Peluang Pertumbuhan Segmen Pikap 4×4 di Industri Otomotif Nasional
Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Kukuh Kumara, menyatakan bahwa industri otomotif dan manufaktur dalam negeri memiliki kemampuan untuk mengembangkan kendaraan komersial jenis pikap dengan sistem penggerak 4×4. Menurutnya, meskipun kendaraan ini termasuk kebutuhan khusus dan umumnya berada pada segmen menengah ke atas seperti double cabin, potensi pengembangannya tetap ada.
“Ya bisa, sangat bisa. Secara keseluruhan, untuk ukuran-ukuran seperti itu, 4×4 adalah kebutuhan khusus. Tapi ujung-ujungnya soal volume dan semuanya bicara bisnis,” jelas Kukuh saat dihubungi.
Saat ini, kendaraan pikap dengan kelas Gross Vehicle Weight (GVW) kurang dari 5 ton di Indonesia sebagian besar menggunakan sistem penggerak 4×2. Mereka sering menjadi pilihan utama untuk kebutuhan logistik, baik untuk barang swalayan maupun kurir. Kukuh menekankan bahwa model produksi lokal sangat penting dalam memenuhi permintaan pasar.
Data Gaikindo menunjukkan bahwa kendaraan komersial GVW di bawah 5 ton yang terdiri dari pikap ringan atau double cabin belum ada yang menggunakan penggerak 4×4. Meski demikian, ia yakin segmen ini bisa tumbuh secara organik jika dimulai oleh pemain yang sudah memiliki produksi lokal.
Pada tahun 2025, segmen ini telah menyumbang angka penjualan wholesales (distribusi dari pabrik ke diler) sebanyak 107.008 unit. Daihatsu Gran Max menjadi pemimpin dengan penjualan sebesar 40.761 unit, disusul Suzuki Carry dengan 29.289 unit dan Mitsubishi L300 sebanyak 12.410 unit. Isuzu Traga mencatatkan 11.279 unit, Toyota Hilux Rangga sebanyak 6.408 unit, serta Mitsubishi Triton dengan 2.772 unit. Sementara Wuling Formo, DFSK Super Cab, dan Isuzu D-Max masing-masing mencapai 851, 639, dan 110 unit. Hanya sedikit yang berasal dari impor, sementara sebagian besar diproduksi di dalam negeri.
Dalam hal penjualan retail (dari diler ke konsumen), angkanya mencapai 110.574 unit dengan kontribusi sebesar 13,3 persen. Angka ini meningkat dibanding tahun sebelumnya, yang mencapai 103.893 unit dengan pangsa pasar 11,7 persen.
Secara umum, optimasi produksi hampir mendekati 70 persen dari total kapasitas terpasang sebesar 2,35 juta unit per tahun. Untuk segmen kendaraan niaga, utilisasi pabrik berada di kisaran setengah kapasitas produksi. Kukuh menjelaskan bahwa kapasitas, fasilitas, dan ekosistem industri masih cukup kuat. Bahkan, ada pelaku baru yang sedang membangun pabrik.
“Jadi kapasitas kita masih cukup. Ada komponen-komponen yang tersedia, satu mobil bisa sampai lebih dari 20 ribu komponen. Semua itu ada di sini,” tambahnya.
Di sisi lain, serapan kendaraan komersial buatan dalam negeri memberikan kontribusi besar terhadap aktivitas ekonomi, terutama di sektor distribusi dan logistik. Selain proses penjualan, mobil tersebut juga turut menggerakkan sektor lapangan kerja. Penggunaan mobil untuk distribusi dan logistik sangat luas, serta memerlukan jaringan dan layanan purna jual yang memadai.
“Kemudian penggunaannya dipakai untuk distribusi dan logistik itu kan banyak. Dan beli mobil itu enggak jual putus, perlu jaringan, kemudian purna jual, dari situ industrinya hidup,” pungkas Kukuh.
Tinggalkan Balasan