Pergerakan Bursa Asia yang Beragam di Awal Pekan
Pada perdagangan awal pekan, bursa Asia mengalami pergerakan yang beragam. Hal ini terjadi seiring dengan sikap para investor yang sedang bersiap menghadapi rilis serangkaian data ekonomi Amerika Serikat (AS). Ketidakpastian mengenai arah kebijakan Federal Reserve atau The Fed juga turut memengaruhi suasana pasar.
Indeks Pasar Asia yang Tercatat Melemah dan Meningkat
Indeks Topix Jepang dibuka dengan penurunan sebesar 0,69% pada level 3.336,78. Sementara itu, indeks S&P/ASX 200 Australia juga tercatat mengalami penurunan sebesar 0,22% di level 8.615,50. Di sisi lain, indeks Kospi Korea Selatan mengalami kenaikan sebesar 1,4% menjadi 4.066,85.
Kontrak berjangka indeks saham AS juga menunjukkan pergerakan yang stabil. Namun, yen tetap stabil setelah ekonomi Jepang tercatat mengalami kontraksi untuk pertama kalinya dalam enam kuartal.
Kehadiran Data Ekonomi AS yang Menjadi Fokus Investor
Setelah beberapa pekan minimnya data yang dirilis, pelaku pasar akhirnya akan mendapatkan sinyal baru tentang kesehatan ekonomi AS. Beberapa lembaga akan merilis indikator penting, termasuk data ketenagakerjaan. Dengan adanya data tersebut, investor mulai memperhatikan potensi perubahan yang mungkin terjadi di pasar.
Risiko yang Menghantui Pasar Saham
Selain itu, investor juga menghadapi berbagai risiko. Mulai dari valuasi tinggi saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) hingga memanasnya kembali hubungan antara China dan Jepang. Selera risiko tampaknya mulai memudar, terlihat dari Bitcoin yang bertahan di sekitar US$94.000 dan hampir menghapus seluruh kenaikan tahunannya.
Shane Oliver, kepala ekonom sekaligus Kepala Strategi Investasi AMP Ltd., menyatakan bahwa November sejauh ini menjadi periode yang cukup bergejolak bagi pasar saham. Ia menilai pasar saham masih berisiko mengalami koreksi karena valuasi yang terlalu tinggi, risiko tarif AS, serta pasar tenaga kerja AS yang mulai melemah.
Sikap Pejabat The Fed yang Tidak Pasti
Beberapa pejabat The Fed dalam beberapa pekan terakhir juga menyuarakan keraguan atas perlunya pemangkasan suku bunga pada Desember. Bahkan sebagian dari mereka menolak secara terbuka. Hal ini terjadi kurang dari sebulan setelah Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga Desember bukanlah sesuatu yang pasti.
Pekan lalu, pelaku pasar di kontrak berjangka menurunkan probabilitas penurunan suku bunga seperempat poin pada Desember menjadi di bawah 50%. Hal ini disebabkan oleh beberapa pejabat The Fed yang memberi sinyal bahwa langkah tersebut masih jauh dari kepastian.
Volatilitas Pasar Obligasi yang Meningkat
Ketidakpastian jangka pendek ini turut mendorong naiknya indeks volatilitas pasar obligasi. Sebelumnya, indeks tersebut berada di dekat level terendah empat tahun.
Joseph Capurso, analis Commonwealth Bank of Australia, dalam catatan kepada klien menyatakan bahwa meskipun ada pertanyaan tentang kualitas data, pelaku pasar tetap akan merespons informasi baru. Ia memperkirakan laporan non-farm payrolls September akan berada di bawah ekspektasi kenaikan 50.000 tenaga kerja.
Tinggalkan Balasan