Drama COP30 Belém: Tanpa AS, Upaya Hentikan Energi Fosil Gagal dan Bumi Makin Panas

Kegagalan COP30: Janji yang Tidak Terpenuhi

Konferensi Perubahan Iklim ke-30 atau COP30 di Belém, Brasil, seolah menjadi momen yang penuh harapan namun berakhir dengan kekecewaan. Di kota yang terletak dekat mulut Sungai Amazon, dunia berkumpul untuk membicarakan masa depan bumi, tetapi tidak berhasil mengambil tindakan nyata. Suasana awal yang penuh semangat perlahan berubah menjadi datar, seperti tepuk tangan penutupan yang tidak sepenuhnya memuaskan.

Presiden Brasil membuka konferensi dengan ajakan “mutirão”, sebuah istilah yang merujuk pada semangat gotong royong ala masyarakat adat Tupi-Guarani. Ia ingin dunia bekerja sama seperti warga desa yang buru-buru membangun rumah sebelum hujan turun. Namun, saat konferensi berjalan, semangat itu seperti hilang dalam kabut panas. Kesepakatan yang dihasilkan hanya sebatas komitmen untuk “melipatgandakan tiga kali” pendanaan adaptasi pada 2035. Meskipun jumlahnya besar, sumber dana tersebut masih belum jelas.

Mekanisme Transisi Berkeadilan dibentuk, tetapi tanpa jadwal nyata menuju ekonomi hijau. Dunia tampak melangkah maju setengah langkah, lalu mundur satu. Yang paling mencolok adalah absennya Amerika Serikat dari pembahasan roadmap penghentian energi fosil. Tanpa partisipasi negara besar ini, diskusi tentang penghentian penggunaan energi fosil nyaris tenggelam. Para petrostate menolak keras memasukkan kata “energi fosil” ke dalam dokumen akhir. Padahal, ilmuwan telah menyebut karbon dioksida sebagai penyebab utama pemanasan global sejak tahun 1896.

Hasil yang Tidak Memuaskan

Tiga puluh tahun konferensi iklim ini baru melahirkan dua kesepakatan besar: Protokol Kyoto 1997 dan Perjanjian Paris 2015. Keduanya seperti bangunan yang kerangkanya berdiri, tapi tidak pernah selesai dipasang atapnya. Suhu global kini sudah berada di kisaran 1.51°C di atas era pra-industri, padahal dunia berkumpul justru untuk mencegah hal itu. Pada COP30, kontribusi nasional negara-negara hanya cukup untuk mengantar bumi menuju pemanasan 2.6°C. Tahun 2024 menjadi yang terpanas, disusul 2023. Emisi global tetap naik, seperti air bah yang tak peduli dengan doa-doa.

Janji Sukarela yang Menggantung

Beberapa janji sukarela diumumkan selama COP30. Sebanyak 53 negara berkomitmen menyumbang Rp89 triliun untuk konservasi hutan. Lebih dari 80 negara sepakat memulai pembahasan transisi dari energi fosil. Turki akan menjadi tuan rumah COP31, sementara Belanda dan Kolombia berencana menggelar konferensi tambahan tahun depan. Namun semua janji itu masih seperti peta tanpa kompas. Indah dilihat, sulit diikuti.

Kekhawatiran tentang Amazon

Sementara itu, Amazon terus mendekati titik kritis. Laut menelan pulau-pulau kecil. Banjir, kekeringan, dan kebakaran menyebar seperti berita duka yang tak berhenti. Mutirão sejatinya lahir saat sebuah komunitas sadar bahwa tidak ada lagi waktu. Seperti sawah yang harus dipanen hari itu juga atau rumah yang harus selesai sebelum badai datang. Dunia kini berada persis di titik itu. Yang kurang hanya satu: kerja bersama, bukan pidato.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *