Kehangatan Ramadan di Kawasan Bundaran HI
Pagi hari Minggu (22/2) di kawasan Sudirman-Thamrin terasa berbeda. Pada pekan pertama Ramadan, suasana di sekitar Bundaran HI terlihat lebih tenang dibanding biasanya. Banyak warga memilih untuk berjalan kaki atau bersepeda ringan, alih-alih berlari kencang seperti biasanya. Cuaca pagi ini juga sedikit hujan dan berawan, menambah kesan syahdu.
Di sekitar Bundaran HI, kepadatan pengunjung terlihat lebih lengang dari biasanya. Suasana mendung dan senyap turut menciptakan nuansa yang khas Ramadan. Tidak banyak kerumunan pelari atau pesepeda, sehingga ruang gerak terasa lebih bebas dan nyaman.
Meski sedang menjalani ibadah puasa, beberapa warga tetap datang untuk melakukan olahraga ringan. Beberapa memilih jalan santai, sebagian lainnya jogging pelan, ada yang duduk sebentar di trotoar, dan ada juga yang hanya berdiri sambil menikmati udara pagi yang segar.
Salah satu pengunjung adalah Erni (50), warga Yogyakarta yang sedang berkunjung ke Jakarta untuk silaturahmi keluarga. Ia menyempatkan diri datang sejak pagi untuk mencoba suasana Car Free Day (CFD) bersama keluarga kecilnya.
“Saya memang dari beberapa bulan lalu ke sini juga, kebetulan kan nggak sempat terus. Pagi ini cuacanya kok syahdu gitu saya ya udahlah saya keluar mau saya cobain CFD di sini,” ujar Erni saat ditemui di sekitar Kawasan Bundaran HI.
Menurutnya, olahraga tetap penting dilakukan selama Ramadan, asalkan tidak memaksakan diri. Ia menekankan bahwa menjaga kebugaran tubuh tetap perlu dilakukan, meskipun intensitasnya disesuaikan dengan kondisi tubuh.
“Tetap penting ya karena kan tetap untuk menjaga kebugaran tubuh itu tetap penting karena sirkulasi tubuh itu kan tetap harus bergerak paling nggak 30 menit lah,” katanya.
Erni mengatakan bahwa olahraga saat puasa tidak terlalu berbeda, asalkan intensitasnya diatur dengan baik. Ia dan keluarganya cukup berjalan santai sudah cukup untuk menjaga kebugaran.
“Ya jalan aja pelan,” tambahnya.
Ia lebih memilih berolahraga di pagi hari selama Ramadan daripada sore hari. Menurutnya, waktu pagi lebih nyaman dan tidak terlalu panas.
“Tergantung pribadi masing-masing, ada yang kalau sore kan ngabuburit ya. Pagi sih kalau saya,” ungkapnya.
Suasana CFD yang lebih sepi juga dirasakan oleh Muhammad Abdul Faris (17), yang rutin berlari setiap pekan. Ia justru menikmati kondisi pagi itu.
“CFD hari pertama Ramadan sekarang alhamdulillah cuacanya sendu sepi, nggak ramai, kalau ramai menurut saya bikin pusing, larinya jadi zig zag. Ini kan enak los. Udara juga mendukung,” katanya.
Faris menyarankan agar waktu olahraga saat puasa disesuaikan dengan kondisi tubuh. Ia menilai bahwa jarak lari tidak perlu dipaksakan, karena tergantung pada kesiapan dan kemampuan diri sendiri.
“Jadi tergantung kemampuannya, karena masih lama nih waktu magrib, jadi tergantung diri sendiri aja,” pungkasnya.
Tinggalkan Balasan