,” ungkap Ibnu.
Strategi Pemasaran yang Inovatif
Untuk menghadapi tantangan ini, perajin batik di Cirebon mulai mencari cara-cara baru dalam pemasaran. Salah satu strategi yang digunakan adalah memanfaatkan platform digital dan media sosial untuk memperluas jangkauan pasar. Selain itu, kolaborasi dengan desainer ternama dan pengusaha lokal juga menjadi langkah penting dalam meningkatkan daya saing produk batik.
Selain itu, pelatihan-pelatihan tentang manajemen bisnis dan pemasaran juga menjadi fokus utama. Dengan demikian, perajin tidak hanya memproduksi batik berkualitas, tetapi juga mampu memasarkan produknya secara efektif.
Peran BTN dalam Mendukung Industri Budaya
BTN tidak hanya memberikan dukungan finansial, tetapi juga berperan aktif dalam memberikan edukasi kepada perajin. Melalui program literasi keuangan, perajin diberikan wawasan tentang pengelolaan keuangan, manajemen risiko, dan cara mengakses pembiayaan yang lebih mudah.
Program ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran perajin akan pentingnya keberlanjutan, baik dari segi lingkungan maupun ekonomi. Dengan demikian, industri batik tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.


Tinggalkan Balasan